Curhatan Emak & Solusi Pamungkas dari Nak Bujang: “Bacot lu”


Catatan kali ini murni curhatan emak yang pembicaraannya ternyata tanpa sengaja di’kuping’ oleh nak bujang. Kemudian dia berikan sebuah solusi yang membuat emak tersenyum ‘mesem’. Sebuah kata yang super singkat dan khas anak jaman sekarang, “bacot lu!” Emaknya mau diajarin jadi emak gaul :mrgreen: .

‘Ngerumpi’ Jangan Dekat Anak!

Kondisi Emosional Umum Emak dan Anak

Beberapa waktu terakhir ini, sepertinya flu lagi betah ‘bertamu’ di rumah kami 😥 .

Berawal dari saya yang seperti mau pilek, tapi batal, karena saya cepat sadar diri (baca: antisipasi) dengan beristirahat. Akhirnya, yang demam beneran justru si anak bujang, kemudian bersambung ke teman hidup saya.

Sehingga, Emak yang biasanya terlihat paling ringkih, nampak sedikit menjadi wanita perkasa, di antara lelakinya yang sedang kurang fit 😳 .

Pemicu Dari Solusi Ajaib Khas Anak Sekarang Ituh

Ceritanya, di lingkungan tempat tinggal sedang ada galian pemasangan salah satu jaringan internet. Informasi pemasangannya sih entah sudah dari kapan tahun, sosialisinya udah, karena kelamaan pada lupa. Dan aktual pengerjaannya secara mendadak terjadi beberapa waktu belakangan ini. Mana tanpa sosialiasai ulang yang memadai.

Kebetulan lagi, pengerjaannya terkesan berantakan.
Apesnya, teman hidup saya bagian dari koordinator warga.

Saya sih tidak mau ikut-ikutan terlibat sok sibuk.
Selain karena fisik saya memang tidak cukup tangguh untuk diajak ‘berkeliaran,’ jiwanya juga sudah malas terlibat terlalu dalam dengan urusan orang lain. Lebih kepada menjaga diri sendiri sih, karena saya kalau sudah memutuskan terlibat sesuatu akan memberikan pikiran dan hati sepenuhnya. Perjalanan hidup rasanya sudah cukup meniggalkan bekas-bekas luka tak berdarah yang harus dikeringkan dan tak begitu membekas. Biarkanlah mereka yang muda dan masih punya energi lebih melakukan ‘unjuk gigi’.

Curhatan Emak dan Solusi Penyejuknya - YSalma

Pun, belajar dari yang sudah-sudah, jika suami-istri terlibat aktif dipengkoordiniran warga, warga lain seakan membebankan semuanya ke pundak mereka.

Hari gini, mana ada kenyamanan dan ketidaknyamanan sebuah lingkungan, hanya berada di beberapa pundak mereka yang dianggap koordinator. Generasi milenial jangan terlalu sering berpatokan pada sitkom televisi yang ditonton, yang hanya untuk lucu-lucuan. Keamaan dan kegiatan warga itu sepenuhnya ditentukan oleh setiap warga. Yang diberi amanah tanggungjawab sebagai pengurus hanyalah koordinator agar tetap dalam sistem yang baik.Kalau diajak terlibat oleh pengurus, jangan pada bisa berkomentar di belakang. Lingkungan itu bukan milik sepasang suami istri yang kebetulan suaminya jadi pengurus lho. Makanya ada struktur organisasi, Cint!

Dan, yang terlibat aktif, pun tak bisa menepuk dada dengan mengatakan, ‘ini semua karena aku dan tim.’ Semua warga harus punya kontribusi, ambil bagian dan bertanggungjawab sesuai perannya masing-masing dengan ikhlas.

Singkat cerita, karena pengerjaan jaringan tersebut, ada seorang ibu yang WApri  saya. Dia mengeluhkan kondisi jalan depan rumah dan bahu jalannya yang jadi berantakan.

Saya bales, akan menyampaikan ke tim koordinator warga.

Entah lagi kesambet apa, saya yang ‘sok sudah merasa akrab’ karena bertetangga, menambahkan sedikit pencerahan untuk si ibu, dengan tujuan biar dia tidak merepet kemana-mana.

“Yang namanyanya bahu jalan itu adalah milik umum, tapi perawatan dan kebersihannya memang menjadi tanggungjawab rumah terdekatnya. Itu sudah jamak di mana-mana, sabar aja ya, bu.”

Si ibu sepertinya lagi bad mood. Dia ga terima dengan tambahan penjelasan dari saya yang sok memberi ‘pencerahan’ itu :mrgreen: .

Setelah berbalas komen dan saya mengatakan bahwa dia perlu bersabar tentang realisasi komplainnya itu. Saya berpositif thinking aja kalau nanti setelah emosinya reda, beliau akan benar-benar tercerahkan *berpikir positif itu harus kan, biar tetap awet muda 😳 *

Selang beberapa waktu, ada lagi seorang ibu yang ‘ngedumel’ di grup. Beliau merasa tidak dimintain ijin tentang pengerjaan galian tersebut.

Ndalilah, entah saya lagi merasa sok akrab dengan ibu-ibu di grup, atau saya merasa sayang dengan kapasitas si ibu yang ngedumel seperti itu di grup. Jadilah saya memberikan respon umum.

Inti dari balesan saya itu agar ibu-ibu di grup, termasuk saya juga pastinya, sebelum ngomel, coba berpositif thinking, “para pekerja itu pasti sudah ijin pada pengurus lingkungan. Kalau tingkat RT belum ngeh, berarti mereka udah ngomong ke tingkat RW, begitu seterusnya. Yang sudah dimintain ijin, karena pengerjaannya mendadak, mungkin belum sempat share. Toh, kita hidup di lingkungan yang sama, semua kena dampak tanpa terkecuali. Tunggu dan lihat dengan sabar.”

Eee, ternyata.
Entah kata-kata saya yang kurang halus, atau memang bahu jalan berantakan itu sudah membuat semua hati terlanjur kusut.
Respon balik yang saya dapatkan, justru di luar harapan awal saya membalas komen tersebut.

Si ibu yang wapri saya sebelumnya, ikutan nimbrung di grup.
Pembahasan jadi kemana-kemana.

Tapi, saya tetap menyikapi itu sebagai diskusi sehat. *soale belum ada apa-apanya dengan diskusi panas di grup sebelah. Bedanya, di grup sebelah, setelah diskusi, ya sudah. Hubungan baik selama ini tidak akan menjadi korban karenanya.*

Saat diskusi di grup WA ibu-ibu itu, si ibu yang ngedumel sampai mengatakan bahwa nalar saya tidak nyampai untuk memahami maksud perkataannya. *artinya, saya harus berguru dulu 😳 *.

Saya terima asumsi beliau dengan ucapan terima kasih.

Beliau juga membandingkan alur informasi dengan komplek perumahan angkatan.

Saya memberikan ikon senyum, dan menuliskan akan meneruskan kepada tim koordinator.

Sebenarnya, jika mau dibahas, bakal bisa panjang lagi.

Pasti akan jauh berbeda kondisi perumahan angkatan, dengan komplek perumahan warga sipil.

Contoh kecilnya saja, si ibu yang juga bagian dari perumahan angkatan, tapi milih menetapnya di perumahan sipil, seringnya di rumah sendiri, suaminya sering dinas di luar kota. Itu baru contoh satu keluarga. Rumah lain tidak akan jauh berbeda kondisi bapak-bapaknya yang abdi negara.

Kalau kondisi perumahan seperti itu, sudah tentu ibu-ibu lah yang mengambil alih seluruh kegiatan di komplek perumahan tersebut. Bapak-bapaknya hanya perlu dikabarkan saja.

Sebaliknya, ada juga perumahan sipil yang dari awal sudah berkomitmen bahwa semua tetek bengek kegiatan lingkungan di handle oleh ibu-ibu. Bapak-bapak hanya formalitas saja ketika laporan-laporan resmi.

Tapi, itu perumahaan warga yang tidak ada kegiatan fisik, seperti gotong royong, pertandingan dll. Isinya hanya arisan ibu-ibu yang didatangi oleh segelintir warga. Masing-masing sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri.

Akan tetapi, kalau lingkungan tempat tinggal yang kepala keluarganya boleh dibilang ada di rumah, kecuali saat jam kerja, jarang keluar kota, anak-anak masih kecil. Yo biarkan lah bapak-bapak yang tetap jadi pemimpin sebenarnya di lingkungan, buibu cukup jadi support system aja.

Dalam diskusi yang ‘ramai’ itu, si ibu yang wapri sebelumnya, mengatakan bahwa pendapat saya ngaco dan ga nyambung sama dia.

Hal itu, karena saya mengatakan bahwa bahu jalan itu milik umum, dengan memberi contoh komplek di perumahan di daerah DKI, di sana tidak boleh parkir di bahu jalan depan rumah sekali pun.

Saya juga mengucapkan terima kasih atas kesimpulan si ibu yang mengatakan saya ngaco.

Untung si ibu belum tahu kalau saya sebenarnya sering dibilang ‘aneh’ 😳

Ternyata, benar adanya kata para bijak.
Yang namanya ibu-ibu komplain, mau diberi beribu penjelasan pun tidak akan pernah cukup. Sebelum apa yang dia komplain itu diiyain, manggut-manggut, tanpa perlu tambahan penjelasan lain. *saya juga ibu-ibu soale 🙂  * .

Akhirnya, saling merasa paling benar di grup itu saya sudahi dengan mengingatkan kembali, bahwa jaringan yang sedang dipasang itu adalah salah satu usaha orang lain, marketingnya kebetulan warga di RT sebelah. Kenapa pula kita warga yang saling beradu argumentasi tak sehat?

*****

Nah, semua diskusi WA dengan ibu-ibu itu saya ceritakan ke teman hidup.

Teman hidup saya sih sebenarnya sudah dari awal mengingatkan agar saya tidak ikutan-ikutan riweh.

Karena dia tau karakter say, setelah saya ikutan riweh, telinga dia juga yang bakal rame oleh sasaran ‘nyanyian’ saya. *kaum lelaki yang mbaca tulisan ini, dan kebetulan sudah punya pasangan, pasti paham rasanya. Bagaimana mendengar repetan ibu-ibu hanya gegara arisan doang misalnya. Tapi buibu semuanya pengen narsis dan ‘unjuk gigi’ 😳 .*

Dan ternyata, saat saya curhat dengan teman hidup itu, si anak bujang yang terlihat asyik dengan gadget-nya, rupanya ikut menyimak. Tapi dia tidak memberikan respon apapun saat itu.

Solusi Nak Bujang Yang Membuat Senyum Mesem Si Emak

Malam harinya, ketika mau tidur, seperti biasa, nak bujang ngobrol ngalor ngidul dulu sama emak. Dia bertanya tentang curhatan emak ke bapaknya di sore hari tadi. Emak pun memberi gambaran umum padanya.

Nak bujang merespon, “si ibu yang komplain bukannya salah alamat komplainnya ke Mama. Harusnya, ke yang masang jaringan itu dong, atau koordinatornya”.

“Iya sih. Mama, harusnya cukup jawaban formil aja, ntar bantu disampaikan. Mungkin ga bakal jadi panjang. Mamanya pakai sok pengen akrab pula.”

Tanpa dinyana, dia pun mengatakan, “benar. Mama ga perlu bales di WA panjang lebar begitu. Cukup dengan kata ini aja ‘bacot, lu,, wkwkwk.’ Selesai deh.” ((BACOT = Bad Attitude Control of Tongue (English) = Banyak Cocot (Jawa)).

Saya sebagai emak tentu terperangah, “emang kamu kirain, itu grup para abege yang lagi komplain?”

Nak bujang tetap aja nyantai, “emang kenyataannya ibu-ibu suka berisik kok. Kalo dijawab seperti itu, pasti langsung diam. Soalnya, kalau di grup yang kuikuti. Kalau udah ada yang berisik, dan ada yang nyelutuk, ‘bacot, lu’ seperti itu, akan langsung pada diam”.

“Ya, iyalah. Jawaban apa itu”
“Jika kamu berada diposisi ibu-ibu yang komplain itu, pasti juga tidak mau mendengar jawaban seperti itu kan.”

Nak bujang hanya senyum-senyum, “itu solusi pamungkas yang cepat, Mam.”

“Ingat lho ya, dalam sebuah diskusi di grup, walau ada pancingan kata-kata, kamu direndahkan. Dianggap ga mampu, dihina dalam nada halus. Jika masih sebatas pendapat umum manusia. Cukup senyum aja, dan bilang terima kasih untuk semua penilaian itu. Tak perlu bersikukuh untuk menjelaskan bahwa kamu bukan seperti yang mereka katakan. Apalagi jika kamu tidak berkepentingan apapun di dalamnya. Mereka takkan memahaminya saat itu. Karena pikiran mereka sedang ditutup oleh keinginan tidak terima”.

“Sebab, ketika ada jeda atau jarak oleh waktu, maka semua akan terlihat lebih jelas. Keuntungan kamu tidak terpancing itu, kamu tidak meninggalkan jejak yang membuat kamu malu sendiri nantinya. Apalagi itu hanya diskusi tentang sebuah kepentingan umum. Masih banyak kepentingan umum lain di masa depan yang perlu sebuah diskusi.”

Nak bujang pun mengiyakan pendapat emaknya.

Saya menambahkan, “berpendapat di dunia maya, juga sama dengan dunia nyata lho. Jika ucapan di dunia nyata dan kebetulan tidak direkam, ucapan itu hanya akan terngiang untuk beberapa waktu. Setelah itu, hilang dan terlupakan.

Tapi, jika di dunia maya, semua dituliskan. Suatu waktu, bisa terbaca kembali. Jangan biarkan, kecepatan jempol lebih dulu daripada kecepatan pikiran. Biasakan untuk memberi jeda sesaat untuk berpikir. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, ‘nanti jika situasinya sudah normal, kalau membaca ini, kira-kira gimana ya?’ Apabila berasa bakal ga nyaman, atau sampai bakal geleng-geleng kepala sendiri di waktu mendatang mempertanyakannya. Jangan dituliskan.”

Si nak bujang yang sudah mengantuk, mengiyakan semua nasehat emaknya 😳 .

*****
Sekarang, galian yang sebelumnya sangat berantakan, sudah mulai kembali rapi. Ibu yang awalnya ngedumel di grup WA, ketemu juga sudah ngobrol biasa. Malah sepertinya beliau lupa pernah menuliskan ‘otak saya gak nyampai’, hahaha. Tapi, yang wapri marah-marah, belum ketemu lagi. Ga tau, apa masih ngedumel. Entahlah 😳 .

Semoga saja, jaringan yang dipasang ini membawa kebaikan bagi lingkungan tempat tinggal. Setidaknya, lebih murah dan koneksinya bagus dibandikan jaringan yang sudah ada. Kalau tidak, ya percuma 😳 .

Kesimpulan dari Curhatan Emak hari ini:

  • Niat baik, belum tentu akan ditanggapi baik.
  • Anak yang dikira asyik dengan kegiatannya, ternyata merekam semua yang terjadi di sekitarnya. Berhati-hatilah membicarakan, apalagi menggosipkan seseorang di dekat si anak.
  • Respon seorang anak remaja abege terhadap sebuah situasi , terkadang jauh lebih cepat dan simple dari dugaan para orangtua.
  • Saling menghormati antar tetangga itu sangat mutlak. Nyaman tidaknya lingkungan tempat tinggal, tergantung semua warga, bukan pada mereka yang kebetulan dijadikan koordinator.
  • Bertetangga itu: hak pribadi kita dibatasi oleh milik umum dan juga batasan pribadi orang lain. Termasuk hak bersuara di dalamnya. Jangan sampai, volume suara yang berisi noise, melewati dinding dan pagar rumah dan sampai ke rumah tetangga.

Semoga yang membaca, tidak mengalami situasi sok bijak seperti saya, dan memberikan respon seperti yang diusulkan nak bujang  pula  😉 .

Di lingkungan manapun, kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Tetapi, jangan sampai merugikan orang lain. Apalagi memandang rendah orang lain.
Saling menjaga aja ❤ .

8 comments

  1. Saya nggak sok bijak, tapi sayang memang bijak lho hehehe….
    Iya lho mbak, anak-anak saya itu, kelihatannya asyik nonton tv atau main game saat saya ngobrol sama suami, tapi ternyata diam-diam mereka menyimak

    Disukai oleh 1 orang

    • Hehehe,, kalau mba Naniknara sudah tidak diragukan lagi sikap bijaknya. Jempol deh.

      Benar banget, kalau anak saya, biasanya kalau mau tidur, dia ingat semua yg terekam oleh kepala dan matanya itu 😀

      Suka

  2. Hehehe…lucu juga ceritanya Mbak…
    “bacot lu” bisa diganti dengan istilah “ember lu”… gak ya? Kadang “bacot” gak mempan, siram saja dengan “ember”…
    Btw, yg namanya galian kabel di perumahan, tetep perkara yg nyebelin sih Mbak. Pernah ngalamin dulu zaman saya tinggal di salah satu btn di Bekasi…

    Salam,

    Disukai oleh 2 orang

    • Namanya juga anak abege, Kang.
      Bisa juga ituh, konotosinya dua kalimat itu hampir mirip. Hanya saja, biasanya ‘bacot lu’ itu ditujukan untuk yg berisik banyak omong, dan ’ember lu’ itu untuk yg tidak bisa memegang omongan yg sudah diamanahkan, cerita jadi tersebar kemana-mana.
      Saat pengerjaan memang mengganggu kenyamanan banget ya, Kang. Kudu harus banyak2 positif thinking.

      Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.