Cerita Mengurus Mutasi Kendaraan


Kendaraan roda dua alias motor yang sudah hampir lima tahun terakhir menemani, harus perpanjang STNK. Berhubung KTP yang saya pergunakan sebagai tanda pengenal untuk mengurus surat-surat, sudah berubah alamat dua tahun terakhir ini. Maka saya putuskan untuk mutasi aja ke alamat yang sekarang.

Sebelumnya, dengan telah beralih menggunakan EKTP, saya sempat berharap, jika hanya perubahan alamat tempat tinggal, nama pemiliknya tetap, semua pengurusan yang berhubungan dengan pajak kendaraan tidak akan bermasalah. Kan data di EKTPnya sudah disimpan di database yang bisa dipergunakan secara online.

Ternyata perkiraan saya salah. Alamat di data pemilik kendaraan berbeda dengan alamat KTP yang saya pegang sekarang, walau orangnya sama, tetap aja dianggap dokumennya tak sesuai. Jadilah dua tahun terakhir ini saya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ‘nembak data KTP’ *nasib rakyat yang harus berurusan dengan birokrasi* πŸ˜₯ .

Cerita Mengurus Mutasi KendaraanUntuk menghindari keribetan diatas, setiap tahunnya, saya putuskan motornya dimutasi aja. Cabut berkas di tempat lama, saya minta tolong orang, kena 650ribu. Pertengahan Oktober 2014 mulai di urus, dapat dokumennya akhir November, ternyata KTP saya terselip sama anak buah yang ngurus *kebetulan lagi mudik ke kampungnya* 😦 .

Seminggu kemudian baru berkasnya bisa saya bawa ke Samsat yang sesuai dengan alamat sekarang, dan bertekad untuk mengurus sendiri, semangat!

Berkas saya serahkan ke bagian penerimaan berkas untuk mutasi masuk kendaraan. Lokasinya paling cepat ditempuh dalam waktu 1.5 jam naik motor dari rumah sekali jalan *pantat gempor juga* Di cek, ternyata masih ada dokumen yang kurang. Saya harus balik lagi ke yang dimintain tolong cabut berkas. Harus menunggu lagi 3-5 hari.

Minggu berikutnya saya balik ke Samsat. Serahkan dokumen, Ok, cek fisik kendaraan. Setelah semua proses untuk mutasi masuk dinyatakan Ok, saya harus lapor ke Polda Jabar di Bandung, karena termasuk mutasi antar daerah (dari Polda Metro Jaya). Akhirnya saya memutuskan minta tolong orang lagi aja untuk urusan itu πŸ˜₯ *sebaiknya kan ada bagian dari Samsat sendiri yang mengurus ini*

Setelah dipotong libur Natal dan Tahun Baru, tanggal 12 Januari 2015 kemaren, baru saya menerima berkas yang dari Bandung itu.

Kemaren, sampai Samsat sekitar pukul 10.15 WIB. Cek berkas, Pendaftaran, Antri pembayaran di kasir, kemudian menerima BPKB dan STNK baru sekitar pukul 13.15 (potong istirahat 1 jam). Lumayan cepat jika semua berkas lengkap.

Tapi, setelah saya teliti, alamat saya di STNK motor yang baru, salah! *rasanya mau nangis guling-guling*. Urus lagi ke loket sebelumnya. Akhirnya perbaikannya cuma bisa di ketik manual, kemudian di kasih cap. Sementara di data base katanya sih sudah di revisi, mudahan aja, jadi tahun depan saya ga perlu ruwet lagi urusannya.

Akhirnya menerima plat motor baru sekitar pukul 14.00 WIB. Kemudian menuju Polres untuk legalisir BPKB. Sebulan lagi baru BPKB yang sudah di legalisirnya bisa diambil. Sebuah pengalaman berharga mengurus surat-surat sendiri πŸ˜› .

Jika dokumen lengkap dan anda punya waktu, sepertinya untuk mengurus mutasi kendaraan bermotor sendiri sudah lumayan enak untuk dijalani. Prosesnya di awali dengan cabut berkas di Samsat awal: cek fisik kendaraan, isi formulir pendaftaran dan menyiapkan dokumen kelengkapannya (KTP, BPKB, STNK) dan biaya pencabutan resmi sekitar 75 ribu. Urus ke Polda terkait.

Kemudian proses mutasi masuk di tempat tujuan: Cek kelengkapan surat mutasi, cek fisik kendaraan, lapor masuk ke wilayah Polda baru (jika beda wilayah), isi formulir pendaftaran, ikut prosedur yang ada [biaya resmi: 50rb (STNK), 30rb (Plat No) plus pajak kendaraan].

Tapi, jika tidak punya waktu yang memadai, menggunakan jasa orang lain yang pekerjaannya memang itu, lebih bijaksana lagi. Anda tinggal menyiapkan dananya aja πŸ˜€ .

Semoga kedepannya, pelayanan satu atap untuk semua urusan itu jauh lebih mudah lagi, dan tak perlu pakai ribet seperti cerita mengurus mutasi kendaraan diatas. Sesuai slogan yang dicanangkan,’Calo dilarang masuk’.

Iklan