Selamat UAS dengan Persiapan Belajar Maksimal


Selamat UAS bagi mereka yang masih sekolah. UAS itu sama dengan ujian biasa, tak perlu ditakuti, semua bisa dilalui dengan Persiapan Belajar Maksimal. Belajar dengan cara ‘cerdas’ saat menjadi anak sekolah, dulu dan sekarang itu sebuah keharusan.

Jaman SD, dari kelas empat saya sudah mulai mengenal belajar bareng *kelas tiga ke bawah, masih belum kepikiran*. Secara orangtuanya guru, banyaklah teman-teman yang nginap di rumah untuk belajar bareng, walau lebih banyak ngobrol, main dan becandanya. Setidaknya tujuannya mulia, belajar.

Persiapan Maksimal UASLanjut ke level pendidikan berikutnya, mulai mengenal istilah macam-macam menjelang ujian dari teman-teman. Ada yang sistem kebut semalam, ada yang istilahnya ritual minum kopi sambil mematangkan resep kecil-kecil *contekan*, ada yang berburu catatan untuk di fotocopy, sibuklah ceritanya kalau sudah mendekati ujian.

Kalau saya termasuk yang nyantai. Entah kenapa, mulai masuk SMP, hobi bermain dan berkeliaran ke segala penjuru kampung, sontak berkurang *mungin udah kenal malu*. Candu bacanya yang meningkat drastis, ga ada buku cerita, koran, novel, majalah yang dibaca, akhirnya buku pelajaranlah yang dibolak balik *kehabisan bahan bacaan*.

Apalagi ibu terbiasa bangun dari jam 3 atau 4 pagi, setelah melaksanakan kewajibannya sebagai hamba, beliau asyik membaca. Satu waktu saya ikutan terbangun, dan ga bisa tidur lagi, akhirnya ikut-ikutan membaca sebelum atau sesudah waktu subuh. Sepertinya apa yang dibaca dipagi hari itu lebih lama tinggal di kepalanya. Kebiasaan membaca di pagi hari ini ternyata mengasyikkan.

Kebiasaan ini terhenti setelah mulai kerja, malah waktu membacanya berkurang drastis.

Semenjak jadi emak-emak, saya berusaha menularkan kebiasaan membaca ini pada junior, tetapi tidak berhasil. Mulai dari membelikan buku dengan gambar menarik, milih sendiri yang dia suka, tetap aja hanya dilihat selintas 😥 . Mungkin pengaruh kebiasaan orangtuanya satu lagi ya *bapaknya, red*. Dan dipengaruhi kepribadian seorang anak. Entahlah.

Sebagai emaknya, suka gemes. Ngelihat dia tidak mengeluarkan dan memanfaatkan kemampuan yang sudah dianugerahkan-Nya dengan maksimal.

Jika guru di sekolah menerangkan asyik, pelajaran itu bakal langsung diingatnya dengan baik. Sebaliknya jika kurang menarik, membalik halaman buku pelajaran di rumah pun malas. Waktu belajar dikelaspun, kurang serius. Duh!

Akibatnya, nilai yang di perolehnya seperti lembah terdalam dan bukit tertinggi. Perbedaan nilai antara pelajaran yang di suka, serta faktor guru asyik dan tidak, jauh sekali.

Kelas empat, nilai teori agamanya, pas-pasan. Hafalan do’a, hadist, termasuk bagus. Nilai-nilai pelajaran umum, lumayan bagus. TIK dan Bahasa Inggris, istimewa. Hasil UTS kemaren, terbalik. Nilai pelajaran umumnya, memprihatinkan. Nilai teori agama (akidah, akhlak, keimanan) lumayan baik. Kebetulan yang ngajar pelajaran umum itu wali kelasnya, kena panggil dan dapat nasehat khususlah dia dari wali kelas tersebut. Lumayan ada peningkatan.

Secara udah mau UAS semester ganjil, saya sebagai emak yang peduli dengan kegemesan guru melihat anak ini tidak memberikan kemampuan maksimal yang dia miliki. Mulai mengajaknya untuk mengulang pelajaran.

Di ajak membaca buku sore, alasannya ntar aja malam. Begitu malam, udah keburu ngantuk. Kalau dipaksa, ga ada hasilnya juga, percuma. Emaknya darah tinggi, anaknya manyun. Ga tega juga untuk memaksa, secara udah seharian berhadapan dengan pelajaran.

Tadi pagi, hari pertama UAS Ganjil. “Ayolah dibaca handsout yang udah dikasih guru mu itu” rayu emaknya.

“Dari kemaren-kemaren udah belajar itu mulu di sekolah, Ma. Udah bisa kok. Nilai ini dan itu ku pasti oke kok”. Ini dan itu adalah mata pelajaran yang di sukainya.

“Pelajaran lain, harusnya oke juga, kalau mau membaca handsout itu. Soal ujian dari situ semua. Jika rajin dikiiit lagi ajaa, tiga besar mah cipil itu”. Maksud emaknya sih memberi motivasi.

“Anak yang juara itu udah ada, Ma. Dia pinter lho. Biar aja dia yang jadi juara” wajahnya serius menjelaskan.

“Coba di perhatikan anak yang juara itu. Belajarnya di kelas yang sama, gurunya sama, buku-buku yang dipergunakan juga sama. Anggota badan, mata, telinga, kepala juga sama kan? Bedanya, dia lebih serius waktu belajar di kelas, dan mengulang pelajarannya di rumah”.

“Waahhh, kalau kepala orang ada yang dua, ajaib dong, Ma”.

Dianya malah tertarik dengan kepala orang lebih dari satu. Emak akhirnya hanya narik nafas. Berdo’a dia konsentrasi dan bisa memanggil simpanan pelajaran di memorinya.

Kalau suatu saat dia ada keinginan untuk mencari tau cara manjur menghadapi UAS. Kemudian browsing, nyasar ke blog ini. Dan membaca curhatan hati emaknya ini. Mungkin dia akan mengangguk-angguk atau bilang emaknya lebay.

Persiapan menghadapi UAS/UN/Ujian sekolah :

  • Hari H-1 itu waktunya istirahat, santai. Sudah ga belajar ‘keras’ lagi.
  • Saat belajar harian di kelas, usahakan yang belum jelas, diskusikan dengan guru sampai paham.
  • Biasakan rutin mengulang pelajaran di rumah minimal 30 menit, maksimal satu jam. Tinggal di jadwal aja mata pelajarannya. Waktu terbaik sebenarnya pagi hari. Tetapi kembali ke kebiasaan masing-masing.
  • Saat mengerjakan tugas, usahakan ngerti, bukan hanya asal selesai dari hasil nyontek. PR atau tuga itu anggap sekalian mengingat pelajaran.

Apalagi ya, persiapan menghadapi UAS/UN/Ujian sekolah ini biar ga menjadi momok bagi pelajar. Sobata blogger ada yang punya trik untuk dibagi? Dipersilahkan.

Iklan