Pembauran Dalam Sebuah Pertemuan


Pembauran Dalam Sebuah Pertemuan merupakan salah satu tujuan silaturrahim. Diawali dari saling melempar senyum, saling memberi salam, kemudian saling bertegur sapa, berlanjut saling bertukar kabar. Kemudian diharapkan menjadi sebuah hubungan pertemanan dan pergaulan baru.

Tetapi kebiasaan seperti itu kadang hanya masih sebatas teori belaka. Prakteknya masih jauh.

Seperti dilingkungan tempat saya tinggal *termasuk saya didalamnya 😳 . Kalau emak-emak ngumpul di acara arisan bulanan, pengajian, atau pertemuan RT. Emak-emak akan mencari tempat duduk itu di dekat tetangga yang sudah saling kenal dan sering ngobrol sehari-hari. Tujuan pertemuan diadakan untuk saling mengenal akhirnya tinggal sebatas konsep.

Duduk dalam pertemuan ga harus dalam kelompok 'seragam' yang sama.

Duduk dalam pertemuan ga harus dalam kelompok ‘seragam’ yang sama.

Kalaupun ‘terpaksa’ duduk disebelah yang belum kenal, emak-emak ini bisa juga saling ngobrol asyik, membahas anak dan ‘topik’ acara yang lagi dihadiri saat itu.

Besoknya kalau berpapasan di tempat lain, kadang bisa saling lempar senyum. Tapi seringnya, saling menunggu untuk ditegur duluan. Kalau tak ada yang memulai, bakal pura-pura ga ngelihat 😛 .

Kalau berhenti sampai disitu aja ga masalah, dan berpikir seperti kepada diri sendiri ‘gua lagi malas negur duluan, secara lagi ga pengen berbasa basi’. Mungkin saat itu emak-emak lagi banyak pikiran, salah duanya sedang memikirkan biaya sekolah anak, bagaimana menggunakan uang belanja dengan pintar agar cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Kalau diiringi dengan pikiran positif tersebut, di pertemuan berikutnya emak-emak tetap bisa berbaur dan obrolan tetap mengalir dengan aura positif.

Seringnya kalau mendapatkan situasi seperti itu, suka berlanjut dengan ngegosip sama tetangga yang lain, kalau kemaren papasan sama si anu, tapi ternyata dia sombong ya, ga mau negur, padahal kemaren udah ngobrol asyik *khas gosip emak-emak banget ya, padahal dia sendiri juga ga niat negur 😛 . Si emak yang diberi gosip, cerita lagi ke yang lain. Secara masih tinggal dilingkungan yang sama, gosip itu sampai juga ketelinga emak satunya.

Dijamin hubungan yang baru saling sapa itu ga bakal berlanjut akrab, sebatas basa basi. Hilang sudah tujuan silaturrahim dalam sebuah pertemuan.

Satu lagi, kalau emak-emak menghadiri ceramah, kan suka ikut ‘heboh’ dengan teman kiri kanan, belum lagi suara anak-anak yang riuh rendah tanpa pengawasan *emaknya juga sibuk ngobrol. Kalau diingatkan sama panitia untuk tenang, tujuan ke pertemuan itu untuk mendengarkan ceramah, bukan mau ngobrol sama teman duduk di sebelah. Emak-emak bakal langsung ngedumel membela diri,”penceramahnya monoton, gaya bicaranya kurang menarik, anak-anak aja ga terpikat apalagi kita-kita” *Nah lo.

*Sebuah catatan emak-emak biar membaur dalam sebuah pertemuan dan semakin tau tujuan setiap pertemuan yang dihadirinya 🙂

Iklan