Ibu Rumah Tangga vs Ibu Manager Keluarga


Sabtu 26 Februari, setelah melakukan kegiatan rute bersepeda pagi sendirian,  (junior sama bapaknya lagi mudik kerumah eyang ^^).

Siangnya, ysalma mengikuti seminar parenting yang diadakan di daerah Cikarang. Dengan tema Bunda Manager Keluarga, dengan pembicara Ibu Irawati Istadi, penulis buku Bunda Manager Keluarga itu sendiri.

Yang menarik dari pembahasan di seminar tersebut, setiap kita memanglah pemimpin, dan  akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang kita pimpin itu kelak.

Berarti, seorang istri sejatinya juga pemimpin operasional (Manager Operasional) di dalam keluarga kecilnya, dan merupakan perpanjangan tangan suami, yang merupakan pemimpin utama keluarga.

Sebagai manager di dalam keluarga, tentulah harus mempunyai ilmu yang selalu upgrade. Sementara sekolah untuk menjadi seorang ibu itu sendiri tidak ada. Waktu, membuat perubahan, anak sekarang dengan anak, waktu orangtua masih menjadi anak-anak tentulah berbeda.

Supaya sebagai manager keluarga, istri tidak harus kehilangan jati dirinya sendiri :

  • Dia harus bermental manager : tidak cepat puas akan hasil kerjanya, justru mencari cara lagi supaya pendidikan anak, kelayakan tempat tinggal, sandang pangan, keuangan, dien keluarganya, lebih bisa dikelolanya dengan baik.
  • Dia harus cerdas : secara emosional dan spiritual. Bisa mengelola emosinya dengan baik, menyandarkan semua aktifitasnya terhadap Yang Diatas, sehingga rasa syukur akan selalu mengiringi setiap langkahnya.
  • Dia harus berkepribadian Androgynous : memiliki kepribadian seimbang antara feminin dan maskulin. Seorang ibu tidak hanya bisa berkata lemah lembut, mengeluarkan airmata, tetapi juga harus tangguh untuk situasi, anak rewel, kurang sehat, sementara peminpin utama, suami, lagi keluar kota.

Makanya, yang membedakan predikat ‘Ibu Rumah Tangga’ dengan predikat ‘ Ibu Manager Keluarga’ adalah Ilmunya (bukan sarjana atau tidaknya lho ya).

Ibu Rumaha Tangga hanya mempunyai waktu 24 jam dalam sehari, dan dia kewalahan dengan tugas-tugas rutin domestiknya yang tak pernah selesai. Secara dia hanya mempunyai dua bekal waktu memasuki gerbang pernikahan.

  1. Bekal insting (setiap yang baliqh pasti memilikinya).
  2. Bekal pola asuh turunan yang tersimpan di alam bawah sadar,  dan  dia tidak mempelajarinya lagi, sehingga pola yang diterapkan, tidak  nyambung dengan generasi baru yang dilahirkannya, dia kewalahan  menghadapi anak-anak yang semakin  kritis.

Sementara Ibu Manager Keluarga bisa mempunyai waktu lebih dari 24 jam dalam sehari. Dia bisa melakukan perkerjaan domestiknya tepat waktu, masih bisa memanjakan dirinya dengan melakukan kegiatan kegemarannya, masih bisa mengikuti seminar untuk menambah ilmunya, masih bisa menjadi seorang blogger :D.

Hayuk menjadi Ibu Manager Keluarganya, dan para suami, didiklah istrinya masing-masing  untuk bisa menjelma menjadi Ibu Manager Keluarga yang handal 🙂

Iklan