Berpikir Pendek Untuk Sebuah Kematian?


Berpikir pendek saat menghadapi masalah hidup, ternyata bisa menyinggahi pikiran siapa saja, tak peduli status sosial yang dimilikinya. Yang membedakan hanyalah rasa syukur atas semua anugerah yang sudah dimiliki, bukan kekecewaan atas apa yang belum di punyai.

Minggu sore kemaren, saat sepedaan, saya dikejutkan oleh suara gebrakan dan teriakan kencang suara laki-laki dari sebuah rumah, selintas yang saya tangkap dari teriakannya itu dia merasa dibohongi. Tapi suasana sekitar sepi-sepi aja. Saya pulang.

Setelah Isya, saya kembali dikagetkan oleh informasi satpam yang hilir-hilir mudik, katanya ada warga yang mencoba mau menyudahi hidupnya dengan menenggak pembersih lantai, sedang muntah-muntah. Betapa kagetnya, ternyata warga yang memilih menyudahi hidupnya itu adalah penghuni rumah yang sorenya saya dengar teriakannya.

Berpikir Kematian

Yang lebih mengejutkannya lagi, itu bapak baru saja selesai melaksanakan kewajibannya sebagai hamba-Nya di tempat ibadah. Yang membuat bingung lagi, dirumahnya itu ada anggota keluarganya lengkap, istri, anak dan saudaranya yang lain. Tapi memang sih, penghuni rumah itu tertutup, bahkan menurut informasi RT setempat, dia tidak mau menyerahkan copy identitas sebagai bukti lapor. Lebih tepanya, ga mau melaporka keberadaannya pada RT setempat.

Tetangga, taunya, beliau yang baru beberapa bulan ngontrak di rumah itu, hanya tinggal berdua dengan salah satu anak lelakinya yang berusia 6 tahunan. Pas kejadian tersebut, tetangga baru ngeh. kalau istri dan anak-anaknya yang lain, yang sudah remaja juga sudah tinggal disitu. Oiya, apa alasannya si bapak dibalik dia mengambil keputusan percobaan mengakhiri, saya tidak tau.

Tapi, dari apa yang saya lihat dari luar, di carpot rumah yang ditempatinya, terparkir mobil keluaran terbaru yang berharga tak kurang dari 500jt, anak yang ikut dengannya selama ini adalah anak dengan wajah diatas rata-rata yang tak kalah dengan wajah-wajah blasteran lainnya yang menghiasi layar kaca, anak yang pemberani, yang bersepeda ke sana kemari.

Cara berpikir pendek yang di ambil sibapak dalam mengatasi masalahnya, membuat saya jadi semakin merenung:

  • Bukan seberapa banyak harta dunia yang dimiliki, yang membuat tenang, tapi seberapa bisa, kita bersyukur atas semua yang sudah dimiliki, termasuk cobaan hidup.
  • Salah satu do’a yang memang harus terus dipanjatkan pada Sang Khalik adalah Semoga mendapatkan akhir yang baik saat ajal menjemput. Semoga Khuznul Khatimah.

Mana beberapa hari terakhir, saya mendapat kabar duka, berpulangnya orang-orang yang masih berusia muda, dengan berbagai alasan kematian yang menjemputnya. Ada yang baru terdeteksi penyakit jantung, ada yang sudah lumayan lama, ada yang karena mengalami kecelakaan pulang menghadiri resepsi pernikahan.

Malaikat maut tak pernah tau datangnya kapan. Kematian dan cara menemuinya benar-benar sebuah rahasia. Semakin terasa, bahwa bekal untuk pulang itu masih sangat sedikit. Tapi tak pantas juga kita mengundang kematian dengan cara berpikir pendek untuk menyudahi hidup saja setiap menemui masalah hidup.

Peristiwa si bapak di atas, juga membuat saya harus berdialog dengan junior. Karena dia juga ikut mendengar dan bertanya, kenapa si bapak memilih cara itu untuk mengakhiri hidupnya. Saya pun berusaha menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak usia 11 tahun, mulai dari apa yang dimiliki si bapak sampai akibat dari tindakannya itu.

Iya, kalau mati. Kalau ga, yang merasakan sakitnya, juga dirinya sendiri, sementara masalahnya bukannya berkurang, tapi malah bertambah. Kalau pun akhirnya mati, ia pun tetap dimintai pertanggung jawaban atas nafas yang sudah di percayakan Tuhan padanya. Apakah berpikir pendek seperti ini termasuk tanda akhir zaman? Mungkin.

Iklan