Menolong Si Pipit Cantik


Menolong Si Pipit Cantik yang tanpa sengaja tercebur ke dalam got, dilakukan junior pada Minggu sore kemarin. Tetapi sayang, Senin pagi si burung pipit tetap tak tertolong dan harus beristirahat dengan tenang.

Si junior merasa kehilangan, secara sudah berhasil membuat si pipit mencicit dan terbang, di sangkar bekas hamster yang sudah di sulap senyaman mungkin untuk si pipit.

Burung Pipit

***
Minggu sore dengan tergopoh-gopoh junior masuk rumah, minta kantong kresek sama emaknya,”untuk menangkap burung yang ke cebur got“.

Kenapa ga diambil langsung aja pakai tangan?“.

Enggak, ntar burungnya yang kedinginan gigit aku, aku bisa kaget. Biar burungnya lompat masuk kantong kresek aja“. Si junior bergegas keluar rumah lagi.

Begitu balik lagi, emak di perlihatkan seekor burung pipit yang sudah kuyup semua badannya. Burung yang sudah lemas itu kemudian kita keringkan dengan tisu dan menyelimutinya dengan kain.

Junior sibuk menyiapkan bekas kandang hamster yang sudah pada kabur. Di isi ranting dan daun, di siapkan minum dan tempat makan. Kandang sudah di sulap senyaman mungkin untuk si burung pipit.

Setelah si pipit kita lihat bulu-bulunya sudah kering dan setelah di periksa tak ada badannya yang terluka. Si pipit yang sudah mulai mengepakkan sayapnya itu di masukkan ke kandang. Si pipit langsung bertengger di dahan daun yang sudah di siapkan. Suara cicitnya sudah mulai terdengar.

Menjelang magrib, teman-temannya nyamperin junior mau berangkat bareng ke masjid. Mereka pada heboh melihat si pipit. “Burungnya cantik dan imut ya, kok dia bisa jatuh ke got ya?”.

Ada yang ngejar-ngejar dia kali“, anak yang lain bersuara, memberikan sebuah kemungkinan.

Ntar kalau sudah kuat baru kita lepaskan. Tapi kira-kira keluarganya pada nyariin ga ya?”. Junior dan kawan-kawannya sibuk membahas nasib si burung pipit yang terdampar di got dan sempat di selamatkan itu.

Setelah si pipit di taroh di tempat yang di anggap aman. Junior dan kawan-kawan berangkat ke masjid. Pulang Isya mereka masih sempat ngintip kondisi si pipit.

***
Senin paginya, emak yang sedang menyiapkan sarapan dan bekal sekolah, di kejutkan oleh suara junior, yang begitu bangun tidur langsung lompat ngelihat si pipit.

Mam, burungnya diam aja. Ya, burungnya mati deh. Kok bisa mati ya? Mungkin badannya masih kedinginan. Harusnya naroknya di tempat yang hangat lagi. Ini di apain, Ma. Masih bisa bergerak lagi ga ya?”. Si junior bingung sendiri dan agak merasa bersalah.

Kan sudah di rawat, burungnya juga sudah bersuara, bisa hinggap di dahan dengan baik. Berarti burungnya memang sudah waktunya di panggil sama malaikat maut. Sekarang burungnya di kubur aja dengan baik“.

Merasa tidak membuat ke salahan yang membuat si pipit tidak bisa tertolong dan selamat. Kemudian si junior menggali tanah di halaman dan menguburkan si pipit, di beri tanda dengan batu.

***
Burung pipit termasuk jenis burung kecil pemakan biji-bijian. Biasanya hidup bergerombol dan termasuk salah satu ‘musuh’ para petani. Saat padi mulai menguning, rombongan burung ini tidak di harapkan kedatangannya oleh para petani.

Tapi lain cerita bagi anak-anak, si pipit tetap lah burung yang cantik dan imut. Walau sempat di kagumi hanya beberapa jam, tetapi tetap meninggalkan rasa ke hilangan.

Sesuatu yang sempat menyentuh hati saat berinteraksi, memiliki rasa terikat pada salah satu, atau ke duanya. Saat yang satunya harus berlalu dari kehidupan, akan terasa ada yang hilang. Ada ruang kosong yang perlu di isi dengan pengertian, bahwa semua yang ada di dunia fana ini hanyalah sebuah titipan.

Iklan

33 comments

  1. Junior rasa kepeduliannya ‘sangat tinggi ya … dari dialog2 diatas terasa ‘budi pekertinya menyentuh hati kita yg dalam. Alhamdulillah …

  2. Menolong seekor burung yang sedang sekarat bukan dengan kita mengobati atau memberinya makan. Itu percuma karena dia juga akan mati pelan-pelan. Cara paling cepat adalah mempercepat kematiannya agar tidak mati pelan-pelan, itu kasihan sekali.

    Sembelih atau pukul pakai palu kepalanya. Dah mati, nggak kasihan lagi melihat dia sekarat dan kejet-kejet lama.

    Ini pengalaman pribadiku, sudah beberapa kali menyelamatkan burung itu malah selalu mati. Nggak tau kenapa walau sudah dikasih makan, sudah dirawat dengan baik tetapi endingnya selalu dia sekarat dan mati pelan-pelan.

    • Waduh Om, ga tega melakukan itu Om, gimana menjelaskan ke anaknya, bisa di bilang emaknya kejam sama anaknya nanti. Yang penting sudah di beri pertolongan maksimal yang bisa di lakukan, kalaupun si pipit mati juga, dia sudah dalam suasana nyaman dan hangat menurut penglihatan manusia yang menolongnya.

  3. Tidak semua manusia “mampu” peka terhadap mahkluk Allah yg lain di alam ini. Jika itu terjadi pada si junior, Alhamdulillah πŸ™‚ Didikan ibunya beneran hebat ^^

    • Sepertinya pengaruh ibunya cuma sedikit Vin,
      lebih besar pengaruh tontonan sepertinya *dari dulu suka nonton yg berbau kehidupan alam*
      emaknya malah suka wanti-wanti, kalau binatang berbisa, yang bisa megang tetap ahlinya πŸ™‚

  4. Baca komentarnya mas ahsanfile di atas ada benernya juga ya mbak, tapi ngga tega juga.. kalau di manusia ada juga ya yang seperti itu, yang suntik mati itu… lupa nama medisnya apa, yang jadi kontroversi itu πŸ™‚

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.