Cerita Perjalanan Naik Moda Transportasi Darat


Cerita Perjalanan Naik Moda Transportasi Darat merupakan kelanjutan dari cerita perjalanan yang dialami dan dirasakan junior bersama orang dewasa yang mendampinginya. Lebih tepatnya junior ikut dalam perjalanan yang dilakukan orangtuanya dan kebetulan sekali dia belum pernah mengalaminya. Hasilnya selalu antusias dan punya pengalaman baru.

Cerita perjalanan pertama naik bus AKAP ke Solo di awal tahun 2011 mungkin salah satu pengalaman yang tak terlupakan dalam perjalanan hidupnya nanti *penasaran ada apanya, klik dan baca aja linknya itu πŸ˜‰ .

Perjalanan kedua naik bus AKAP dilakukan pada awal Oktober 2013 lalu. Saat itu nenek ikut berlibur ke rumah salah satu saudara di daerah Kroya Cilacap. Nenek penasaran nyobain naik salah satu moda transportasi darat yang bernama kereta api dengan waktu tempuh lebih dari 7 jam, sekalian dolan ke rumah saudara yang belum pernah dikunjungi. Kalau naik kereta sekitar Jabodetabek udah pernah.

Anak dan Moda Transportasi

Anak dan Moda Transportasi

Rencana awalnya, nenek akan balik sendiri dengan menggunakan kereta lagi, kami cukup menjemputnya di stasiun Kota. Saat dirumah saudara itu, ada keluarganya seorang perawat, si nenek cek tekanan darah, hasilnya tekanan darah beliau tinggi 240/90. Sama yang ngukur tensi, beliau dinasehati, jangan melakukan perjalanan jauh sendiri, ntar kenapa-kenapa dijalan, beliau ciut. Minta dijemputlah sama anaknya saat mau balik.

Padahal kalau anak-anaknya yang ngoceh begitu, beliau malah akan memberikan argumentasi,”selagi badan dirasa sehat, bisa untuk melakukan perjalanan melihat daerah lain, lakukan. Mulut bisa dipergunakan untuk bertanya, pikiran masih bisa untuk berpikir, bawa hape, jalan. Kalau menunggu ada teman dulu baru jalan,bisa-bisa cuma diam dirumah, padahal masih bisa jalan sendiri. Atau menunggu ada yang bisa jemput dulu, itu merepotkan”.

Begitu nenek minta dijemput, dan wanti-wanti dia ga mau naik bus *’supir’ yang biasa ngantar (teman hidup) juga lagi ada keperluan. Saya langsung nyari tiket kereta api, sekalian memberikan pengalaman naik kereta api jauh sama junior.

Apes. Saat itu hari libur panjang bagi mereka yang bekerja. Kamis tanggal merah, Jumat biasa, Senin biasa, Selasa tanggal merah lagi. Tiket kereta habis. Bahkan untuk tiket balik hari Senin atau Selasa juga habis, yang ada arus balik hari Minggu, itupun kereta ekonomi, tak apalah. Nyari tiket bus dulu, baru kemudian ambil tiket untuk balik naik kereta hari Minggu pagi.

Saat ngambil tiket bus AKAP di terminal (ternyata bukan agen bus resmi) saya sudah tanya-tanya, nanti bus masuk Kroya apa enggak. Soalnya saya belum pernah ke daerah Jawa Tengah dan sekitarnya naik bus sendiri, biasanya selalu ditemani sama orang Jawa, mana sekarang saya bawa anak 9,7 tahun.

Si penjual tiket dengan meyakinkan bilang,”masuk Kroya kok, tinggal bilang sopirnya aja”. Saya pun minta tempat duduk 2 yang agak di depan, biar anaknya nyaman. Sekali lagi si penjual tiket dengan meyakinkan menyanggupi. Saat tiket saya terima,lho kok nomer kursi yang tertulis udah nomer gede, saya protes. Eh si penjual tiket bilang,’saya jamin besok ibu duduk tidak di kursi belakang deh, dan datang pukul 16.30 WIB paling telat, soalnya bus berangkat pukul 17.00WIB’. Percaya dong.

Jum’at sore, pakaian ganti untuk 1 malam dan bekal diperjalanan udah siap. Begitu junior pulang sekolah sekitar pukul 15.00WIB dia juga dengan semangat berbenah, mandi dan makan. Teman hidup yang mau ngantar ke terminal masih di jalan, mana hari hujan deres.

Si penjual tiket dari pukul 14.00 WIB sudah nelpon bolak balik. Saya tegaskan, saya jadi berangkat dan akan nyampai diterminal sebelum pukul 16.30WIB. Pukul 15.45 junior mulai mrebes mili, rewel sama emaknya nanya keberadaan bapaknya udah nyampai mana. Dia mulai ‘nyanyi’, ‘bakal batal nih berangkat jemput nenek, bakal batal naik bus, bakal batal naik kereta api deh. Coba papa pulangnya lebih awal, bla-bla-bla”. Saya ingatkan junior biar tenang, kalau lancar, rumah-terminal itu perjalanannya cuma 10 menit, macet2 ga bakal lewat dari 30 menit. Jadi kita pasti berangkat.

Pukul 16.00 WIB teman hidup nyampe rumah, kami langsung jalan, hari masih hujan dan jalan lumayan tersendat. Di jalan, sekitar pukul 16.20 WIB, si penjual tiket sudah bilang, ‘kami sudah ditinggal bus, ga bisa nunggu lagi’, beuh.

Pukul 16.25 WIB nyampe terminal, memang busnya sudah jalan dari terminal tetapi cuma beranjak beberapa meter, pindah ke pool resminya. Sampai pool resmi bus AKAP itu tepat pukul 16.30 WIB, penumpangnya masih satu dua, lha wong hujan, kok si penjual tiket bilang mau main tinggal aja.

Ternyata lagi, tempat duduk saya dan junior itu nomernya ada di ruang smoking area, paling belakang dong*pret, mana harga tiket saya ternyata paling mahal diantara penumpang bus *setelah tanya-tanya ke adek-adek dan mas-mas disebelah tempat duduk. Tapi sudahlah, resiko beli tiket bukan ke agen resmi bus AKAP yang dinaikki.

Bus AKAP baru beranjak dari poolnya pukul 17.40 WIB. Saya berpesan ke sopir bus, ‘saya turun di Kroya’. Bus penuh *libur panjang. Duduk di daerah smoking area itu ga enak, untung mas-mas yang duduk disitu ga ada satupun yang perokok. Ada sih satu orang bapak yang mau merokok, tapi begitu melihat smoking areanya tempat duduknya terisi semua, mana ada emak-emak ‘cantik’ yang juga nyelip duduk disitu, langsung mendelik ke arahnya, dua-tiga hisap langsung rokoknya dimatiin πŸ˜› .

Sopir bus AKAP membawa mobilnya kayak ga ada penumpang, mau belok, pembatas jalan diterabas aja. Main salip menyalip dengan bus lain atau rem mendadak seenaknya. Mana jalur Selatan kan lumayan berbelok dan naik turun *walau belokannya tak separah lintas Sumatera, tapi sopir bawa mobilnya ga ada halus-halusnya.

Kami yang duduk dibagian belakang,’ngucap’ dan teriak semua. Secara pantat bukannya duduk di kursi tapi terlontar keatas dan kebanting lagi ke kursi, sakit man! Anak yang duduk disebelah saya, anak kelas XI, nyantri di Jogja, ga kuat, mual, padahal sudah rutin bolak-balik pulang- tempat mondok naik bus. Akhirnya keluar dari ruang smoking area, duduk selonjor di lantai bus. Kalau junior saya ayik-asyik aja, seru katanya. Duh, emaknya udah jantungan dan zikir mulu.

Saat berhenti untuk sholat Isya dan makan di daerah Tasik. Junior saya heboh,”Mam, ga usah lama-lama ntar kita salah naik bus lho, ketinggalan”. Emak berbisik,” Coba perhatikan kaca di depan bus itu, semuanya ada nomernya toh, diingat nomer itu atau nomor plat mobilnya, bereskan. Ntar kan juga ada pemberitahuan kalau bus udah mau jalan”. Junior tersenyum, “iya juga”.

Bus melanjutkan perjalanan. Saya tanya-tanya sama yang duduk di smoking area, mereka pada turun dimana, semua turun di daerah Jawa Tengah. Hanya saya aja yang tujuannya lebih dekat *daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Saya minta tolong sama mas-mas tersebut untuk memberi tahu kalau sudah masuk daerah yang saya maksud, secara saya tau nama daerah yang dituju tapi ga tau daerahnya :mrgreen:.

Hari sudah malam, saya sempat ketiduran. Bangun-bangun saat bus berhenti di pom bensin. Ternyata mas yang saya mintain tolong juga ketiduran, setelah ngintip dari jendela dia ngomong,”mbak Kroya udah lewat kayaknya, ini udah daerah Buntu, tapi ga begitu jauh, coba tanya sopirnya deh”.

Sopir yang saya tanya cuma cengengesan, “Bus-nya kan ga masuk Kroya, mbak, lewat pinggirnya aja. Mbak turun disini aja, tinggal naik bus yang arah balik, dekat kok”.Β  Saya agak sewot,”Iya tinggal naik bus balik, ntar saya sampai lagi ketempat awal saya datang. Kalau saya tau, saya kan ga bakal pesan sama sampeyan, tinggal nyuruh sampeyan berhenti dimana saya mau turun” arrghh, bikin bertanduk aja.

Untung pom bensin tempat berhenti bersih, fasilitasnya lengkap, ada mini market, tempat ngeteh atau ngopi sambil nyemil juga ada, toilet bersih. Mushola juga ada, malah ada kolam-kolam kecil dengan pondok-pondok, nyaman. Penampakan umum seperti rest area mini yang nyaman. Secara termasuk ‘libur panjang’, banyak yang melakukan perjalanan dan pada istirahat melepas penat di pom bensin tersebut.

Saya lirik jam tangan, pukul 3 dini hari *Beuh, jamnya maling lagi beraksi nih, busyet dah pikiran. Bukannya mikir jamnya orang bermunajat πŸ˜› . Petugas pom bensin menawarkan jasa, ada yang merangkap jadi tukang ojek yang bisa mengantarkan. Saya ga tau jalan dan ga mau ambil resiko. Mending istirahat dipom bensin itu sebentar, nunggu ‘siang dikit’ baru nelpon saudara.

Pukul 4.30 pagi, saya sampai ditujuan, Alhamdulillah. Mandi, subuh, istirahat bentar, trus jalan-jalan ke pantai, main air dan pasir. Pantainya bersih, ombaknya besar, termasuk bagian dari pantai selatan. Dari kejauhan kelihatan pulau Nusakambangan. Sayang saya lupa nama pantainya dan lupa juga bawa kamera dan hape. Besok paginya kita udah harus balik ke Jakarta naik kereta api.

Begitulah cerita perjalanan ‘terbaru’ naik bus AKAP yang saya alami. Kalau moda transportasi darat yang bernama bus AKAP, seperti yang saya naiki. Moda transportasi ini tidak akan cocok bagi penumpang yang sudah ‘berumur’ bisa jantungan. Kapan kita punya moda transportasi yang nyaman dan aman itu?

Iklan