Salma dan Pak Guru


Salma melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari ruangan guru. Rasa sesal tak ada gunanya lagi, nasi sudah menjadi bubur,,, hanya bisa diolah menjadi bubur ayam nan lezat,,, semoga..

Dua hari yang lalu Pak Zidan guru favorit sekaligus guru fisika di sekolahnya, SMP Bintang Kehidupan,,  meminta tolong untuk mengisi piagam kelahiran putra pertamanya.

Salma begitu senang dan bersemangatnya mendapat tugas spesial itu. Dia ingin memberikan yang terbaik dan tidak ingin mengecewakan sang guru.

Di rumah saat suasana santai diruang keluarga, dia  ngerayu Ayahnya untuk dimintain tolong, “Ayah, tulisan ayahkan bagus, biasa menulis Ijazah kelulusan muridnya ,,, bantuin aku nulis piagam kelahiran putra Pak Guru ini ya, Yah,,,,”.

“Lho,, Pak Guru bukannya menyuruh kamu yang menuliskannya, berarti beliau percaya, kamu bisa” Ayah malah memberi nasehat. Wah bakal lama nih pikirku. Sebelum nasehat berlanjut dan bunda juga ikut bersuara, aku dengan wajah cemberut langsung meninggalkan ruangan,,,  kok Ayah ga ngerti sih,, akukan pengen ngasih hasil yang bagus buat Pak Guru…

Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul berkelabat dikepala.

Sambil senyum-senyum kecil, aku main kerumah sebelah. Om Zinadin juga seorang guru dan malah beliau lebih sering menulis ijazah tanda tamat belajar daripada Ayah. Sudah pasti tulisannya lebih bagus. Semua berjalan lancar dan berhasil. Dengan senang hati beliau membantuku, karena kuberi alasan kalau aku hanya dimintain tolong sama guru untuk mencari orang yang tepat untuk menuliskannya. Aku tersenyum puas melihat hasilnya.

Hari ini aku ke ruang guru menemui Pak Zidan. Beliau tersenyum ramah dan senang melihat murid kebanggaannya. Aku menyerahkan piagam kelahiran putranya yang sudah selesai ke beliau.

Beliau melihat hasilnya, dan mengerutkan dahinya,, aku  was-was,, apa ada yang salah ya??. Beliau mengajakku keruang “murid dan guru” (ruangan guru untuk menyelesaikan masalah anak didiknya empat mata). Perasaanku makin tak karuan saat beliau mempersilahkan duduk. Ucapan terima kasih ga perlu se formal inilah Pak, bathinku,,.

“Salma, bapak sangat bangga selama ini denganmu, kau murid terbaik sekolah ini. Makanya saat putra pertama bapak lahir dan bapak ingin membuat piagam kelahirannya untuk dipajang. Biar mudah mengingat kelahirannya, bapak menyuruhmu. Tujuannya apa??? Bapak ingin, setiap melihat piagam itu, bapak ingat tanggal kelahiran anak bapak, sekaligus murid yang menuliskan itu, yaitu kamu. Bukan tulisan indahnya yang bapak minta, tetapi tulisan tanganmu. Bapak bisa aja menyuruh oranglain yang tulisannya bagus. Ini sebuah tugas sekaligus sebuah kepercayaan kepadamu Nak, kamu mengerti maksud Bapak”.

Aku tercekat, mulai mengerti maksud dari tugas beliau tersebut. Dan nasehat Ayah ikut menggema ditelingaku sekarang. Dengan terbata-bata aku meminta ma’af kepada Pak Zidan. Aku telah mengecewakan beliau…

Hikmah :

  1. Jangan berpuas diri kalau mendapat sebuah penghargaan.
  2. Karya sendiri jauh lebih bernilai.
  3. Mendengarkan nasehat orang tua.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di Blog Camp.

Iklan

45 comments

  1. Yups.. karya sendiri jauh lebih bernilai.. dan menjalankan kepercayaan dengan ikhlas dan sepenuh hati, adalah ciri muslim yang baik, ya kan mbak??

    udah balik nih liburannya??
    sukses di KUCB yaaaaaaa… 🙂

    itu kata yang berpengalam lyha
    udah dengan kesibukan lagi
    makasih doanya 😉

  2. Karya sendiri jauh lebih bernilai. Waaah, hikmah yang kedua bener2 kereeen. Indie banget. Semoga sukses ya Mbak.

    anak band ngelihatnya bisa aja,,
    tq. ^^

  3. Hmm…
    Kira2 kalau saya kasih tugas membuatkan piagam buat cucu saya mau nggak ya? 😀

    Selamat berkontes, semoga menang…
    Salam!

    ahh, Pak Guru menggoda nih,, (harusnya judulnya Salma dan Pak Mars ya) :mrgreen:
    Amin..

  4. Menjaga sebuah kepercayaan itu sangat sulita mbak yach…selamat telah dipercaya, karena itulah penilaian dan penghargaan orang, dan selamat untuk kontesnya

  5. Hikmah nomer dua …
    Itu yang paling saya garis bawahi …

    Bagaimanapun karya orikhinal … nilainya jauh lebih tinggi dimata saya

    Ini cerita berhikmah yang bagus Bu

    Salam saya
    Semoga sukses di perhelatan KUCB

  6. bener bangedd.. seburuk apapun, kalau itu karya sendiri, tentu keringatnya beda, rasanya pun beda (bukan rasa keringetnya* loh) :p

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.