[Catatan Belajar di Majelis Ilmu] : Menjadikan Hidup Bermakna


Mencatatkan kembali apa yang di dengar saat menghadiri mejelis ilmu di sekitar tempat tinggal. Tema kali ini menarik juga untuk dicatatkan, agar lain waktu bisa dibaca-baca lagi.

Tema lainnya yang menurut saya menarik : [Catatan Belajar di Majelis Ilmu] : Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat Dengan Menuntut Ilmu.

Di kehidupan saat ini, kita sering merasa hampa atau galau. Padahal, semua nikmat dunia sudah kita miliki, sudah punya rumah untuk tempat berteduh, sudah punya kendaraan untuk mempercepat mobilitas, sudah mempunyai pendamping hidup yang mencintai dan juga anak-anak yang menggemaskan.

Majelis Ilmu Hidup Bermakna

Buah Murbei yang jatuh ke jalan, masih punya makna kehidupan untuk burung-burung. Kita ❓

Akan tetapi, jauh di dasar hati, masih terasa ada yang kurang. Kemudian kita mencari untuk mengisi ke kosongan itu. Ada yang mengira kekosongan itu bisa diisi dengan mendatangi tempat hiburan, mencoba makanan yang sebelumnya belum pernah dicoba. Menjalani gaya hidup yang berbeda.

Cilakanya, hati bukannya semakin damai, tetapi semakin resah dan gelisah.

Ternyata, kekosongan yang tidak tau obatnya itu sebuah pertanda bahwa sesungguhnya bahwa Allah sedang jauh dari kita. Phiuf,, *elap keringat saat dengar ini #enyahlah kau galau*. Walau semua kebutuhan dunia terpenuhi, yang kita anggap sebagai bagian dari nikmatnya.

Karena sesungguhnya, tanda kedekatan Allah dengan kita adalah rasa syukur atas setiap helaan dan hembusan nafas yang kita lakukan, terlepas dari bagaimana kondisi nikmat dunia kita, dari kacamata manusia.

Hidup yang penuh kekosongan hati dan jiwa itu menunjukkan hidup belumlah bermakna. Jika hidup belum bermakna, itu sama dengan menjalani hidup seperti hewan yang menjalani kehidupannya. Duh! *saklak amat*

Kok bisa kehidupan manusia diperbandingkan dengan kehidupan hewan?

Karena sebagai sesama ciptaan Allah yang bernyawa, manusia dan hewan sama-sama memiliki potensi kehidupan, yang disebut dengan : Hajatul ‘Adawiyah (kebutuhan dasar hidup manusia dan hewan, lebih kepada kebutuhan jasmani, makan, minum, dst) dan Hajatul Gharizah (kebutuhan naluri/insting), yang juga dimiliki oleh hewan.

Kebutuhan Naluri (Hajatul Gharizah) itu sendiri masih dibedakan lagi kedalam tiga bagian:

  • Gharizah Tadayyun : Naluri untuk dekat dengan Allah atau naluri beragama.
  • Gharizah Baqa : Naluri untuk mempertahankan diri, keinginan untuk diakui. Jika naluri ini tersakiti, apresiasi dari makhluk adalah marah.
    Marah itu sendiri tidak dilarang, tapi marah yang membawa kebaikan, bukan marah pada hal-hal yang tidak perlu.
  • Gharizah Nau’ : Naluri kasih sayang, mencintai anak, istri-suami atau pasangan termasuk kedalam naluri ini. Begitu juga keinginan untuk mempertahankan keturunan

Potensi kehidupan yang diberikan Allah untuk membedakan antara manusia dan hewan adalah potensi akal pikiran. Manusia diberi akal atau daya pikir, itu untuk memahami sesuatu. Manusia diminta untuk berpikir dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hidup manusia itu bukan hanya untuk makan. Tapi fungsi makan hanya untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Selebihnya, manusia harus memenuhi janji penciptaannya yaitu untuk beriman dan bertaqwa kepada Penciptanya. QS: adz-Dzariyat 56 : β€œDan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”

Manusia menjadikan hidup bermakna harus rajin berbenah diri dengan selalu instropeksi diri. Setidaknya merenung sebelum mengakhiri hari dengan istirahat malam:

  • Kebaikan apa yang sudah dilakukan sepanjang hari ini.
  • Keburukan apa yang sudah diperbuat pada hari ini.

Hisablah diri masing-masing sebelum datang Yaumul Hisab. Mari berkaca dan berbenah diri 😳 . Jikalau sudah terlanjur di kehidupan yang jauh dari janji penciptaan, kembali dan bertaubat. Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih.

Iklan