Satu Tahun Sudah


  • Sudah beberapa tahun terlewati, semua sudah kembali pulih. Semu sudah terbiasa dengan goncangan kecil dan isu tsunami.  Semoga kita semua tidak lupa bersyukur karena  masih diberi kesempatan hidup tenang 🙂 .

Hari ini di tanggal yang sama 30 September, satu tahun sudah terlewati. Tetapi rasa kehilangan, trauma, akibat guncangannya masih terasa. Bahkan kehancuran yang diakibatkannya masih banyak berserakan berupa puing-puing. Seakan tidak punya kekuatan lagi untuk membuat bangunan itu berdiri kokoh lagi. Bukan hanya masalah materi yang diperlukan, tetapi juga moril yang dibawanya.

Bahkan seorang keponakan sahabat, yang sekarang berumur 6th, masih merasakan traumanya. Si keponakan tidak bisa merasakan getaran sedikitpun. Semua aktifitas, belajar, makan, bermain penuh canda sekalipun, akan sontak membuatnya berdiri pucat dan kaku. Bahkan, terkadang langsung mual dan muntah. Tidak mau berpisah dari orang-orang terdekatnya. Ahhh,, kejadian itu begitu dalam membekas di ingatan belianya 😦 .

Dia menyaksikan bangunan dua lantai rubuh, dalam hitungan kedipan mata rata dengan tanah. Belum lagi teriakan kepanikan di sekitarnya. Jiwanya yang masih sangat muda belum bisa mengkomunikasikan apa yang dilihat, dirasa dan ditakutkan saat itu dengan orang tuanya. Ia hanya bisa merasakan kepanikan dan ketakutan luar biasa.

Mungkin hanya waktu  dan kejadian-kejadian indah di depan yang akan memupus kekhawatirannya.

Hari ini 30 September, satu tahun sudah saya merasakan kepanikan itu.

Bagaimana cemas dan tegangnya untuk bisa menghubungi orang tua yang sudah sepuh. Padahal baru 40jam yang lalu, saya dan keluarga kecil berpamitan ke mereka untuk kembali ke kegiatan di lain pulau. Padahal, baru beberapa menit sebelumnya saya mengabarkan kalau kami sekeluarga sudah selamat sampai tujuan, tanpa kendala apapun di perjalanan.

Satu tahun lalu, berita gempa 7,9 SR yang mengguncang sebagian besar Sumatera Barat dan komunikasi telephone yang sempat terputus beberapa hari. Membuat kami dan juga saudara-saudara lain yang berada jauh di luar Sumbar, panik.

Tidak bisa mengetahui keselamatan keluarga di kampung. Alhamdulillah, semua selamat, walaupun rumah retak-retak dan perabotan rumah banyak yang pecah.

Hari ini 30 September, satu tahun sudah, saya googling di internet untuk mencari tahu perkembangannya. Prediksi para ahli tentang siklus gempa Mentawai yang akan selalu berulang mengikuti siklus 200 tahun. Hmm, manusia hanya bisa mengira-ngira, yang tahu pasti tentunya Sang Maha Pencipta.

Gempa satu tahun yang lalu itu, prediksi para ahli itu baru 1/3 nya dan masih ada 2/3nya lagi energi yang masih tersimpan dalam perut bumi.

Hanya Dia Yang Maha Tahu apa yang sebenarnya akan terjadi pada semua milik-Nya di bumi dan di langit. Kita sebagai khalifah di bumi hanya bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya, ataupun sudah kembali pulang ke rumah-Nya saat semuanya terjadi. lagi.

Satu yang tak boleh dilupakan bahwa semua yang dimiliki saat ini hanyalah titipan. Termasuk bumi dan segalanya, titipan dari generasi yang belum lahir.

Meminjam kata-kata bijak Jalaluddin Rumi :

Ketika engkau merasakan luka, bersyukurlah kepada Tuhan, karena luka ini, ditangan-Nya, begitu berkah. Ketika Dia senang, luka menjadi suka, dan belenggu menjadi kebebasan. .

Keimanan membawa penawar bagi hati dari luka dan derita, Kelemahan iman menuntun kepada kekecewaan dan siksa. .

Untuk saat ini, yang harus dilakukan adalah mengisi dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tetap berdoa, semangat dan berkarya dengan yang terbaik, karena masa depan adalah rahasia-Nya… Life must go on,,,.

Iklan