Penasaran Sama Warnet


Penasaran Sama Warnet dengan permainan game onlinenya, sempat sangat dirasakan junior. Walau di rumah sudah sering memainkan game online, tetap aja dia bilang di warnet itu main game sepertinya lebih seru. Duh!

Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu penasaran pada sesuatu yang baru dan berbeda dari biasanya. Apalagi bagi anak-anak ya.

Pertama tahu game online di warnet itu, sewaktu dia ikut latihan futsal. Tempat futsalnya juga menyediakan tempat main game online di lantai dua.

Main game pertama di warnet setelah latihan futsal, 2010.

Main game pertama di warnet setelah latihan futsal, 2010.

Awalnya dia dan teman-temannya yang masih kelas 1 SD tidak tahu. Tapi begitu nguping pembicaraan anak-anak SMP yang pada janjian untuk main game online bareng, setelah latihan futsal. Anak-anak kecil itupun pada merengek pada orangtua masing-masing minta diijinkan untuk mencobanya. Para orangtua sempat kebingungan.

Akhirnya dibuat perjanjian, boleh mencobanya sekali. Setelah sebelumnya diberi pengertian kalau tempat permainan itu sebenarnya bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Tetapi untuk mereka yang sudah ‘dewasa’ dan sudah bekerja. Mereka yang sudah dewasa itu mempergunakan waktu olah raga bersama teman-temannya juga sekalian untuk bermain game bersama. Karena di waktu lain orang dewasa itu pada sibuk kerja. Sementara anak-anak SMP yang ikutan main di situ, mungkin mereka sedang mencari tugas sekolahnya, sekalian main game *emak-emak ngasih alasan kurang pintar* πŸ˜₯ .

Alasan di atas berhasil untuk waktu itu. Tapi sebelumnya orangtua minta tolong penjaga warnet untuk bilang kepada anak-anak tersebut, kalau warnet itu bukan tempat bermain game anak-anak. Penjaga warnet setuju aja, karena itu anak-anak latihan futsal rutin 2X seminggu disitu *emak-emak pinter* :mrgreen: .

Eh, sekarang, beberapa tahun setelah rasa penasaran sama warnet. Dekat rumah, ada yang buka usaha warnet untuk main game online, hiks.

Emak perlu siap-siap muter otak, kalau anaknya terpengaruh teman dan tiba-tiba meminta ijin main ke warnet tersebut.

Benar saja, tak berapa lama si junior mulai merayu emaknya untuk diberi ijin main game di warnet. Karena sekarang sudah kelas 5 SD, jadi emak bisa ceramah panjang :

Itu sama aja dengan kamu memainkan game yang lain di rumah. Warnet itu sebuah tempat usaha, jualan. Jadi yang punya usaha akan menarik pengunjung sebanyak-banyaknya untuk datang. Nah anak-anak seperti kamu ini yang mudah terpengaruh. Kan mending uangnya dipergunakan untuk beli jajan kesukaan, kenyang. Main game kan udah di rumah, ngapain harus bayar lagi“.

Awalnya alasan yang diberikan emak itu bisa di terimanya. Tapi pengaruh dan godaan teman-teman, ternyata masih susah di tolak sama anak-anak. Rasa penasarannya bisa melupakan nasehat orangtuanya.

Pengaruh lingkaran pertemanan dan pergaulan, berpengaruh besar terhadap anak.

Dia mulai meminta ijin lagi sama emaknya *untung masih ingat untuk tetap minta ijin*. Mulai dari merayu untuk ijin melihat temannya yang main game. Kemudian ijin uang jajannya mau dipakai untuk main game di warnet, satu jam aja. Alasannya, kata teman-temannya main game di warnet itu lebih seru.

Setelah melalui negosiasi alot, emaknya mengijinkan asal di hari libur tapi tak boleh lebih dari satu jam.

Entah karena penasaran, entah karena kreatif *emaknya ngasih ijin cuma sebentar*. Dia main game online di warnet tersebut hanya di awal aja.

Ke warnet berikutnya dengan membawa flash disk. Ternyata dia mendownload beberapa game yang ada di warnet itu, kemudian di install di laptop tempat dia main game *itu laptop kalau bisa bersuara, mungkin udah marah kali, di instal dan aninstal game melulu*. Ada yang tidak berhasil, tapi ada yang berhasil juga.

Setelah ada yang bisa, dan dia memainkannya di rumah. Ujungnya, bosan juga. Sekali lagi, ternyata hanya rasa penasaran.

Sekarang malah dia bisa ngoceh sok bijak, “Itu anak-anak yang main game di warnet sampai tiga jam dan setiap hari, memangnya tak bosan ya? gamenya kan cuma begitu-begitu aja. Kan sayang uangnya, mending di tabung buat beli mainan” *ujungnya tetap ga enak πŸ˜› *

Rasa penasaran anak-anak seperti ini, yang di pengaruhi teman, lingkungan. Kalau tidak dibiasakan terbuka berbicara dengan orangtua. Mereka akan main kucing-kucingan. Kalau penasaran pada kegiatan positif tidak masalah. Tapi kalau pada hal-hal negatif, itu kan berbahaya *catatan buat di ingat emak nih*.

Semoga anak-anak nantinya tetap ingat, apa yang mereka perbuat, ikuti, tiru, efek utamanya mereka sendiri yang akan merasakannya. Mudah-mudahan bisa memilah mana yang baik dan tidak untuk diikuti dari rasa penasaran itu.

Iklan