Kampung Halaman Selalu Memanggil Pulang


Kemarin, 3 Januari 2017, sekitar pukul 8.15 WIB, saya menelpon ibunda, menanyakan kesiapannya di perjalanan. Beliau akan kembali ke perantauan salah satu anaknya, setelah mudik untuk libur berdua dengan cucu tertuanya dari tanggal 21 Desember 2016 lalu.

Saya menanyakan, apa beliau sudah puas berlibur dikampung. Apakah ada perbedaan yang dirasakan saat pulang libur anak sekolahan dan pulkam saat lebaran yang ngumpul semua.

kampung-halaman-selalu-memanggil
Dimanapun, gunung dikejauhan itu sama menjulang ke langit, tapi gunung dan semua suasana di kampung halaman itu terasa lebih dekat dihati 😳

Kampung Halaman Selalu Memanggil Pulang (Takana Jo Kampuang)

Ibunda memberi respon, suasananya memang berbeda saat terakhir pulkam lebaran kemarin, tapi kalau ditanya maunya dia dan boleh memilih, dia inginnya sih tetap dikampung, bersama anak menantu dan cucu tentunya. Tapi apa daya, anaknya ada di perantauan semua 😳 .

“Sabar. Yang penting do’akan aja semua sehat, rejeki lancar. Bolak balik kampung itu tidak akan terasa jauh. Kampuang buliah jauh dimato, tapi dakek dihati

Ibunda tentu saja mengiyakan ucapan saya sekalian berkomentar kalau saya, anaknya, sepertinya sangat kecil harapannya untuk kembali menetap di kampung.

Saya pun kembali menjelaskan alasannya.

Saya merasa, dibagian manapun di bumi ini saya menetap, sama saja, yang penting sehat. Saya mengharapkan hal yang sama untuk ibunda yang sudah berusia 74 tahun itu. Beliau bisa menikmati hari tuanya seperti yang dia inginkan.

Nikmat Mana Lagi Yang Kau Pertanyakan

Agar ibunda tidak terlalu fokus pada keinginan yang belum kesampaian. Saya mengingatkan beliau, dalam usia senjanya begitu, beliau masih bisa pulang kampung hanya berdua dengan cucu laki-laki yang masih berusia 16 tahun. Mana harus menempuh perjalanan darat, udara dan laut dalam satu kali jalan.

Rute yang harus beliau tempuh, dari kampung ke bandara perjalanan darat sekitar 1,5 jam. Setelah itu lanjut dengan pesawat lebih kurang 1 jam. Setelah mendarat, harus menuju pelabuhan lagi dengan taksi sekitar 15 menit. Nyebrang dengan kapal lebih kurang 30 menit. Lima belas menit kemudian, baru nyampai di rumah anaknya.

Alhamdulillah, beliau masih sehat-sehat saja, hanya pegal-pegal oleh usia. Jangankan beliau, badan saya aja kalau melakukan perjalanan seperti itu, perlu treatment khusus agar cepat segar kembali. Jauh lebih fit kondisi beliau daripada saya anaknya :mrgreen:

Rencana Tak Sesuai Keinginan

Pembicaraan meminta anak-anaknya ada yang mau kembali menetap di kampung, bukanlah hal baru. Ini sudah mulai beliau bahas ketika tidak semua rencana yang sudah di susun almarhum bapak berjalan seperti yang mereka inginkan.

Dulu, keduanya tidak keberatan dua anak perempuannya meninggalkan provinsi Sumbar setelah usai sekolah, asalkan masih dibumi Indonesia.

Setelah melewati fase, sebanyak apapun kau mempersiapkan masa depan seorang anak, tapi bukan anak kandungmu. Kau jangan berharap terlalu banyak. Cukup tersenyum saja kalau apa yang kau persiapkan itu membuahkan ke suksesan. Harus percaya bahwa tak ada satupun hal baik yang akan sia-sia 🙂 .

Keduanya mulai menyadari bahwa salah satu anak perempuannya, kalau bisa, ada yang kembali menetap di kampung.

Sayangnya, untuk bisa merealisasikan harapan itu, anaknya tidak bisa langsung balik badan. Karena sudah beranak pinak di perantauan. Banyak nyawa yang harus dipikirkan masa depannya. Karena begitu sudah membalikkan haluan hidup untuk kembali menetap di kampung, maka sang anak pun akan menghabiskan usia senja di kampung.

Terlihat Sedikit Egois

Kalau dilihat dari sisi ibunda, mungkin beliau sempat berpikir bahwa anak-anaknya terlihat sedikit egois. Tidak memenuhi keinginan beliau yang sangat sederhana itu. Berkumpul di kampung bersama anak, menantu dan cucu. Tapi beliau juga tidak memaksa, masih menunggu kesadaran itu datang dari anak dan mantunya.

Tapi, jika dilihat dari sisi anak perempuan, walau ada perasaan bersalah karena belum bisa memenuhi keinginan orang tua, ia sendiri merasa tak berdaya.

Saat ini, ia bukan lagi hanya seorang anak, ia juga seorang istri dari seorang lelaki yang keinginannya juga harus dipertimbangkan. Ia kini juga seorang ibu dari anak-anaknya. Hampir separoh dari usianya saat ini sudah dihabiskan di perantaun. Ia dan keluarganya perlu mempersiapkan mental dan semuanya untuk memutar langkah.

Tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Yang penting ada kemauan dan keinginan.

Tapi, semuanya harus dikaji ulang dengan matang. Sekali keputusan diambil, itulah yang terbaik. Tidak ada sesal di kemudian hari atau menyalahkan siapa-siapa atas pilihan itu.

Karena ibunda tidak begitu menuntut saya untuk bermukim lagi di kampung halaman *karena ga memiliki anak perempuan 😳 * Saya merasa tidak begitu terbebani.

Sebaliknya, adik perempuan saya yang suaminya berasal dari daerah yang sama, agak sedikit kelimpungan menghadapi keinginan ibunda ini. Mana untuk itu harus mengurus prosedur lumayan panjang untuk pindah kerjaan. Tapi, dia memang dari dulu paling betah di kampung, lebih sedikit malalanya. Ga ada hari libur sekolah yang tidak diisinya dengan pulkam.

Harapan Harus Selalu Dijaga

Bukan mau berbicara tentang hak  orang tua atau sebaliknya kewajiban seorang anak. Hanya berbeda tempat memenuhi kedua hal tersebut. Anak maunya orang tua menikmati kebersamaan dengan keluarganya di perantauan. Orang tua maunya kebersamaan itu dijalani di kampung halamannya.

Mudahan semuanya menikmati saat ini yang masih dipunya. Karena keinginan, rencana, harapan, semuanya masih misteri.

Semoga aja ibunda di anugerahi kesehatan dan umur panjang, sehingga keinginannya untuk menghabiskan usia senja dikampung halaman bersama salah satu anak menantu dan cucu-cucunya kesampaian ❤ ❤ ❤ . Dan anak menantu terasa ringan melangkahkan kaki untuk kembali ke kampung halaman.

Jangan terlalu dianggap serius. Ini hanya catatan seorang anak untuk mengingat sebuah keinginan ‘sederhana’ ibundanya yang masih terasa sulit untuk dipenuhi 😥 . Jika ada yang mengalami kondisi yang sama, semoga juga bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik 🙂

Iklan

26 comments

  1. Sama kondisinya mbak. Malah rumah di kampung yang ditempati orang tua sudah dihibahkan pada saya, jadi sertifikat sudah atas nama saya. Besar sekali harapannya saya bisa pulang kampung.

    Sementara dari pihak suami juga sama. Klo salah satu dituruti, nanti yang satu jadi iri. Jadi ya, tetap saja kami tinggal di perantauan 🙂

  2. Salam kenal yah kak Salma. 🙂

    Wah aku malah kebalikannya nih pengen banget pulang kampung.
    kebetulan dari lahir orang tua di jakarta padahal aslinya dari maluku.
    jadi suatu saat kalo ada kesempatan untuk pulang kepingin pulang.
    walaupun bukan untuk menetap di kampung halaman.

    oh ia aku juga pengen banget bisa main-main ke sumbar suatu saat jika ada kesempatan.

    • Jabat tangan Didi *bener kan manggilnya?* 🙂
      Maluku katanya sangat indah alam bawah lautnya.
      Kalau pulang, setiap tahun biasanya sih pulang kampung. Tapi kalau untuk menetap lagi, perlu benar2 diniat dan persiapkan.
      Hayuk jelajahi Indonesia selagi masih muda. Sekarang kan katanya sedang digalakkan program Bali baru yaa.

  3. Keinginan wajar dari orang tua ingin menghabiskan hari tua di tanah kelahiran. Panggilan tanah kampung halaman begitu kuat, karena disanalah ari-ari ditanam.

    Kalo saya akan sangat senang berhari tua di kampung, karena sejak umur 15 tahun saya tak menetap lagi di kampung halaman. Hidup nomaden tak seenak hidup menetap.

    • Saya umur 15 juga hanya libur sekolah berada di kampung, walau masih di Sumbar sih. Umur 23 udah ke Pulau Jawa. Pulang sudah diniatkan hanya saat libur atau ada keperluan aja 😀

  4. Aku dari kecil ikut orang tua ke perantauan mbak. Kurang lebih 20 tahunan. Setelah itu, orang tua saya milih pulang kampung, pindah kerjaan di kampung semua. Saya cuman bertahan 1 tahun di perantauan habis itu ikut orang tua pindah ke kampung. Kalau dari sisi anak ya mbak, bakalan berat tuh ninggalin tempat masa tumbuhnya, ninggalin temen-temennya (ini yang paling sulit), terlebih hidup di kampung nggak bisa ini itu, nggak bisa beli ini itu beda sama di perantauan (utamanya di kota besar) yang apa-apa udah tersedia. Tapi ya, yang namanya anak, kalau belum berkeluarga, pengennya dempet orang tuanya mulu, beda kalau yang udah berkeluarga ya. Naaah postingan ini aku jadi belajar gimana nanti situasinya kalau udah berkeluarga. Nice post mbak, terimakasih yaaa hehehe

    • bukannya sebutannya papabackpacker? Berarti udah ada mamabackpackernya dong?
      Hmmm,, biasanya yg berat pindah itu memang anak2 ya. Syukurnya, anak saya dan ponakan2 ga punya kendala dengan itu. Mereka sangat asyik2 aja untuk kembali ke kampung. Di perantauan area bermain terbatas. Di kampung, sungai, sawah, pantai, bukit, semua tersedia utk di jelajahi. Kampung itu sangat mengasyikkan bagi mereka, hanya satu keluhannya, sinyal susah 😀

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.