Rintik Desember yang Membuat Gigil, Dinginnya Perpisahan


Hari ini, Senin 20 Desember 2021, hujan di bulan Desember yang turun dari sebelum waktu Dzuhur hingga mendekati pukul 19.30 WIB masih saja deras. Sempat reda sekitar pukul 16.30 WIB. Memberikan sebuah kesadaran bahwa rintik Desember yang rutin, tidak hanya menumbuhkan kehidupan baru, tapi juga banjir. Bahkan gigil karena dingin dan bekunya sebuah hubungan yang berujung perpisahan.

Akan tetapi, langkah kaki harus terus dilanjutkan, menuntaskan janji yang sudah dibuat sebelum terlahir ke dunia ini dengan ikhtiar terbaik. Sisanya, serahkan pada takdir.

Rintik Desember Membuat Gigil, Dinginnya Perpisahan Tak Sebanding Dera Kelaparan

Mungkin karena efek erupsi Semeru, cuaca di bulan Desember yang lebih banyak dihiasi rintik, terasa lebih dingin.

Akan tetapi, hari ini, pagi hari sangat cerah, bahkan walau siang turun hujan lebat, udara cukup terasa hangat.

Mungkin untuk sebagian dari kita, suasananya sangat nyaman untuk meringkuk di balik selimut.

Bahkan, karena tidak jadinya PPKM berlevel saat menyambut liburan Nataru, sebagian sudah membuat rencana, akan menikmatinya bersama orang tercinta. Mempersiapkan semua yang diperlukan, kebutuhan prokes agar perjalanan nantinya lancar.

Tapi, ternyata tidak untuk sebagian yang lainnya.
Rintik di Bulan Desember semakin membuat gigil beberap tubuh karena menahan rasa lapar. Cilakanya juga semakin membekukan hati.

Pandemi yang mulai membaik, serta harapan semua orang agar ada di titik balik, ternyata banyak juga yang pertahanannya runtuh. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah beratnya memenuhi kebutuhan hidup.

Alih-alih saling menggenggam untuk menguatkan, malah memilih jalan sendiri, pergi meninggalkan apa yang dianggap memberatkan langkah.

Untuk dua orang dewasa yang merasa perjalanan seiringnya harus berhenti hanya sampai di situ, mungkin itu jalan terbaik. Sebab jika terus dipaksakan bersama, mungkin akan lebih banyak memberikan luka.

Tinggal carikan jalan keluar terbaik untuk langkah-langkah kaki kecil yang telah hadir dan ikut menemani selama kebersamaan. Usahakan agar langkah-langkah itu tetap kuat menapak hingga usia dewasa.

Bagi temans yang sedang diambang keraguan, kembali pikirkan semua dengan baik. Semoga mendapatkan jalan keluar terbaik.

Jangan berpikir dan berujar bahwa yang memilih pergi langkahnya terasa ringan, atau yang memilih tinggal ada dalam posisi yang kalah. Tidak. Keduanya kalah untuk saat ini, dan mungkin jadi pemenang sambil mengucapkan selamat di masa yang akan datang.


Malam ini, sekitar pukul 19.00 lewat sekian detik, terdengar suara salam. Saya yang sedang menatap layar notebook bersuara, “sepertinya ada tamu di depan”.

Teman hidup yang sedang menonton film “Hujan Bulan Juni” di televisi, mengatakan itu suara dari film yang ditontonnya. Kebetulan memang sedang ada adegan mengucapkan salam.

Adegan filmnya sudah lewat, tapi suara salam masih terdengar. Teman hidup beranjak ke pintu, “oh, memang ada tamu,” sembari menjawab salam.

Sayup, terdengar tamu berbincang dengan teman hidup. Tapi mereka nggak masuk ke dalam, bahkan ke teras pun tidak. Hanya berbincang di depan pagar. Padahal rintik hujan masih lumayan deras.

Nggak berapa lama, teman hidup ke dalam menghampiri saya, memberitahukan tamu yang memberi salam, orangtua laki dari salah satu teman nak bujang. Anaknya sebelum pandemi lumayan sering main ke rumah.

Kondisi membuat mereka sering berpindah tempat tinggal, tapi tidak kekurangan. Karena hanya mengenal anaknya, teman hidup sedikit kenal dengan bapaknya, maka hari ini juga kami baru mengetahui bahwa mereka sudah pindah ke komplek lain.

Si Bapak tidak mau masuk ke dalam rumah karena dua anaknya sedang menunggu ke datangannya di tempat tinggal sekarang. Mungkin dua puteranya sedang dalam gigil menahan lapar. Karena menurut beliau, sang istri menyerah dengan kondisi yang ada, memilih pamit dan meninggalkan mereka. Entahlah.

Teman hidup setelah memberitahukan keluh kesah hidup si tamu, menanyakan apa saya masih mempunyai sejumlah uang. Tidak banyak, tapi statusnya sebagai titipan untuk anak-anak sholeh yang lebih kami kenal dibandingkan kedua orangtuanya, bukan sebuah pinjaman seperti yang tamu sampaikan. Karena kami juga sedang tidak dalam keleluasaan keuangan untuk memberikan hutang pada seseorang.

Setelah tamu pamit menerabas gerimis yang masih enggan untuk berhenti. Kami hanya berharap, semoga titipan uang yang sedikit itu dicukupkan oleh Sang Pemilik Semesta.

Mungkin rintik Desember hari ini menyamarkan banyak air mata yang mengaliri pipi-pipi yang sedang lelah akan perjuangan hidup, tapi tetap percaya bahwa hujan membawa berkah untuk bumi dan penghuninya.


Sepertinya, puisi “Hujan Bulan Juni” dari Sapardi Djoko Damono masih sangat relevan dengan situasi rintik hujan di bulan Desember.

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Rezeki, jodoh, dan maut adalah sebuah rahasia yang tidak bisa kita tebak. Tapi rezeki dan jodoh harus kita ikhtiarkan dalam menjemputnya.

Terkadang keduanya sudah dalam genggaman, kehidupan stabil bahkan berlebih. Tapi dalam sekejap semunya juga bisa terlepas.

Pada saat berlebih jangan merasa dunia milik kita, tapi disaat terpuruk menyalahkan dunia tidak berpihak pada kita.

Dalam setiap kejadian, ada andil kita yang menjadi musababnya. Terkadang yang nampak oleh mata hanya sebuah kesusahan, bencana. Padahal bisa jadi itu cara kehidupan sedang mengajarkan banyak hal pada kita. Semoga mata dan bathin kita terbuka untuk melihat dan memahaminya.

Biarlah rintik di Desember ini membuat gigil, agar kita benar-benar bisa menghargai kehangatan.

Tetap dengan kata penyemangat, penuh inspirasi ya Desember.
Salam jejak mata, rasa, dan pikiran untukmu. YSalma.