Salah Waktu Memulai Bisnis?


Salah Waktu Memulai Bisnis? Bahasan yang berat kayaknya, padahal ga punya bisnis yang gimana-gimana. Pernah beberapa kali mencoba berbinis berjualan, mulai dari barang hasil olahan saudara, baju batik dll. Berhubung tidak di kelola dengan baik dan ngelakoninnya masih setengah-setangah, akhirnya ya ga berputar, cuma balik modal doang, kemudian khatam.

Nah, hal tersebut juga di alami sama junior :mrgreen: .

Di sekolah sebelumnya, kan dia sudah sering membisniskan camilan yang dibawa dari rumah ke beberapa temannya, kalau lagi ada mau *demi mewujudkan keinginan membeli sesuatu*.

Dua tahun di sekolah yang sekarang, malah ga terlihat gelagat mau berjualan tersebut. Malah tau istilah,”sepatu, tas, baju buluk” segala. Padahal semua barang-barang yang dipunya itu masih sangat bagus. Maunya minta di beliin yang baru.

Biasanya kalau sudah seperti itu, saya minta dia menabung dulu, secara belum waktunya untuk menggantinya dengan yang baru, mubazir, ntar keburu sempit.

Kalau sudah dibuat kesepakatan seperti itu, kreativitasnya untuk jual-jual sesuatu langsung muncul. Emaknya ntar tinggal di minta untuk nambahin *lebih banyak nomboknya sih*.

Dua tahun itu, ga muncul ide seperti itu sama sekali. Ternyata ini pengaruh dari teman-teman sekelas. Semua pada tau barang-barang bagus, tapi langsung main minta aja sama orangtua.

Di kelas 5 ini mulai lagi membongkar-bongkar mainan lama, crazy bird *mainan dari kelas 2 SD*, ternyata musim lagi. Secara dulu tinggal di Kotamdya, dia punya stok mainan yang teman-temannya disini ga punya. Mulai lagi lah dia jual tuh mainan ke teman main. Biar dia punya lawan main, tapi mainannya ga di pinjam terus ❤ . Bawa ke sekolah, di jual juga, stok mainan lamanya habis. *Emaknya senang, udah lebih jagolah dari emak waktu seumuran itu*.

Mainan Crazy bird yang sudah di tempel CD bekas.

Mainan Crazy bird yang sudah di tempel CD bekas.

Beberapa hari kemudian, sibuk lagi bongkar-bongkar tempat stik PS, ijin ke emaknya untuk menjual salah satunya, dengan alasan, mau beli crazy bird sekotak buat di jual di sekolah *buat modal nih ceritanya*.

Emang mau kamu jual berapa?”, emak menyelidik.

50 ribu, ada teman ku yang mau bayarin“. *Ceritanya nyari pasar dulu, baru cari barang*

Dulu di beliin Papa kan sekitar 100 ribu, bukannya rugi tuh, emang ga di pake lagi? Ntar biasanya kamu malah minta stik PS baru nih?”.

Itu kan kalau beli baru, Ma. Ini stik sudah lama aku pakai dan colokannya juga udah sedikit karatan. Enggak, ntar aku kalau mau beli stik baru, dari hasil jualan crazy bird deh“.

Ijin sama Papa kalau gitu“.

Besoknya pulang sekolah langsung beli mainan crazy bird sekotak, seharga 25 ribu, isi 30 buah. Di bongkar, di tempel-tempel hingga berbentuk mainan siap pakai. Kemudian sibuk mencari CD yang tak terpakai, gunting-gunting dan tempelkan crazy birdnya di situ, *biar kalau di mainkan lebih kuat*, harga jual juga menjadi 2x lipat.

Persiapan jualan beres. Bawa ke sekolah, pulang bawa uang 8 ribu, di pakai buat jajan di sekolah 3 ribu. Hari berikutnya laporan ke emak, permainan di sekolah sudah ga crazy bird lagi, tapi main kartu.

Trus gimana? mau jualan kartu juga?”.
Enggak ah, kartunya ga asyik, aku ga suka. Crazy bird-nya ku simpan dulu aja“.

Sepertinya dia agak sedikit merasa kurang cepat saat memulai crazy bird sebelumnya *gak apa-apa namanya juga belajar, nak. Emak mu aja masih suka seperti itu 😆 *.

Sabtu kemaren saat ke mal, malah minta di beliin stik PS, alasannya stik yang ada kurang enak buat di pakai main, dan crazy birdnya ga jadi terjual habis. Kalau ceritanya seperti ini, dompet emak yang mengalami rugi besar nih 😀 .

Bagaimana dengan mu sobat? Pernah mengalami seperti yang di alami junior juga dalam mencoba peruntungan sebuah bisnis?

Iklan