Menjaga Tanah Lingkungan, Demi Air Dan Kehidupan, Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat


Menjaga Tanah Lingkungan, Demi Air Dan Kehidupan, Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat, seharusnya sudah menjadi tanggung jawab dari masing-masing individu.

Mulai dari lingkungan terkecil, tempat tinggal kita, menjadi kebiasaan di lingkup RT, RW, Kelurahan, terus menjalar menjadi sebuah gaya hidup di seluruh Indonesia. Akhirnya bisa bersahabat dengan alam, di bumi manapun kita menginjakkan kaki.

Apa Manfaat Menjaga Tanah Lingkungan Tempat Tinggal?

Supaya air tanah tidak tercemar oleh limbah rumah tangga. Air tanah masing-masing rumah tetap layak di gunakan untuk mandi, cuci dan kebutuhan bersih-bersih lainnya. Kalau bisa, juga layak konsumsi, setelah dimasak tentunya.

Bahu Jalan daripada hanya rumput. Ditanam Jambu, Jarak, Srikaya dll :)

Tanah di bahu jalan depan rumah, daripada hanya rumput. Ditanam Jambu, Jarak, Srikaya dll πŸ™‚

Sekarang ini air tanah ada yang membuat gatal kulit kalau dipergunakan untuk mandi. Pakaian bukannya bersih tapi malah kuning, begitu juga dengan kamar mandi yang kelihatan dekil oleh kerak karena tingginya kadar besi dan timba dalam air tanah. Air kelihatan bening, tetapi berbau. Ini salah satu air tak layak konsumsi.

Bagaimana Menjaga Tanah Lingkungan Tempat Tinggal Kita?

– Limbah rumah tangga usahakan seminimal mungkin. Gunakan pembersih kamar mandi dan yang lain-lainnya, yang ramah lingkungan.

– Buat resapan septik tank sesuai standar ramah lingkungan, dengan memberi lapisan diantaranya: batuan, pasir dan ijuk. Sehingga kotoran yang sampai ke tanah sudah melalui proses beberapa penyaringan.

– Perbanyaklah menanam pohon yang bermanfaat di sekitar rumah. Akarnya bisa menyimpan air tanah, buahnya bisa di konsumsi, udara di sekitar rumah juga menjadi sejuk dan segar. Udara yang sejuk dan bersih membuat kita tak begitu tergantung dengan AC. Jadi bisa hemat listrik dan pengeluaran juga *khas emak-emak banget, hemat menghemat* πŸ™‚ .

***

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang diapit oleh dua buah sungai, sungai Batang Bayang dan Sungai Bayang Sani di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Kedua sungai itu dipergunakan sebagai sumber irigasi utama untuk sawah penduduk. Selain itu juga di fungsikan sebagai tempat MCK (mandi, cuci, kakus). Juga sumber air untuk konsumsi bagi mereka yang belum punya sumur, tetapi malas minta ke tetangga. Hemat waktu juga, sekalian melakukan kegiatan MCK, sekalian mengambil air buat kebutuhan lain.

Sekitar Tahun 1980-an, saat ada program ABRI masuk desa, sebagian aliran sungai Bayang Sani dibuatkan penampungan, kemudian dialirkan melalui pipa-pipa ke rumah penduduk. Penduduk mengenal air ledeng masuk rumah. Nikmat air berlimpah semakin di rasakan.

Beberapa tahu kemudian sungai Bayang Sani ini sudah di kembangkan menjadi sumber PDAM kecamatan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih beberapa desa. Warga kampung yang rumahnya berada di lokasi agak tinggi mulai merasakan dampaknya. Air ledeng yang biasanya mengocor lancar, mulai tersendat-sendat, debit airnya berkurang. Lha iyalah, pemanfaatan air sungainya ditambah, tetapi hutan di hulu sungainya semakin berkurang.

Walaupun kampung mempunyai sungai besar-besar. Semenjak kecil saya belum pernah mendengar banjir yang begitu heboh.

Tetapi beberapa tahun belakangan ini. Setiap musim penghujan selalu mendengar kabar banjir. Sungai Batang Bayang meluap, dan menghanyutkan rumah penduduk. Itu sudah bukan berita aneh lagi.

Bahkan di tahun 2011 Banjir terparah di kabupaten Pesisir Selatan membuat lumpuh jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Sumatera Barat – Bengkulu viaPesisir Selatan. Penyebabnya meluapnya beberapa sungai salah satunya Batang Bayang http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Pesisir_Selatan_2011 .

Banjir di sebabkan oleh maraknya pembalakan liar di hutan-hutan yang menjadi hulu sungai-sungai tersebut. Resapan air berkurang drastis.
Daerah Aliran Sungai (DAS) juga semakin menyusut, semakin banyak pemukinan penduduk yang dibangun di situ. Kalau sudah banjir, kehidupan akan jauh dari kata sehat kan.

Begitu hijrah ke Jakarta sekitar 18 tahun lalu, saya langsung merasakan ‘mahal’ atau pentingnya menjaga air tanah di sekitar tempat tinggal. Kondisi kali-kali yang berwarna hitam, minimal keruh menjadi pemandangan sehari-hari.

Setiap minum, bukannya hilang dahaga, tetapi tenggorokan sepertinya langsung berasa seret dengan sendirinya. Yang terbayang, sumber air yang diminum itu yang sudah tercemar.

Sebagai anak rantau, menjaga kesehatan itu prioritas utama, siapa yang akan merawat kalau sakit. Belum lagi biayanya, walau ditanggung asuransi perusahaan, sehat itu tetap keharusan mutlak.

Demi kesehatan dan mengejar kepraktisan. Untuk konsumsi air sehari-hari, saya memilih air mineral yang sudah berpengalaman, yaitu Aqua. Waktu itu yang menjadi dasar pilihan adalah yang menjadi penggagas pertama air mineral kemasan di Indonesia, dan berkembang pesat, tentulah yang berpengalaman dan dapat dipercaya.

Bahkan kebiasaan saya mengkonsumsi air mineral Aqua ini terbawa ke keluarga kecil. Kami sekeluarga (3 orang) menghabiskan minimal 10 galon Aqua isi 19 liter dalam satu bulan.

Minimal 10 galon/bulan.

Minimal 10 galon/bulan.

Bahkan saat jalan-jalan wisata alam yang mempunyai air yang sangat bening dan segar. Aqua tetap menjadi pilihan minuman air kemasan yang kami percaya.

Ternyata kepercayaan itu membuat kita bisa setia pada satu produk dalam hitungan puluhan tahun ya πŸ™‚ .

Saat Wisata alam curug, Aqua tetap jadi pilihan.

Saat Wisata alam curug, Aqua tetap jadi pilihan.

Sekarang dengan menjamurnya informasi online, ternyata pilihan saya yang tak berdasarkan pilihan ilmiah itu, sangatlah tepat.

Dari web resminya aqua lestari di ketahui bahwa :

Praktik tanggung jawab sosial perusahaan AQUA Group berakar pada pemikiran pemimpin DANONE, Antoine Riboud, tentang komitmen ganda perusahaan.

Komitmen ganda merupakan cara menjalankan bisnis yang mengedepankan keseimbangan antara keberhasilan ekonomi dan kemajuan sosial. Pemikiran tersebut sejalan dengan pemikiran pendiri AQUA, Tirto Utomo, yang berprinsip bahwa bisnis harus berkontribusi sosial pada masyarakat.

Kedua pemikiran tersebut diaktualisasikan dalam AQUA Lestari yang dikembangkan sejak tahun 2006 sebagai payung inisistif keberlanjutan dengan menggunakan DANONE WAY dan ISO 26000 sebagai referensi.

AQUA Lestari direalisasikan dengan melaksanakan berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang mencakup wilayah sub- Daerah Aliran Sungai (DAS) secara terintegrasi dari wilayah hulu, tengah, dan hilir di lokasi AQUA Group beroperasi yang disesuaikan dengan konteks lokal.

Berbagai inisiatif tersebut berada di bawah empat pilar, yaitu: Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk, serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

product_landing Aqua

Berbagai Product Aqua.

***
Berkaca dari kehidupan masa kecil yang tak pernah kekurangan air bersih, bahkan berlimpah, dan air tanah yang layak konsumsi. Saya berketetapan untuk mempunyai minimal satu pokok tanaman keras di halaman rumah, sekecil apapun halaman rumah yang saya miliki.

Dulu halaman rumah mungil, saya tanami belimbing yang tak berhenti berbuah, Mahkota Dewa, tanaman Kembang Sepatu dan juga tanaman Daun Mangkokan. Semua tanaman yang ditanam itu bisa saya ambil manfaat langsung, mulai dari buah, daun dan bunga. Padahal tanahnya itu tak lebih dari 2mX2,5m.

Manfaat lain yang saya dan keluarga rasakan dengan menanam pohon di depan rumah adalah saat musim kemarau. Keluarga saya tak pernah kekurangan air tanah dari pompa sederhana yang ada.

Tetangga yang lebih memilih menutup halamannya dengan semen, mengeluh kan air dari pompa air di rumahnya sangat kecil. Efeknya : untuk memenuhi kebutuhan air harian (buat mandi, kakus, cuci-cuci dkk), pompa hidup lebih lama dari biasanya, tagihan listrik ikut membengkak. Pompa jadi mudah panas dan sering ngadat, karena dipaksa mencari air tanah yang sudah kosong.

Padahal kalau kita sedikit bijak aja memperlakukan alam tempat kita tinggal, hal kecil tersebut takkan terjadi.

– Kalau hujan, takut tanah halaman becek dan tanahnya kemana-mana, bisa di ganti dengan memberi konblok atau menutupnya dengan rumput. Sehingga air hujan tetap bisa di serap tanah dengan baik.

– Malas membersihkan rumput liar yang tumbuh dan daun-daun yang berjatuhan dari pohon yang ditanam. Janganlah kau sedot air tanah tempat tinggalmu untuk kebutuhan bersih-bersihmu. Jangan mengeluh kalau tanah tak memberikan air seperti yang kau inginkan.

Kembalikanlah lagi ke alam, minimal sebesar apa yang kau ambil dari alam. Itu sebagaiΒ  tanda permisi dan bentuk terima kasihmu ke alam tempatmu berpijak.

Mari mulai menjaga tanah lingkungan, demi air dan kehidupan, untuk Indonesia yang lebih sehat. Mulai dari diri sendiri dan lingkup terkecil, kemudian tularkan ke sekelilingmu.

Artikel ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik AQUA kategori blogger.

628e24d0b6756573c6c7005ff002e71b_lomba-blog-aqua-aja

Iklan