Anak Perempuan Mengingat Sosok Ayah


Anak Perempuan Mengingat Sosok Ayah sepertinya takkan pernah kehabisan kata-kata untuk membahasnya. Laki-laki pertama dalam hidup yang dijadikan panutan, idola, sosok yang di kagumi, adalah seorang ayah.

Dibalik kasih sayang dan tidak bisa bilang tidak atas semua keinginan ku. Kau juga tegas dan keras dalam mendidik. Ini juga disebabkan karena ulahku yang tak mengindahkan laranganmu, padahal telah berjanji sebelumnya untuk memenuhinya.

AyahPernah satu sore, aku sudah di mandikan di rumah, dibedakin, luka-luka di kaki akibat main di sungai juga sudah di obati. Dan sudah dikasih tau sama ibu,”jangan main basah-basah dan kotor lagi”. Aku mengangguk mengiyakan. Aku pamit main keluar.

Tak berapa lama kemudian, tergoda melihat teman-teman yang cebar cebur, aku pun akhirnya ikutan. Bahkan sampai lupa waktu. Datanglah kau menjemput ku, dan sudah dapat dipastikan, sebuah hukuman siap menunggu.

Di sore yang lain, aku ikut menyusuri sungai mengikuti orang-orang dewasa menangkap ikan. Sudah berkumandang adzan magrib dan kau sudah berkeliling mencari ku. Aku muncul dari kejauhan dengan baju basah, jari-jari tangan dan kaki keriput karena terlalu lama di air. Kau hanya bisa menarik nafas.

Lain waktu, sepulang sekolah langsung main karet sampai menang banyak. Main congklak sampai lupa makan, lupa semuanya. Hasilnya, semua karet dan congklak itu berubah jadi kayu bakar :mrgreen: .

Ternyata kalau di ingat satu persatu, anak mu ini sangat bandel waktu kecilnya.

Setiap pagi, bahkan sampai belum berkeluarga, kalau pulang ke rumah. Kau akan membangunkan dengan menepuk-nepuk lembut punggung ku dan adikku. Kalau kami bilang masih ngantuk, kau tak memaksa, walau suara ibu sudah merepet untuk urusan bangun pagi.

Kau mempersiapkan semua kebutuhan sekolah dan masa depan anak-anak mu dengan matang. Kau takkan pernah memperhitungkan uang untuk urusan sekolah, bukan hanya untuk kami anak-anak mu, tapi semua yang menjadi tanggung jawabmu. Tidak foya-foya, tapi tak kekurangan.

Begitu banyaknya anak perempuan di sekitar rumah yang bersitegang dengan ibu mereka. Kau sedikit khawatir, kalau aku akan meniru sikap salah itu. Kau dengan hati-hati berpesan,”Jangan sekali-sekali melawan pada ibu mu. Ibu mu tak seperti ibu lain yang terbiasa berjawab kata, dia hanya akan diam. Dan itu, akan membuat dia sedih“.

Kau selalu mendahulukan kepentingan anak-anak mu dan orang lain. Wajar pada saat-saat tertentu, saat kau minta tolong, harus di lakukan secepatnya. Orang yang tak mengenal mu dengan baik, mengaanggap kau tak sabar.

Kau tak pernah berhenti memikirkan masa depan anak-anak mu. Bahkan di saat badan mu sudah susah di gerakkan. Kau meminta adikku untuk melanjutkan sekolahnya lagi. Biar anak-anaknya ibu yang menemani. Saat ku goda, kenapa aku tak di minta untuk sekolah juga. Kau menjawab,”kou ndak ba pucuak ndak baaka doh, baa ka tumbuah“. Kemudian kau terkekeh dan yang mendengar pun ikut tertawa.

Terlalu banyak cerita itu kalau di kenang dan dituliskan. Terima kasih Ayah, sudah menjadi Ayah terbaik dalam hidup ku.

Saat kau mau pulang ke rumah keabadian-Nya, kau mendatangi ku lewat mimpi. Kita seperti bercakap-cakap di teras rumah, tenang, damai.

Saat berita itu sampai. Aku sangat kehilangan. Semoga kau tenang di sana. I ❀ U Dad.

Iklan