Kecil-Kecil Pintar Ngomong


Anak Kecil jago atau pinter/pintar Ngomong merupakan kelebihan tersendiri. Sebut saja namanya Zei *bukan nama sebenarnya*, anak laki-laki usia 6 tahun lebih itu, berwajah manis, darah Timur Tengah kental terlihat di parasnya. Dia baru pindah.

Pertama kali ngelihatnya, suatu hari di Sabtu sore, waktu lagi merapikan rumput dan tanaman di depan rumah. Dia sibuk mondar-mandir bersepeda sambil bersuara,”Akulah Garuda”. Aku melempar senyum. Dia balas senyum. Tapi kemudian kami asyik dengan kegiatan masing-masing.

Setelah saya ke dalam untuk mandi sore, ternyata dia masuk ke halaman, melihat kucing dan kura-kura. Rupanya dia sudah ‘lumayan akrab’ dengan teman hidup. Pintar ngomongnya terdengar ke kamar mandi,”Pakde kucingnya jangan lupa dikasih makan, nanti kalau lupa, bisa mati kayak kucing ku. Kura-kura, airnya juga harus bersih lho ya”.

Minggu pagi, dia sibuk memanggil-manggil,”Atuk o atuk” *logat Upin Ipin. Saya keluar, langsung di berondong pertanyaan,”Pakdenya mana? Itu air kura-kura kenapa dibiarkan sampai kotor begitu? Lupa membersihkan ya? Kan kasihan”.

“Pakdenya lagi sepedaan di luar tuh”.

“Ya udah, aku cari dulu”. Dia keluar gowes sepedanya. Sayanya hanya ❓ .

Tak berapa lama dia berhasil membawa teman hidup pulang dan “dipaksa” membersihkan air kura-kura, sambil “diawasi” 😆 . Junior yang mendengar keasyikan Zei ngobrol, di suruh kenalan, malah gak mau.

Hari berikutnya. Entah bagaimana ceritanya, Junior dan Zei malah sudah berteman. Mereka asyik main game dan sepedaan bareng.

Bocah-bocah Kecil sedang berkumpul di satu petang.

Bocah-bocah Kecil sedang berkumpul di satu petang.

Di Hari Sabtu dan Minggu berikutnya dia sudah memanggil-manggil di depan rumah. Junior yang belum bangun, langsung tergopoh-gopoh membukakan pintu, kemudian baru Sholat Subuh. Emaknya dari tadi tadi nyuruh bangun, jawabannya,”Ntar dulu Mam, masih ngantuk”.

Rabu pagi sekitar pukul 6, Zei juga sudah berkunjung. Junior yang sudah berseragam lengkap sekolah dan masih UAS ganjil, menolak kunjungan tersebut *Bakal diceramahin sama emaknya, jika hari sekolah, belum sarapan, tapi sudah akan bermain. “Emang udah ga tau waktu, kapan main dan kegiatan lain?”*.

Minggu pagi kemaren, Zei juga nyamperin mau ngajak main. Junior merasa badannya kurang enak, sepertinya dia ogah-ogahan. Saya hanya melihat dari jauh, mereka berdialog. Yang satu berwajah masih kuyu dan ngantuk, yang satunya memasang wajah agak di tekuk dengan sedikit kesal. Kemudian Junior masuk ke dalam dan yang satunya tetap duduk di luar *udah kayak di sinetron-sinetron aja* 😛 .

Saya keluar dan menegur Zei,”kok ga sepedaan?”. Trus menjelaskan, “Junior lagi kurang enak badan, biar istirahat dulu, nanti agak siangan mungkin udah enakan buat diajak main”.

“Dia cuma akting aja kurang enak badannya. Tadi aku beranjak sedikit, dia bilang Yes! Pasti dia lagi cari-cari alasan ga mau main”. Saya sampai menahan senyum mendengar jawaban Zei. “Masa Tante boong sama kamu?”. Zei akhirnya percaya.

Setelah sarapan, Junior rebahan lagi, sambil ngomong, masa Zei tadi bilang gini Ma,”Buat apa kita sahabatan kalau kamu ga mau main. Aku juga di bilang ga enak badan hanya akting doang”. Kemudian aku bilang aja,”Kalau kamu ga percaya, ya udah, kita ga usah sahabatan aja”.

Anak sinetron sama anak-anak umumnya, ternyata berbeda cara menyikapi sebuah alasan yang dikemukakan atau diberikan kepadanya. Saya akhirnya ngasih tau Junior,”Kalau ngasih alasan, wajahnya yang serius biar lebih meyakinkan temannya”.

Walau secara usia Zei lebih muda 4 tahun dari Junior. Tapi untuk urusan ngomong, dia jauh lebih jago. Mungkin karena faktor dia sudah main sinetron dari usia 5 tahun kali ya. Menurut pengakuannya sih dia sudah membintangi beberapa sinetron, tapi saya lupa dan ga ngeh sama judulnya. Efek jarang nonton sinetron :mrgreen: . Sekarang sedang belum ada jadwal shooting.

Hari itu, setelah istirahat, siangnya dan hari-hari berikutnya mereka udah main bareng lagi. Ngambek-ngambeknya udahan. Zei akhirnya juga gabung main dengan teman-teman Junior yang lain.

Duh bocah, akhirnya kembali ke sifat asli anak-anaknya secara alamiah. Bermain dan tertawa lepas dengan santai dan ceria, tanpa di embel-embeli kata “akting/lakon/sandiwara”.

Anak-anak nikmatilah waktu bermain dan bersahabat mu dengan sebaik-baiknya.

Iklan