“Permisi”


“Permisi”, suara seorang laki-laki terdengar di luar pagar yang setengah terbuka, diikuti langkah kakinya menuju teras rumah.

“Ya”, saya terlonjak kaget dari layar notebook. Ini orang kok main terobos aja. Langsung lari ke kamar, menyambar kerudung dan terburu-buru memasang celana panjang untuk menutupi celana selutut yang sedang saya pakai*resiko masih suka menggunakan kaos oblong dan bercelana selutut ketika di dalam rumah*.

Ketukan di teralis pintu terdengar, diikuti suara permisi dari laki-laki yang berkesan tak sabar. Agak sedikit ngedumel saya menuju pintu,”ini orang kok ga sabaran amat sih”.

Begitu melongok, saya melihat sepasang anak muda berdiri di situ. Wajah penuh semangat, bahasa tubuh tak sabaran, dengan seragam baru yang langsung memberitahukan tujuan kedatangan mereka.

Saya pernah kena sama modus yang seperti ini, kalau di persilahkan masuk ke dapur. Yang laki akan memberitahu regulator gasnya harus segera diganti danΒ  dengan setengah memaksa harus beli ke dia. Yang perempuan memanfaatkan waktunya dengan berdirinya geser sana-sini, matanya jelajatan menjelajahi setiap sudut rumah. Padahal tak ada apapun yang berharga di dalam rumah, kecuali orang-orang yang tinggal di dalamnya, bagi orang yang menyayanginya πŸ˜‰ .

Saya melempar senyum dengan posisi dan bahasa tubuh tidak membolehkan mereka melangkah lebih dari itu. Mulut saya baru mau bergerak menyapa, yang laki-laki sudah langsung nyerocos.

“Mbak saya mau ketemu ibu, kami perlu ke dalam, mencek tabung gas elpiji di rumah ini, untuk mengambil data kadaluarsa tabungnya, hanya beberapa menit aja kok”. Yang perempuan juga semangat mengiyakan.

Hampir seperti foto diatas, 'seragam kebesaran' yang saya pakai saat itu.

Hampir seperti foto diatas, ‘seragam kebesaran’ yang saya pakai saat itu.

Kedua anak muda ini memberi kesan, saya harus menyingkir dari pintu itu dan segera memanggilkan ‘sosok ibu’ yang ingin mereka temui *entah seperti apa gambaran ‘sosok ibu’ yang punya rumah, dalam bayangan mereka*.

Saya kembali tersenyum penuh arti,”kenapa ceknya tidak ke depot-depot tempat elpiji itu di drop sebelum sampai ke konsumen,Β  bisa cek data kadaluarsa tabung, juga sekalian cek kelayakan tabung gas. Kalau ada yang bermasalah, bisa sekalian langsung ditarik”.

“Sudahlah, Mbak. Ijinkan aja kami masuk, daripada tabung gasnya kenapa-kenapa”, yang perempuan bersuara dengan nada memaksa juga.

“Ok, tunggu disini, saya aja yang mencatatkan datanya”, saya melangkah ke dapur.

“Emang ibunya pulang jam berapa sih, Mbak?”, si lelaki bersuara lagi dengan agak berteriak.

Entah mau ketawa, entah mau sedih, tapi cuma bisa geleng-geleng kepala.

Sebenarnya kalian itu di kejar target penjualan regulator elpiji berapa sih? Tanpa basa-basi mengejar orang dengan berondongan pernyataan. Belajar sedikit menganalisa orang yang mau kalian hadapi, sambil menarik nafas dulu, apa susahnya.

Saya ini kalian anggap anak yang punya rumah atau asisten rumah tanggakah?

Analisanya gimana? Ketika kita bertanya jawab tadi, wajah saya kan ada di depan mata kalian. Harusnya kalian melihat sudah ada kerutan di wajah itu. Kalau anggapannya asisten rumah tangga, kalian beranggapan kaos oblong dan celana jins belel itu seragamnya ART ya. Boleh aja sih,Β  kalau atasan kalian yang menggaji, gajinya pasti jauh lebih besar dari komisi kalian berdua :mrgreen: .

Kemudian saya memberikan data yang mereka minta. Bukannya berterima kasih. Yang laki malah berceloteh lagi dengan nada sedikit ketus,”Ibunya pulangnya jam berapa sih,Mbak. Kita nanti kesini lagi aja. Permisi”.

Saya hanya menatap punggung ke dua anak muda itu dengan senyum kecut. Kalian belum layak menemui konsumen kalau caranya seperti itu. Saya juga tidak pandai dalam hal marketing, tapi setidaknya saya tau etikanya.

Ada aturan tidak tertulis kalau bertamu/berkunjung ke rumah orang di perkotaan, di kawasan yang penduduknya sudah heterogen.

Kalau rumahnya berpagar, walau pintu pagar terbuka lebar, tapi belum kenal akrab sama yang punya rumah. Kita harus ‘”permisi” di depan pagar itu. Belum dipersilahkan masuk, jangan melangkah ke halaman dulu kalau tak mau dianggap lancang.

Perkiraan saya benar. Tak berapa lama saya mendengar RT blok lain menegur mereka. Rupanya si Pak RT memang keliling mencari mereka ini. Ada warganya yang melapor, ada yang mengaku petugas elpiji, yang main selonong aja mau masuk rumah.

***
Kasus diatas terjadi sekitar pukul 10.00 WIB tadi pagi.
Pukul 15.00WIB ada lagi suara “permisi” di luar pagar yang justru terbuka lebar, pintu rumah juga terbuka. Sepasang anak muda juga. Mereka tetap berdiri disitu.

Begitu wajah saya nongol di pintu, mereka mengangguk sopan,”Ma’af, Bu. Kami dari perusahaan gas elpiji, mau meminta waktu sebentar”.

Karena tidak sedang memerlukan regulator baru, dengan sangat menyesal saya menolak mereka. Tapi kedatangan mereka bukannya bikin kesel, malah jadi mendo’akan semoga mereka berdua bertemu konsumen yang baik.

Hmm, dua pasang anak muda dengan seragam yang sama, tapi dengan dua pribadi yang berbeda.

Iklan