PR Zaman SD


PR zaman SD lagi menghebohkan dunia blogger. Konon tujuannya untuk menjalin persahabatan dumay sembari mengingat nostalgia zamannya para blogger masih unyu 🙂 . Saya dapat estafetnya dari blogger manis Mila.

  •  Zaman SD; YSalma melewati di 5 Sekolah Dasar. Dengan 2 SD resmi yang tertulis di buku raport dan 3 SD lain yang hanya disinggahi kurang dari sebulan. Ada yang untuk kepentingan lomba, perwakilan dari SD yang terpilih, kemudian di godok dulu belajar di SD Kecamatan yang katanya mutunya lebih baik 😛 . Ada juga yang karena ingin mencoba suasana lain, ( ikut Bapak ke sekolahnya, dan belajar sebagai murid titipan 😀 ). 2 tahun pertama di lewati di SD Kampung. Kelas 3-4 pindah ke SD tetangga kampung, setiap pulang dan perginya harus melewati jembatan gantung di atas sungai yang sedikit agak berayun, seru. Kelas 5-tamat kembali ke SD di kampung.
  • Guru Favorit; semua guru di SD yang pernah saya singgahi untuk belajar menjadi guru favorit, secara teman ortunya . Tetapi ada yang paling diingat karena hubungannya lebih dari seorang guru dan murid, tetapi lebih kepada kakak dan adek. Ketika kembali ke SD kampung kelas 5, saya bertemu dengan Pak Admiral sebagai guru olah raga. Beliau ini guru baru yang berasal dari daerah Solok Selatan. Tinggal di salah satu rumah keluarga kami dengan di temani Inyiaknya. Inyiaknya sangat baik dan sayang sama saya dan kawan-kawan, ( punya tempat main tambahan ceritanya 😀 ). Pak Admiral kemudian menikah, istrinya ( Ni Lin, istri guru saya memanggil Uni/kakak saking dekatnya :mrgreen: ) di boyong juga ke kampung saya. Saya yang sudah SMP jadi “teman” istri beliau. Singkat cerita, beliau pindah mengajar ke sekolah lain. Tetapi anak pertama mereka, beliau beri nama Admi Salma ( gabungan nama depan  beliau dan nama belakang saya 😀 ). Dari beliau dan keluarga, saya mendapat pelajaran berharga hidup, hubungan baik dengan lingkungan dan orang-orang tempat kita tinggal, membuat kita selalu berada di kampung halaman. Makasih ya Pak dan Ni Lin.
  • Guru Killer; kebetulan saya ga bertemu, secara saya pindah-pindah SD, salah satu alasan pindah, menghindari guru yang “ditakuti” anak-anak karena disiplin dan tegasnya 😆 .
  • Teman Bolos; belum mengenal istilah bolos, kalau pulang sekolah langsung main dan nyemplung ke sungai, sering.
  • Teman Berantem; sepertinya ga ada yang perorangan. Pernah sudah kelas 6 berantem, karena di ejek ” nilai bagus, karena hanya anak guru, bla-bla “,. Di damaikan sama guru agama, saya menolak untuk “mema’afkan” teman tersebut, pada saat itu. Kata ibu gurunya di depan kelas, ” Hanya hati yang terbuat dari batu yang tidak mau mema’afkan“. Besoknya saya bermain lagi dengan teman tersebut. Tetapi justru kata-kata ibu guru agama yang tujuannya untuk menasehati itu yang teringat lama, dan efeknya kurang baik ( cara pandang saya terhadap seorang guru, jadi sedikit berubah untuk beberapa waktu ). Saya anggap sikap guru itu kurang bijak/tidak adil, “menghakimi saya dengan pengumuman di depan kelas”. Saya hanya perlu waktu untuk mema’afkan, bukannya tidak bisa mema’afkan. Kepada Bapak dan Ibu guru, pahamilah, tolong kata-kata yang tujuannya menasehati, sampaikanlah dengan bahasa yang sesuai umur kanak-kanaknya. Jadi anak tidak perlu merasa di hakimi, tetapi tahu kesalahannya.
  • Makanan/Minuman/Mainan Favorit; zaman SD, saya agak malas sarapan, orangtua saya menyiasatinya dengan, tidak sarapan = tidak ada uang jajan. Mainan favorit, karet gelang. Zaman SD, saya sangat senang mengumpulkan karet gelang ini, karet gelangnya ditumpuk dalam lingkaran, kemudian di timpuk dengan sandal jepit dari jarak tertentu, karet gelang yang keluar lingkaran karena lemparannya, menjadi hak si pelempar. Atau permainan karet gelangnya di lempar ke udara, setelah jatuh dilantai, di jentik dengan jari telunjuk, keluar tumpukan. Saya lupa nama kedua permainan ini. Setelah karet gelang terkumpul banyak, disambungkan untuk main lompat tali. Bapak saya pernah marah besar karena karet gelang ini, saya lupa pulang, lupa makan, lupa kewajiban saya sebagai anak, semua karet gelang disita, dipindahkan ke plafon rumah, saya ga bisa ngambilnya, main karet gelangnya jadi minjam punya teman beberapa saat 😳 .
  • Tas/Sepatu Favorit; dilihat dari photo jadul di album, sepertinya sepatu saya ada yang tali, ada yang hitam, adapula yang merah marun, mereknya saya ga ada yang ingat, zaman SD yang penting mah sepatu barunya 😆 . Tas sepertinya tas selempang kain.

PR zaman SD ini mengingatkan saya kembali  sebagai anak. Pesan moral yang sangat bisa diambil, ga heran juniornya seperti sekarang, lha, emaknya aja sewaktu SD banyak tingkah dan maunya :mrgreen: .

PR zaman SD ini tujuannya untuk mempererat silaturrahim antar blogger. Maka saya persilahkan dengan sangat hormat kepada sahabat berikut untuk melanjutkannya :

Para cowok-cowok ganteng diatas, kerjakan PR zaman SDnya ya 😀 .

Iklan