Curhatan Emak & Solusi Pamungkas dari Nak Bujang : “Bacot lu”


Catatan kali ini murni curhatan emak yang pembicaraannya ternyata tanpa sengaja di ‘kuping’ oleh nak bujang, dan diberikan sebuah solusi yang membuat senyum mesem. Sebuah kata yang super singkat dan khas anak jaman sekarang, “bacot lu.” Emaknya mau diajarin gaul :mrgreen: .

Kondisi Emosional Umum Emak dan Anak

Beberapa waktu terakhir ini, sepertinya flue lagi betah bertamu di rumah kami.

Berawal dari saya yang seperti mau pilek, tapi batal, karena cepat sadar diri (baca: antisipasi) dengan beristirahat. Akhirnya, yang demam beneran justru si anak bujang, kemudian bersambung ke teman hidup saya.

Sehingga, Emak yang biasanya terlihat paling ringkih, nampak sedikit menjadi wanita perkasa diantara lelakinya yang sedang kurang fit 😳 .

Pemicu Dari Solusi Ajaib Khas Anak Sekarang Ituh

Ceritanya, dilingkungan tempat tinggal sedang ada galian pemasangan salah satu jaringan internet. Informasi pemasangannya entah sudah dari kapan tahun. Tapi, aktual pengerjaannya secara mendadak terjadi beberapa waktu belakangan ini.

Kebetulan lagi, pengerjaannya terkesan berantakan.
Apesnya, teman hidup saya bagian dari koordinator warga.

Saya tidak mau ikut-ikutan terlibat sok sibuk. Selain karena fisiknya memang tidak cukup tangguh untuk diajak ‘berkeliaran,’ jiwanya juga malas terlibat terlalu dalam dengan urusan orang lain .

Curhatan Emak dan Solusi Penyejuknya - YSalma

Pun, belajar dari yang sudah-sudah, jika suami-istri terlibat aktif dipengkoordiniran warga, warga lain seakan membebankan semuanya kepundak mereka.

Hari gini, mana ada kenyamanan dan ketidaknyamanan lingkungan berada dibeberapa pundak mereka yang dianggap koordinator. Jangan hanya pada bisa komentar dibelakang, dan yang terlibat aktif pun tak bisa menepuk dada dengan mengatakan, ‘ini semua karena aku dan tim.’ Semua warga punya kontribusi, ambil bagian dan bertanggungjawab sesuai perannya masing-masing dengan ikhlas.

Singkat cerita, karena pengerjaan jaringan tersebut, ada seorang ibu yang WApri dan mengeluhkan kondisi jalan depan rumah dan bahu jalannya yang jadi berantakan.

Saya bales, akan menyampaikan ke tim koordinator warga. Saya yang sok sudah merasa ‘akrab’ karena bertetangga, menambahkan sedikit pencerahan untuk si ibu, biar dia tidak merepet kemana-mana, “yang namanyanya bahu jalan itu adalah milik umum, tapi perawatan dan kebersihannya menjadi tanggungjawab rumah terdekatnya. Itu sudah jamak dimana-mana.”

Si ibu sepertinya lagi bad mood, dia ga terima dengan tambahan penjelasan saya yang sok memberi pencerahan itu :mrgreen: .

Setelah berbalas komen, dan saya mengatakan bahwa dia perlu bersabar tentang realisasi komplainnya itu. Saya berpositif thinking aja kalau nanti setelah emosinya reda, beliau akan tercerahkan *berpikir positif itu haruskan, biar tetap awet muda 😳 *

Selang beberapa waktu, ada lagi seorang ibu yang ngedumel di grup dan merasa tidak dimintain ijin tentang pengerjaan galian tersebut.

Ndalilah, entah saya lagi merasa sok akrab dengan ibu-ibu di grup, atau saya merasa sayang dengan kapasitas si ibu yang ngedumel seperti itu di grup terbuka. Jadilah saya memberikan respon umum.

Inti dari balesan saya itu agar ibu-ibu di grup, termasuk saya pastinya, sebelum ngomel coba berpositif thinking,Β para pekerja itu pasti sudah ijin pada pengurus lingkungan. Toh, kita hidup dilingkungan yang sama dan semua kena dampak yang sama tanpa terkecuali.

Eee, ternyata, entah kata-kata saya yang kurang halus, atau memang bahu jalan berantakan itu sudah membuat semua hati terlanjur kusut, respon balik yang saya dapatkan justru diluar harapan awal saya membalas komen tersebut.

Si ibu yang wapri saya sebelumnya, ikutan nimbrung di grup.
Pembahasan jadi kemana-kemana.

Tapi, saya tetap menyikapi itu sebagai diskusi sehat. *soale belum ada apa-apanya dengan diskusi panas di grup sebelah. Bedanya, di grup sebelah,, setelah diskusi, ya sudah. Hubungan baik selama ini tidak akan menjadi korban karenanya.*

Saat diskusi di grup WA ibu-ibu itu, si ibu sampai mengatakan bahwa nalar saya tidak nyampai untuk memahami maksud perkataannya. Saya terima asumsi beliau dengan ucapan terima kasih. Beliau juga membandingkan laur informasi dengan komplek perumahan angkatan. Saya senyum dan bilang akan meneruskan kepada tim koordinator.

Sebenarnya, jika mau dibahas, bakal bisa panjang lagi, pasti akan jauh berbeda kondisi perumahan angkatan dengan komplek perumahan warga sipil.

Contoh kecilnya saja, si ibu yang juga bagian dari perumahan angkatan, menetapnya di perumahan sipil, suamia beliau dinas di luar kota. Itu baru contoh satu keluarga. Yang lainnya tidak akan jauh berbeda kondisi bapak-bapaknya yang abdi negara. Kalau kondisi perumahan seperti itu, justru ada kalanya ibu-ibu yang mengambil alih seluruh kegiatan di komplek perumahan tersebut .

Sebaliknya, ada juga perumahan sipil yang dari awal sudah berkomitmen bahwa semua tetek bengek kegiatan lingkungan di handle oleh ibu-ibu. Bapak-bapak hanya formalitas saja ketika laporan-laporan resmi. Tapi, itu perumahaan warganya tidak ada kegiatan fisik warga seperti gotong royong, pertandingan dllnya. Isinya hanya arisan ibu-ibu yang didatangi oleh segelintir warga. Masing-masing sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri.

Sementara itu, si ibu yang wapri mengatakan bahwa pendapat saya ngaco dan ga nyambung sama dia, itu hanya karena saya mengatakan bahwa bahu jalan milik umum dan memberi contoh komplek di perumahan di daerah DKI yang tidak boleh parkir dibahu jalan depan rumah sekalipun. Saya juga mengucapkan terima kasih atas kesimpulan si ibu yang mengatakan saya ngaco. Untung ibu belum tahu kalau saya sebenarnya sering dibilang ‘aneh’ 😳 .

Ternyata benar adanya kata para bijak, yang namanya ibu-ibu komplain pada umumnya, mau beribu penjelasan pun tidak akan pernah cukup. Sebelum apa yang di komplain itu diiyain, manggut-manggut, tanpa perlu tampahan penjelasan lain. *saya kadang juga suka begitu soale πŸ™‚Β  * .

Akhirnya, saling merasa paling benar di grup itu saya sudahi dengan mengingatkan kembali bahwa jaringan yang sedang dipasang itu adalah salah satu usaha orang lain, kenapa pula kita warga yang saling beradu argumentasi tak sehat begitu.

Nah, semua diskusi WA dengan ibu-ibu itu saya ceritakan ke teman hidup.

Teman hidup saya sih sebenarnya sudah dari awal mengingatkan agar saya tidak ikutan-ikutan riweh.

Karena, pastinya, setelah saya ikutan riweh, telinganya dia yang bakal rame oleh sasaran ‘nyanyian’ saya. *kaum lelaki yang mbaca tulisan ini dan kebetulan sudah punya pasangan, pasti paham lah rasanya, bagaimana mendengar repetan ibu-ibu hanya gegara arisan doang misalnya 😳 .*

Dan ternyata, saat saya curhat dengan teman hidup itu, si anak bujang yang terlihat asyik dengan gadget-nya, ikut menyimak, tapi tidak memberikan respon apapun saat itu.

Solusi Nak Bujang Yang Membuat Senyum Mesem Si Emak

Malam harinya, ketika mau tidur, seperti biasa, nak bujang ngobrol ngalor ngidul dulu sama emak. Dia bertanya tentang curhatan emak ke bapaknya disore hari tadi. Emak pun memberi gambaran umum padanya.

Nak bujang merespon, “si ibu yang komplain bukannya salah alamat komplainnya ke Mama. Harusnya ke yang masang jaringan itu dong atau koordinatornya.”

“Iya sih. Mama, harusnya cukup jawaban formil aja, ntar bantu disampaikan. Mungkin ga bakal jadi panjang. Mamanya pakai sok pengen akrab pula.”

Tanpa dinyana, dia pun mengatakan, “benar, Mama ga perlu bales di WA panjang lebar begitu. Cukup dengan kata ini aja ‘bacot,lu,, wkwkwk.’ Selesai deh.”

Saya sebagai emak tentu terperangah, “emang kamu kirain itu di grup, para abege yang lagi komplain?”

Nak bujang tetap aja nyantai, “emang kenyataannya ibu-ibu suka berisik kok. Kalo dijawab seperti itu, pasti langsung diam. Soalnya, kalau di grup yang ku ikuti, kalau udah ada yang berisik, dan ada yang nyelutuk ‘bacot,lu’ seperti itu, akan langsung pada diam”

“Ya, iyalah. Jawaban apa itu”
“Jika kamu berada diposisi ibu-ibu yang komplain itu, pasti juga tidak mau mendengar jawaban seperti itu kan.”

Nak bujang hanya senyum-senyum, “itu solusi pamungkas yang cepat.”

“Ingat lho ya, dalam sebuah diskusi di grup, walau ada pancingan kata-kata kamu direndahkan, dianggap ga mampu, dihina dalam nada halus. Jika masih sebatas pendapat umum manusia. Cukup senyum aja dan bilang terima kasih untuk semua penilaian itu. Tak perlu bersikukuh untuk menjelaskan bahwa kamu bukan seperti yang mereka katakan. Apalagi jika kamu tidak berkepentingan apapun didalamnya.”

“Sebab, ketika ada jeda atau jarak oleh waktu, maka semua akan terlihat lebih jelas. Keuntungan kamu tidak terpancing itu, kamu tidak meninggalkan jejak yang membuat kamu malu sendiri nantinya, kenapa bisa saya harus terpancing oleh mereka. Apalagi itu hanya diskusi tentang sebuah kepentingan umum.”

Nak bujang pun mengiyakan pendapat emaknya.

Saya pun menambahkan, “berpendapat di dunia maya juga sama dengan dunia nyata lho. Jika ucapan di dunia nyata dan kebetulan tidak direkam, ucapan itu hanya akan terngiang untuk beberapa waktu. Setelah itu hilang dan terlupakan.

Tapi, jika di dunia maya, semua dituliskan. Suatu waktu bisa terbaca kembali. Jangan biarkan kecepatan jempol lebih dulu daripada kecepatan pikiran. Biasakan untuk memberi jeda sesaat untuk berpikir. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, nanti jika situasinya sudah normal, kalau membaca ini, kira-kira gimana ya? Apabila berasa bakal ga nyaman, apalagi geleng-geleng kepala sendiri mempertanyakannya. Jangan dituliskan.”

Si nak bujang yang sudah mengantuk pun mengiyakan semua nasehat emaknya 😳 .

*****
Sekarang, galian yang sebelumnya sangat berantakan, sudah kembali rapi. Ibu yang awalnya ngedumel di grup WA, ketemu juga sudah ngobrol biasa. Tapi, yang wapri marah-marah, belum ketemu lagi. Ga tau, apa masih ngedumel. Entahlah 😳 .

Semoga saja jaringan yang dipasang ini membawa kebaikan bagi lingkungan tempat tinggal. Setidaknya lebih murah dan koneksinya bagus dari jaringan yang sudah ada. Kalau tidak, ya percuma deh 😳 .

Kesimpulan dari Curhatan Emak hari ini :

  • Niat baik, belum tentu akan ditanggapi baik.
  • Anak yang dikira asyik dengan kegiatannya, merekam semua terjadi disekitarnya. Berhati-hatilah membicarakan apalagi menggosipkan seseorang di dekat si anak.
  • Respon seorang anak remaja abege terhadap sebuah situasi terkadang jauh lebih cepat dan simple dari dugaan para orangtua.
  • Saling menghormati antar tetangga itu sangat mutlak. Nyaman tidaknya lingkungan tempat tinggal, tergantung masing-masing warga, bukan mereka yang kebetulan dijadikan koordinator.
  • Bertetangga itu, hak pribadi kita dibatasi oleh milik umum dan batasan pribadi orang lain, termasuk hak bersuara didalamnya. Jangan sampai volume suara yang berisi noise melewati dinding dan pagar rumah.

Semoga yang membaca tidak mengalami situasi sok bijak seperti saya dan memberikan respon seperti yang diusulkan nak bujangΒ  pulaΒ  πŸ˜‰ .

Dilingkungan manapun , kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tetapi jangan sampai merugikan orang lain. Saling menjaga aja.

Iklan