Gigitan Lintah, Membuat Kaki Bernanah?


Gigitan Lintah, Membuat Kaki Bernanah? Lama ga nongol, setelah menuliskan tekad akan tetap semangat mengurus blog ini, eh, nongol-nongol dengan judul tulisan aneh begitu.

Hmm, *benerin duduk, renggangkan tangan, siap mengetik*.

Jadi begini, sekitar awal Februari 2016 ini, tepatnya hari Selasa tanggal 2, Junior ada kegiatan sekolah di daerah Karawang, menginap 2 malam di rumah penduduk. Nama tepat dari desanya, saya lupa.

Disana, mereka ada kegiatan ke sawah-sawah gitu. Namanya anak-anak, pasti bakal belepotan lumpur. Mereka pun di giring mandi ke sungai yang ada di desa itu.

Junior saya sangat menyukai kegiatan seperti itu.

Ini bisa dilihat dari laporannya saat pulang pada hari Kamis, 4 Februari, dengan mata terlihat mengantuk, tapi ekspresinya sangat senang dengan semua rangkaian kegiatan yang barusan dilakukan.

Ceritanya, “batu di sungainya bagus, air sungainya segar. Tapi,, aku digigit lintah. Ga apa-apa kok, hanya luka sedikit. Teman-teman ku juga banyak yang digigit. Kapan-kapan kita kesana yuk, Mam. Sungainya beda dengan sungai di kampung nenek, atau sungai di kampung papa. Sungai yang ini lebih seru”, sambil memperlihatkan luka kecil pada kakinya yang katanya digigit lintah. Ia juga menambahkan kalo area di bekas gigitan itu terasa gatal.

Saya tanya, apa gurunya tau kalo dia digigit lintah.

Dia bilang, guru yang mendampingi kelompoknya sih tau. Tapi, ga diobati, karena dianggap biasa. Anak-anak lain juga tidak ada yang mengeluh.

Saya berpikir, mungkin karena mandi si junior kurang bersih, makanya area bekas gigitannya gatal.

Saya lihat memang hanya luka bintik kecil.

Junior pun saya suruh mandi .

Awalnya dia menolak, karena merasa disana sudah mandi.

Selesai mandi, lukanya saya bersihkan pakai air hangat. Setelah diperhatikan secara teliti, ternyata disekitaran luka tersebut ada bintik-bintik kecil, bintik-bintik dikulit kayak kita kalo lagi merinding.

Area luka itu tak kasih obat yang biasa dipakaikan ke luka. Anaknya juga saya suruh minum Habat.

Saya perhatikan lagi, itu anak ternyata jalannya agak pincang.

Emaknya tentu nyinyir bertanya, “kakinya kenapa? keseleo ato gimana.”

Barulah dia perlihatkan telapak kakinya yang ternyata juga luka πŸ˜₯ . Entah ketusuk kayu, atau batu yang runcing.

Luka kecil di telapak kakinya itu yang justru terlihat sudah mengkhawatirkan, memerah dan dekat lukanya juga sudah bernanah.

Saya bersihkan, tapi, ‘benda’ yang masuk ke kulit telapak kakinya, saya tak berani mengeluarkannya.

Saya tawarkan anaknya untuk ke dokter.

Anaknya menanyakan tindakan apa yang akan dilakukan dokter.

Saya sebagai emaknya ini juga terlalu jujur bilang pada anaknya, paling dibuka ‘sedikit’ kulit telapaknya, untuk mengambil benda yang menusuk itu.

Junior ga mau.

Saya pun tak memaksa, karena badannya tidak panas. Secara umum, lukanya tidak terlalu serius.

Saya coba berpikir positif, setelah diberi obat, itu nanahnya pasti kering, dan benda yang hanya dibawah kulit telapak kaki dikit itu, tidak masuk ke daging itu akan bisa diambil.

Sebelumnya tentu saya pastikan lagi, dia lukanya kapan, badannya meriang ga. Ternyata, tertusuk di telapak kaki dan digigit lintah itu terjadi pada hari Rabu.

Saya sebenarnya tidak mencemaskan luka yang digigit lintah, justru agak sedikit khawatir dengan luka yang ditelapak kakinya. Takut infeksi berlanjut.

Bisul Karena Digigit Lintah
Ini udah mulai kering. Kulit yang ‘menghitam’ juga udah hilang.

Setelah diobati, dia main game, kemudian tertidur.

Begitu bangun, dia merasa telapak kakinya sudah ga sakit buat menapak. Ternyata, itu luka hanya karena tidak dapat pertolongan pertama aja. Aman.

Besoknya, bintik-bintik kecil yang disekitar gigitan lintah, semakin banyak dan jelas terlihat.

Area disekitarnya, kira-kira seluas telapak tangan, seperti berwarna hitam keunguan.

Sabtunya, bintik-bintik itu berubah, berisi cairan putih kayak nanah.
Minggunya, bintik-bintiknya melebar. Badannya ga apa-apa, ga panas, ga pusing.
Tetap keukeuh gak mau dibawa ke dokter.

Artinya, area gigitan baru bereaksi setelah tiga hari dari gigitan binatang tersebut.

Tetangga yang kerja di apotek menyarankan memberi salap, dengan merekomendasikan mereknya .

Saya juga membersihkan lukanya yang sudah bernanah itu dengan larutan NaCl 0,9 % yang dibeli diapotik.

Luka tertusuk di telapak kaki udah sembuh.

Tapi, luka bekas gigitan lintah, yang awalnya hanya bintik, kakinya jadi penuh benjolan berisi nanah.

Saya yang membersihkan, mulai mencium bau tidak sedap.
Dia tetap pede kalo lukanya akan kering nantinya, kan diobati mamanya dengan penuh kasih sayang πŸ˜› .

Sementara emaknya, udah berpikiran macam-macam, apa ini anak kena gula, secara badannya subur. Mana udah kelas 6, udah libur 3 hari.

Ini anak harus ke dokter.

Dia tetap ga mau ke dokter karena ga mau di suntik.
Saya bingung, ini anak kan jarang sakit, ga pernah disuntik *kecuali dulu imunisasi*. Sakitnya, paling badannya angat karena kecape-an aja, yang bisa ditangani oleh emaknya dengan dikompres plus kasih makan kesukannya. Kenapa dia jadi takut di suntik?

Ternyata, dia ingat sakit di suntik saat khitan. Alamak, itu kan udah 3 tahun yang lalu ❓ .

Setelah dibujuk, ga bakal di suntik, tepatnya satu minggu sejak di gigit lintah, akhirnya ia mau.

Dokter yang melihat kakinya yang sudah bernanah, tentu saja komplain.

Kata si dokter, itu bisa semacam ‘rabies’. Dia coba obat dengan dosis rendah dulu, kalo dalam tiga hari ga sembuh, berarti ada ‘cacing’ yang masuk ke aliran darah.

Tapi si dokter juga bingung dan ga yakin, kalau seperti itu, ini anak seharusnya demam, merasa pusing dan mual-mual.

Akhirnya, si dokter pesan ke anaknya janga makan ikan, telur, kacang dan makanan ringan yang berasa gurih-gurih gitu dulu.

Si dokter pesan ke emaknya, pakaian anaknya, saat mencuci, harus dipisah, dibilas air panas terlebih dulu.

Wew, emaknya jadi merinding, sambil berdoa anaknya ga apa-apa.

Saat ngasih resep salep, dokter mau memberikan salap yang sebelumnya sudah saya pakaikan ke anaknya *salep dari informasi tetangga yang kerja di apotek*. Salep murah meriah. Saya agak lega dikit, berarti ga salah kasih salep saya sebelumnya.

Akhirnya, Si dokter kemudian ganti dengan salep yang berbentuk gel.

Sebelum diolesi, saya tetap boleh membersihkan dengan larutan NaCl 0,9%.

Alhamdulillah, setelah tiga hari, semua nanahnya mengering.
Benar-benar hanya tinggal bekasnya saja setelah 2 minggu dari kejadian.

Herannya, anak-anak lain yang katanya juga di gigit lintah, baik-baik saja.

Pesan moralnya:

Jika luka karena di gigit binatang, dan emak tidak menyaksikannya langsung. Cepat ambil tindakan medis. Jangan tunggu sampai bernanah! Anaknya ga mau, orangtua harus buat si anak mau.

Karena, ada juga bekas gigitan binatang, darah tempat digigit itu harus dikeluarkan. Reaksinya tidak langsung, tapi tiga hari setelah di gigit. Takutnya lagi ada virus rabies atau tetanus yang menyertainya.

***Tulisan ini hanya sekedar catatan harian emak dan anaknya.
Happy Blogging πŸ™‚ .

Iklan

29 comments

    • Efek sudah digigitnya yg parah Un,
      Kata anaknya sih lintah, lha orang lintah dipake buat terapi, makanya agak bingung. Kayaknya digigit binatang beracun.
      Alhamdulillah, untung cowok, kalo cewek, gini hari kakinya bekas ada ‘korengan’ kan nanti jadi tengsin sendiri πŸ™‚

  1. Iya benar luka seperti apapun harus segera diberikan pengobatan. Takutnya terjadi infeksi. Alhamdulillah luka si junior sudah sembuh πŸ™‚

  2. serem juga ya kak gigitannya, padahal kirain lintah tu bagus buat kesehatan. konon katany kalau digigit lintah dibiarin sampai dia kenyang. tapi gak tw mitos atau tidak. untung udah sehat ya kka

    • Entah lintah, entah digigit apa, anaknya taunya dibilang gurunya lintah. Mungkin reaksi orang beda2 terhadap gigitannya Win. Bisa juga krn bekas gigitannya ga langsung dibersihkan. Anaknya cuek, guru jg banyak tanggung jawabnya. Nyampe rumah, sy jg antisipasinya kurang maksimal.

  3. Wah terima kasih infonya nih …
    ini bisa menjadi perhatian kita semua …
    mungkin tidak semua lintah mempunyai efek seperti itu … namun yang namanya di lapangan apapun bisa terjadi …

    Sekali lagi terima kasih Bu
    Semoga kita semua sehat-sehat saja

    Salam saya

    • Sangat serem ngelihatnya, apalagi saat semua kulit disekitar luka itu menghitam.
      Enggak panas sih, Dah. Iya, terapi lintah memang ada, mungkin jenis lintahnya yang beda. Entah apa yang gigit anak ini.

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.