Imbas Nazaruddin


Imbas berita Nazaruddin yang ada dimana-mana mulai menohok saya sebagai seorang emak.

Kemaren sore 15 Agustus 2011, sebelum buka, emaknya sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk berbuka. Junior saya sibuk merubah-rubah channel TV mencari siaran TV yang mengumandangkan suara adzan tanda berbuka. Sepertinya di detik-detik genting waktu berbuka tersebut, masih ada diskusi atau berita TV yang membahas kasus korupsi yang membuat heboh dunia dengan tersangka salah duanya Nazaruddin ini.

Setelah mendengar suara adzan, junior baru lari ke meja makan untuk berbuka. Lagi asyik-asyiknya membahas menu berbuka saat itu, yang walaupun sederhana tetapi tetap nikmat katanya, Alhamdulillah. Tiba-tiba ocehan yang keluar :

Junior : ” Nazaruddinnya udah di penjara ya, Mam “, sambil nyeruput jus kesukaan.

Emak mulai siaga satu dan meraba-raba, kemana arah pembicaraan nih, soalnya junior lagi serius.

Emak : ” Menurut berita TV masih di periksa KPK ” .

Junior : ” Emang rumah aslinya Nazaruddin dimana, Mam “, pertanyaan junior ternyata masih berlanjut.

Emak : ” Wahh, enggak tau Mama tuh, mungkin rumahnya banyak “.

Tanya jawab masih berlanjut, Nazaruddin yang tersangkanya  karena Anas lah. Yang junior juga  punya teman bernama Anas. Emak menerangkan itu hanya persamaan nama. Siapa kita, ditentukan oleh sikap, perbuatan kita. Anas yang diberita sudah jadi pemimpin partai.

Sementara junior dan Anas temannya adalah calon pemimpin masa depan.

Sambil mencondongkan badannya ke arah emak, dengan sedikit berbisik junior seperti ingin menyampaikan sebuah informasi penting.

Junior : ” Mungkin ayahnya Nazaruddin ngajarinnya gak benar Mam, makanya Nazaruddin itu kabur-kaburan terus “.

Deg, emak harus menahan nafas sebentar sambil berpikir mencari jawaban yang bisa di terima pikiran anak-anaknya. Dan saya tidak tau banyak tentang Nazaruddin, latar belakangnya, apalagi ajaran orangtuanya 😥 . Tetapi satu yang pasti, anak adalah harta tak ternilai bagi semua orangtua.

” Setiap orangtua selalu mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya. Mungkin Nazaruddin itu setelah besar, bertemannya sama mereka yang kurang baik, makanya jadi seperti itu”.

Junior manggut-manggut mendengar penjelasan emaknya.

Hari ini adalah Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, entah berapa ribu anak Indonesia yang mempunyai pikiran dan opini di dalam kepalanya tentang kasus-kasus heboh di negeri ini. Ada yang terlontarkan, ada yang cuma tersimpan dalam pikiran anak-anaknya.

Entah apa imbasnya ke perkembangan anak,  generasi berikutnya. Kalau pemerintah tidak memberantas koruptor dengan tuntas dan media TV tidak ikut mengawal seperti awal-awal kasus ini mencuat. Sehingga anak-anak yang tak sengaja menonton kasus Nazaruddin, juga mengerti, koruptor itu perbuatan salah yang sangat merugikan rakyat banyak,  hukumannya sangat berat.

Sudah Merdekakah kita saat ini… dari pembodohan, dari koruptor berjamaah,  dari kebutuhan perut sendiri.

Iklan

31 comments

    • mari kita buat alat penawarnya …
      sebisa kita …
      supaya air laut itu bisa menjadi tawar
      dan bisa menghilangkan dahaga

      Sebisa kita …

      At least … tidak membuat air laut itu menjadi semakin asin …

      Salam saya

  1. Sudah Merdekakah kita saat ini… dari pembodohan, dari koruptor berjamaah, dari kebutuhan perut sendiri?

    jawabannya belum..
    *sampai sekarang si sulung kelas 5 ga pernah komen ttg masalah koruptor, tapi dia heboh soal bahan pengawet boraks dan formalin, yang kecil mah ..maen bola terus*

  2. anakku belum sampai situ mbak,masihTK 🙂
    tapi kalau dibanding dengan teman-temannya yang hafal lagu2 dewasa dan film2, anakku jauh tertinggal semua karena aku batasi untuk masalah tontonan

  3. imbasnya sampai dimana-mana ya kasus Nazaruddin ini, bahkan sampai ke anak pula. Semoga para anak-anak tidak teracuni pikirannya dengan segala “tontonan” yang ada di TV. Para orang tua harus waspada nih dengan “gelombang” yang mungkin akan datang.

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma…

    Selamat dulu buat negara Indonesia yang merayakan Hari Kemerdekaan Ke-66 tahun. Mudahan negara Indonesia akan berkembang maju dan rakyatnya sentiasa makmur sejahtera.

    Saya tertarik membaca dialog emak dan junior tentang Nazaruddin si koruptor. Kebijakan anak berfikir perkara yang diluar jangkaan ibu bapa harus diambil berat kerana menunjukkan keperihatinannya terhadap sesuatu isu yang disebarkan melalui media masa. Ibu bapa harus menapis dengan cara bijaksana dalam memberi jawaban yang logis dan realitis atas kebenaran sesuatu berita di samping memberi pengajaran di sebalik apa yang didengarinya.

    Mudahan Junior akan menjadi insan Ulul-Albab yang bijak dalam menaksir sesuatu yang bakal menjadi panduan dan petunjuk dalam kehidupan masa depannya. Indonesia harus berbangga punya anak seperti Junior.

    Maaf ya mbak, kerana baru sempat membalas kunjungan di sela-sela waktu yang sibuk ini. Semoga silaturahminya tetap baik selalu. 😀

    Salam manis dan mesra dari Sarikei, Sarawak.

  5. Saya memikirkan keluarganya …
    Istrinya … atau juga Anaknya …. (saya tidak tau apakah mereka punya anak atau tidak)

    Semoga mereka kuat dengan segala peristiwa ini …

    Saya yakin Beliau tidak mengajarkan anak (anak) dan istrinya untuk berbuat tidak terpuji … Tidak ada orang tua yang mau anaknya terjerumus …

    Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua

    Salam saya

    • betul,tak terbayangkan jika si anak kelak dewasa tau bahwa seperti itulah bapaknya dulu dlm kasus korupsi, begitu juga dgn (maaf) kelak mungkin anak gayus tambunan juga bisa serupa…

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.