Bermain Kelereng Mengasyikkan, Asalkan,,,


Bermain kelereng mengasyikkan, asalkan memainkannya tidak dalam bentuk ‘judi terselubung’.

Kok bisa begitu, Mak?

Bermain Kelereng

Kelereng warna warni yang cantik ini akan berpindah tangan pada yang memenangkannya. Tapi, kan bisa di negosiasi aturan permainannyakan? πŸ™‚

Beberapa waktu yang lalu, junior kembali memainkan kelereng yang sudah dimilikinya dari tiga tahun lalu. Kalo kelereng jaman dia masih kecil, udah ga ketahuan rimbanya dimana.

Nah, kelereng yang disimpannya dari 3 tahun lalu itu, jumlahnya lumayan banyak. Ya, iyalah, secara main kelerengnya selama ini hanya sama emaknya πŸ˜› .

Ternyata, belakangan ini, teman-teman di perumahan mulai memainkan permainan kelereng lagi. Di salah satu sore, karena listrik mati, ia tidak bisa main game. Ia pun memilih mengikuti suara nyinyir emaknya yang memintanya untuk keluar bermain atau muter-muter dengan sepeda.

Melihat teman-temannya pada main kelereng, ia pun balik ke rumah, mencari kelereng simpanannya, ikut bermain. Pulang-pulang membawa kelereng yang lebih banyak, secara dia menang, dan dengan senangnya nyelutuk, “ternyata bermain kelereng bersama teman-teman itu, mengasyikkan. Besok aku mau main lagi,” sambil menyimpan kelerengnya. Emak hanya mendehem aja.

Sore esoknya, setelah Ashar, ia pun menenteng kantong kelerengnya keluar rumah. Pulang-pulang dengan wajah cemberut, “yaah,, kelerengku tinggal separoh. Kalah. Tapi besok main lagi ahhh.”

Esok sorenya, di jam yang hampir sama, bermain kelereng lagi. Pulang-pulang hanya membawa kantong kelerengnya aja dan wajah jutek, “main kelereng ga asyik lagi. Aku kalah mulu, kelereng ku jadi habis deh.”

Giliran kalah, main kelereng jadi tidak mengasyikkan?

Emak pun mulai nyelutuk, “kalo main kelerengnya seperti itu, kalian sama dengan berjudi lho. Ya, ga asyiklah, yang kalah kelerengnya jadi habis. Kan bisa mainnya dengan menetapkan aturannya dulu, di akhir permainan, kelereng kembali ke pemilik masing-masing. Kayak main kelereng sama Mama.”

Junior nyahut, “kata temanku, ga seru kalo selesai main, kelerengnya di kembalikan lagi. Padahal, kelerengku kan banyak.”

Emak pun bersuara, “tujuan bermain itu kan biar senang, pikiran berlatih fokus saat menjentik kelereng, kalian juga belajar strategi biar bisa mengenai kelereng lawan. Selesainya, bisa bernegosiasi, mengingat kembali, masing-masing menanam modal kelereng berapa di awal permainan, kemudian dibagi rata kembali. Nah, bagi yang kalah, bisa ngasih ke teman yang menang beberapa kelereng, sebagai bentuk penghargaan atas kecekatannya menjentik kelereng. Kalian pun akan pulang dengan gembira.”

Junior pun manggut-manggut mendengar celotehan emaknya. Besok-besok, kalo bermain apapun dengan teman-teman, harus sepakati dulu aturan permainannya, tujuannya agar selesai bermain, kalian tidak perlu merasa sedih oleh kalah dan menang dalam permainan tersebut. Yang paling utama, sportifitas saat bermain ya. Kalah dan menang itu hal biasa.
Selamat bermain anak-anak πŸ™‚ .

Note:

Permainan dibuat tujuan utamanya agar kalian menikmati masa kecil dengan menyenangkan, bermain bersama teman-teman, bersosialisasi dengan baik, menerima kekalahan, yang menang juga ga boleh sombong. Bukan untuk mengumpulkan kelereng sebanyak-banyaknya, tapi menikmati proses bermainnya, kalian juga harus tau kapan harus menyudahi permainan.

Jangan karena bermain, kalian melakukan tindakan yang ga baik.

Di tempat emak yang menulis ini, gegara ingin bermain, anak-anak ada yang nyolong duit orang tuanya, bahkan membobol kotak infaq masjid. Permainan harusnya membuat kalian kreatif, tapi yang posistif.

Misalnya, menyisihkan uang jajan untuk beli mainan, memainkan permainan lain yang tak memerlukan uang. Atau rame-rame keliling nyari botol bekas, koran bekas, kemudian di jual ke tukang loak. Itu baru namanya anak-anak keren yang kreatif πŸ˜€ .

Iklan