Geliat Kehidupan di Bandara Soetta


Geliat Kehidupan di Bandara Soetta benar-benar saya saksikan lagi tadi pagi. Padahal, saya ke bandara Soeta itu terakhir kali baru 3 minggu yang lalu, menjemput ibunda.

Waktu itu memang sempat kaget juga dengan keramaiannya. Untuk nyari parkir aja beberapa kali harus muter-muter, penuh semua. Ini tak seperti biasanya,Β  apa karena efek dari hari liburan, atau konsolidasi jelang pilpres. Entahlah.

Saat itu, pemberitahuan kedatangan pesawat terdengar beberapa menit sekali. Bahkan, waktu mendarat pesawat yang ditumpangi oleh ibu saya, sampai menunggu sekitar 30 menit dari jadwal, dan pemberitahuan kedatangan dari pihak bandara yang sudah bilang bahwa pesawat sudah berada di Soeta.

Saya sampai geleng-geleng membayangkan pesawat ‘ngetem’ di atas udara Soetta, berjejer mungkin, antri untuk bisa turun ke landasan. Salut untuk ketelitian semua petugas.

Pengalaman Adalah Guru Terbaik

Hari ini ibu saya mau berangkat ke Kepulauan Riau. Berkaca dari kedatangan beberapa minggu lalu dengan kesibukan dari bandara Soeta, semua dipersiapkan dengan sangat matang.

Secara hari ini junior ada ulangan, ga enak izin. Saya pun berbagi tugas dengan teman hidup.

Kebetulan juga saya bisanya hanya gowes sepeda, ga bisa nyetir, hiks.
Karena yang mau terbang hanya ibu saja, bawaannya juga ga banyak. Jadilah kami memilih berangkat ke Soeta naik travel.

Secara hari ini hari kerja, saya tidak ingin sang ibu deg-deg-an di jalan menuju bandara kalau berangkatnya mepet.

Saya memilih menyediakan waktu perjalanan 4 jam sebelum keberangkatan pesawat. Nyari aman untuk antisipasi macet, atau bermasalah dengan kendraan yang ditumpangi.

Saya berangkat dari rumah saat yang lain masih menikmati selimut malamnya. Ternyata lancar. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sampai di bandara Soetta sekitar pukul 05.00 WIB.

Geliat Kehidupan di Bandara

Geliat Kehidupan Pagi Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Kami melakukan sholat Subuh di mushola bandara. Kemudian memilih duduk istirahat sebentar sembari memperhatikanΒ geliat kehidupan pagi hari di Soetta :

  • Kami langsung disamperin calo, ditawarin tiket. Katanya calo sudah ditertipkan? Tetapi serba salah juga. Calo itu ada, karena permintaan masih ada kan? Hmmm,, kalau saya pribadi, ga mungkin nekat ke bandara tanpa tiket. Kecuali, ada hal yang mendesak, yang tak direncanakan sebelumnya. Itupun beli tiketnya memilih di loket resmi maskapai.
  • Langsung ditawarin jasa porter untuk check-in, saya menolak secara halus. Masih ada waktu sekitar 1,5 jam lagi dari batasΒ check-in.

Setelah tiba waktu check-in, saya meminta ijin kepada petugas untuk bisa mengantarkan ibu yang sudah sepuh sampai ruang tunggu. Dikasih ijinnya hanya sampai tempat check-in. Ga apa-apalah.

Selesai urusan check-in, ibu saya jalan ke ruang tunggu. Saya memutuskan untuk tetap berada di area check-in dulu, menunggu telpon dari ibunda, menunggu kabar kalau beliau sudah berada di pesawat.

Lebih kurang satu setengah jam saya berada di area check-in, banyak hal yang saya amati.

  • Ada penumpang marah-marah karena ditinggal pesawat. Padahal, status tiketnya sudah check-in. Penumpang ini minta bukti kalau namanya dipanggil saat panggilan terakhir. Dia juga protes, saat maskapai datang telat, dia sebagai penumpang memaklumi. Tetapi, giliran penumpang yang ga ada, bukan telat, pesawat berangkat lebih cepat dari jadwal, main tinggal aja. Komunikasi dengan penumpang kurang baik.
  • Pengumuman dari pihak bandara berulang-ulang terdengar mengingatkan, “mohon kepada semua calon penumpang untuk menggunakan tiket, sesuai dengan identitas masing-masing”. Nah lo, kalau seperti ini, salah siapa ?
  • Ada tiga orang lelaki calon penumpang yang berdiri menunggu di sebelah saya. Mereka dengan dua koper ukuran lumayan besar, serta sebuah tas tenteng. Awalnya mereka bertiga tak menarik perhatian saya. Tapi, setelah salah satu dari mereka datang dari arah counter check-in dengan tas tenteng menuju temannya, kemudian dia melepas label pada tas tenteng tersebut. Saya bergumam, ‘nih orang ga tau apa, maksud dari tas tenteng itu dikasih label, itukan biar petugas maskapai bisa menghitung muatan tambahan yang masuk kabin pesawat. Duh”. Dia menyerahkan tas tenteng yang sudah dilepas labelnya itu ke temannya. Dia memindahkan label kuning itu ke koper bawaan. Temannya langsung jalan ke arah counter check-in. Mana pada salah satu koper ada tulisan, harus ada penanganan khusus oleh petugas. Mereka malas mengurus administrasi tambahan sepertinya. Setelah selesai mendapatkan tiga buah label dengan modal satu tas tenteng. Mereka pun melenggang menuju ruang tunggu :mrgreen: . Kalau penerbangannya lancar-lancar aja, tak masalah. Kalau sebaliknya. Siapa yang dirugikan dari hasil kerja curang seperti itu ya?
  • Selanjutnya, di layar monitor yang menampilkan status dan jam keberangkatan pesawat, tertulis jadwal : 08.45, tujuan Aceh. Eh, pemberitahuan dari pihak maskapai lewat halo-halo pengeras suara, panggilan terakhir pada penumpang untuk naik pesawat, pada pukul 08.00. Ada satu orang yang lari kocar kacir sambil telpon, temannya masih berada di bagian luar bandara, entah berapa jauh. Yang terdengar hanya suaranya untuk mengusahakan supaya tak ditinggal, hiks, kasihan amat nasib konsumen.

Geliat kehidupan di bandara udara bertaraf internasional, sebagai pintu gerbang ke, dan dari dunia luar. Bandara internasional Soetta itu teropong wajah Indonesia.

Di tahun 2014 ini, seharusnya bandara sudah tertata rapi.
Terminal 1 memang untuk penerbangan domistik, tetapi banyak para ekspatriat yang berseliweran di terminal tersebut. Mereka mlakukan perjalanan bisnis , ataupun sekedar melakukan liburan bersama konco-konconya.

Bandara international negara lain sudah canggih-canggih kalau di lihat dari berita. Masa bandara kita tertib dan tepat waktu aja masih sangat jauh? Geliat kehidupan bandara itu bukan hanya untuk karyawan, dan orang-orang maskapai penerbangan aja, tetapi geliat kehidupan wajah Indonesia tercinta ini.

Semoga ke depannya pelayanan bandara semakin baik.

Iklan

29 comments

  1. Bandara Internasional layaknya muka bagi kita. Akan memberikan kesan pertama bagi yg melihatnya. Sayang, muka itu masih menampilkan banyak kekurang-disiplinan.

    • padahal biasanya, muka selalu dipoles,
      untuk menampilkan ‘cahaya’ terbaik pemiliknya.
      semoga pemerintah daerah yang berwenang sesegra mungkin membenahinya,
      kualitas yang terlihat semakin berkurang.

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma…
    Mungkin sudah tiba masanya pengurusan (management) bandara international di sana di swastakan, mbak seperti di Malaysia. Dulunya pengurusan MAS di bawah perhatian pemerintah tetapi sudah diswastakan sehingga penataannya semakin baik dan berkelas dunia.

    bener sekali, bahawa bandara international adalah wajah yang memaparkan kehidupan bangsa dan negaranya. Semoga akan ada peningkatan kemajuan buat bandara Soetta di masa depan dan bisa dinikmati kemudahan dengan bijaknya.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    • Waalaikumsalam bunda Fatimah,
      Semua pelayanan, fasilitas Bandara Internasional itu memang harus berkelas dunia,
      secara gerbang sebuah negara.
      Mudahan pengelola bandara Soetta segera berbenah.

  3. saya ke bandara jarang-jarang seh. alhamdulillah pas datang hampir selalu tepat waktu jadwalnya dan nggak ngeliat hal yang macam-macam.

    nggak pernah ditawain jsa porter, karena bawaan cuma tas ransel doank πŸ˜€

    • bawaan saya juga cuma tas pakaian ibu,
      bukannya sering tugas luar lewat bandara?
      tapi lewat terminal 2F kan, biasa menggunakan maskapai BUMN kan πŸ˜‰

  4. Sama, Mbak. Di KNIA ini juga ada ibu-ibu yang mau ke Jakarta sama 2 orang anaknya, ditinggal pesawat gitu aja. Padahal dia ngga terlambat loh, cuma dateng 10 menit sebelum pesawat take-off. Kan seharusnya masih bisa. Marah-marah sampe gebrak meja. Heheh.. Tau lah orang Medan ya.. Untungnya ibu itu punya duit, jadi bisa beli 3 buah tiket yang harganya mahal banget, coba kalo ngga punya duit kan susah ya, pihak maskapai ngga mau tau pulak 😦

    • kalau 10 menit sebelum take-off dan belum check-in memang dianggap telat Beb,
      teman hidup saya pernah 25 menit sebelum take-off, tidak diijinkan check-in dan ditinggal πŸ˜₯ ,
      kalau kasus begini, penumpang memang harus mempersiapkan waktu lebih baik, biar ga ada yang dirugikan.

      • Masa sih, Mbak? Soalnya asal aku pigi naik pesawat, selalu nunggu loh sampe 15 menit setelah waktu take off, jadi take offnya dimundurin..

        Iya bener, buat antisipasi ya.. Wah, cepet kali ditinggalnya ya, Mbak? Apalagi kalo di sana kan bandaranya lumayan jauh ya. Sodara ku sering kali jam 4 pagi uda berangkat saking takutnya telat penerbangan pagi 😦

        • iya, ditahun kemaren, saya yang cuma dengarnya dari telpon bisanya ngomal, ngomel suruh protes *mulutnya emak-emak.
          akhirnya beli tiket baru lagi, tanpa kompensasi apa-apa dari maskapainya, hiks.
          kemaren saya jalan dari rumah jam 1/2 empat pagi Beb,
          takut kena macet, berabe, kalo sampai ketinggalan, yg berangkat bunda tercintah soalnya.

Tinggalkan Balasan ke alamendah Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.