Punya Barang Baru, Barang Lama Jangan Disingkirkan

Punya Barang Baru, Barang Lama Jangan Disingkirkan dulu secara langsung jika itu milik seorang anak. Apalagi bila itu termasuk salah satu benda atau mainana kesayangan anak.

Apabila mereka ingat lagi, akan sangat panjang dialog untuk memberi penjelasan pada mereka, hingga mereka benar-benar paham dan ngerti. Padahal sebelum menyingkirkan barang lama kepunyaan mereka itu, emak sudah meminta persetujuan si anak terlebih dahulu.

Sepeda Lama Yang Diperlukan Lagi

Tadi malam saat menemani si Junior tidur, seperti biasa kita melakukan obrolan menjelang tidur.

Tiba-tiba Junior bertanya tentang sepeda terakhir yang ukurannya kecil yang dulu dipunya, “Sepedaku yang dulu rem-nya ke belakang, ke mana ya, Ma. Kok ga ada ?”

Antena di kepala emak langsung siaga, ‘nih anak kok ingat sepeda yang sudah lama. Yang udah-udah ujung-ujungnya ga enak di kantong emaknya nih *emak suudzon* πŸ˜› .

“Sepeda yang mana? bukannya sepeda-sepeda yang udah ga ada itu, sepeda kecil semua?”

“Bukan yang warnanya biru semua, tapi sepeda yang ada warna merahnya. Itu kan sepedanya masih agak besaran. Masih bisa ku pakai sekarang, buat latihan sepeda pakai-pakai gaya. Ngangkat stangnya ga begitu berat”, junior berusaha mengingatkan emaknya.

Sepeda lama yang di ingat kembali.
Sepeda lama yang teringat kembali.

“Lho, bukannya dulu sudah ga mau memakai sepeda itu. Yang sadelnya keras, yang rantainya mudah copotlah. Kemudian minta hadiah rajin puasanya sepeda baru dewasa. Kamu sendiri yang nyuruh mama untuk kasih pada orang lain”.

“Iya sih, tapi kan mama ngasihnya bisa entar-entar dulu aja. Emangnya dikasih ke siapa Ma?”.

“Kalau barangnya memang tidak diperlukan lagi, tapi kondisinya masih sangat bagus, kan lebih bermanfaat dikasih ke orang lain yang ga punya sesegera mungkin. Lebih bermanfaat. Lagian, kalau ga disimpan baik-baik, itu sepeda kan bakal karatan. Mama kasihnya ke montir yang bantu benerin mobil”.

“Tapi aku sekarang mau pakai sepeda itu lagi. Tapi,,, ya udah deh”, lirih junior sambil mengambil posisi terbaiknya untuk tidur.

“Besok-besok kalau punya barang baru, barang lama yang sudah bosan, tetap dirawat dan disimpan dengan baik. Kalau kamu ingin memakai atau memainkannya lagi, tinggal diambil. Kalau memang sudah tidak mau lagi, bisa dikasih pada yang memerlukan dalam kondisi yang baik. Ga harus nunggu ga bagus dulu,” emak tetap aja melihat peluang untuk membisikkan dan menanam sebuah sikap bijak dalam belajar bertanggung jawab terhadap sebuah tindakan yang akan diambil dalam hidup anaknya kelak.

Junior yang sudah mengantuk, hanya mengangguk-angguk sebagai bentuk persetujuan dan memahami apa yang diucapkan emaknya.

Punya sesuatu yang baru memberikan rasa bahagia. Barang lama sejenis sebaiknya memang harus dipindahtangankan kepada yang memerlukan. Itu bagian dari sikap bijak terhadap benda/barang yang akan dan sudah dimiliki.

Tetapi kalau masih ada rasa sayang, bisa disimpan dulu untuk sementara, menunggu waktu yang tepat untuk barang tersebut mempunyai pemilik baru.

Bagi seorang anak mungkin masih ada sikap plin plan terhadap benda-benda yang berpindah tangan tersebut. Tapi bagi orang dewasa seperti kita yang masih suka belanja-belanja baju, tas, sepatu. Padahal tidak diperlukan banget, secara almari di rumah sudah penuh dengan berbagai koleksi. Maka sebelum membeli yang baru justru harus memilah-milah baju layak pakai atau barang apapun untuk dimanfaatkan oleh orang lain yang memerlukannya. Berapa banyak yang masuk, seharusnya sebanyak itu juga yang harus menemukan pemilik baru.

32 comments

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma..

    Bener mbak, elok baju atau apapun yang tidak digunakan lagi dan masih bagus, kita hulurkan sebagai bantuan buat yang memerlukan. Saya biasanya memberi baju-baju lama saya tetapi masih bagus dan terawat baik untuk disedekahkan kepada persatuan yang menjadi orang tengah untuk diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Iya, kadang kalau susah juga mahu mencari ide yang mengesankan anak-anak tentang barang lama mereka yang harus didermakan.

    Salam Ramadhan al-Mubarak dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    Suka

    • Waalaikumsalam bunda fatimah,
      saya juga setuju begitu Bund, kita tak menjadi pengumpul sesuatu yang memang kita tidak manfaatkan dengan maksimal. Secara rezki itu apa yang kita pakai sampai lusuh, apa yang kita makan sampai habis, dan apa yang bisa kita sedekahkan di jalan kebaikan.

      Salam kembali Bunda πŸ™‚

      Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.