Hati Seorang Ibu


Bu Anik menjalani hari-harinya lagi berdua dengan Tina di warungnya. Tina merawatnya dengan telaten. Perlahan tapi pasti sakit kepalanya mulai berkurang. Walaupun hanya dengan menggunakan pengobatan traditional. Tina rajin membuatkan  jus belimbing. Resep penurun tekanan darah yang di perolehnya dari seorang langganan warung mereka.

“Bi, diminum dulu jus belimbingnya” kata Tina, sambil menyodorkan gelas yang berisi jus.

“ Setelah ini bibi istirahat ” kata Tina sambil memijat-mijat lembut kaki bibinya yang duduk bersandar kekepala tempat tidur.

“Terimakasih Nak” bu Anik menyodorkan kembali gelas yang sudah kosong ke Tina. “Entah apa yang akan terjadi dengan bibi, kalau kamu tidak ada”.

“Bibi jangan berpikiran macam-macam, justru saya tidak tau cara membalas hati bibi, hanya ini yang dapat saya lakukan” jawab Tina dengan tatapan sendu.

Iba hatinya melihat tubuh ringkih bibinya. Dan yang membuatnya miris, wajah tua itu selalu tersaput mendung. Walaupun dihadapannya Bi Anik selalu berusaha tidak terlihat gundah. Tapi Tina bisa membaca, bi Anik memikirkan anak-anaknya.

Wajah Bu Anik berusaha mengulas senyum tipis, tetapi pikirannya mengembara kebeberapa waktu yang silam.

Dia dan suami, memutuskan untuk mengasuh keponakan jauhnya Tina, yang sudah yatim piatu.
Walaupun dia sudah berusaha untuk memberi pengertian kepada ketiga anaknya, Minuk, Yati dan Hadi untuk menganggap Tina saudara. Ketiganya tetap   memperlakukan Tina, tak lebih baik dari perlakuan mereka saat ini kepada dirinya. Dia  tak bosan-bosan menasehati mereka semua.
Kelimpahan materi dan pergaulan, serta landasan agama yang sangat minim, membuat anaknya tumbuh menjadi pribadi-pribadi egois dan sombong.
Sungguh hatinya mengatakan, aku telah gagal menjadi seorang ibu buat anak-anak kandungku. Air mata mengalir disudut matanya.

*********

Kehamilan Minuk sudah mendekati masa melahirkan. Perasaannya semakin tak menentu. Amarahnya semakin mudah tersulut oleh hal-hal kecil. Ditambah kekesalan sama ibunya,  yang masih saja belum pulih dan tidak bisa diandalkan untuk membantunya.

Belum lagi adiknya Hadi, yang tak juga ingat untuk melunasi biaya perawatan ibunya dulu. Diperparah lagi sama mbak yang datang harian untuk beres-beres, rumah tetap aja ga rapi,, argghhh..

“Mbak,  aku kan  sudah bilang! setiap aku pulang kerja, rumah sudah rapi,, semuanya siap. Baru pulang kerumahmu” Minuk meradang, melihat rumahnya masih berantakan.

“Ma’af, Bu,, tadi dek Andi setelah ibu berangkat, tiba-tiba badannya panas, dia agak rewel, seharian ini saya mengompres dan berusaha membujuk dia untuk tetap minum dan makan, tadi saya juga berusaha menelpon HP ibu, tapi nadanya sibuk terus” Mbak Inah memberi penjelasan.
Minuk melirik anaknya Andi yang sedang tertidur .

“Ah,, kamu hanya nyari-nyari alasan, Andi baik-baik aja tuh, kamu kirain  aku ga bayar , menggunakan tenagamu” Minuk menggerutu.

Mbak Inah hanya diam, percuma juga memberikan pengertian sama majikan yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri ini. Bahkan terhadap anaknya sendiri Bu Minuk tak pernah mau rugi, selalu berhitung.

“Saya permisi pulang Bu, besok pagi-pagi saya bereskan semuanya” Mbak Inah pamit.

*********

Yati anak kedua Bu Anik dan suami,  terkenal dengan kedinginan tangannya menjalankan usaha. Cumakurang diiringi dengan sadakah. Dan dia menganggap kesuksesannya adalah hasil kegigihannya berusaha sendiri. Hitung-hitungannya kencang, apa yang dibayarkan harus sepadan dengan yang  diterima, kalau bisa lebih.

“Gimana Mas, uangnya sudah kita transfer kok pesanan kita belum datang juga” Yati bertanya ke suaminya.

“ Iya nih, tidak pernah kita setelat ini menerima barang, stok di gudang sudah menipis semua, mana distributor kita  sudah menitipkan uangnya” ada nada kecemasan dalam jawabannya.

Yati mulai dihinggapi kekalutan. Mana pembantu belum juga balik.
Kemaren tanpa memikirkan resikonya, modal mereka, juga digunakan dipermainan saham, yang keuntungannya menggiurkan. Sekarang situasi perekonomian dunia tak menentu. Kerugian besar didepan mata, hanya soal waktu.
Selintas berkelabat bayangan wajah ibunya. Apakah beliau sudah sehat. Yati langsung menepisnya. Ada Tina yang merawatnya.

*********

Hadi anak bungsu Bu Anik yang juga punya usaha hiburan malam dilain kota. Sedang berada dalam kondisi ketar-ketir. Razia mendadak yang dilakukan kepolisian kemaren, tidak bocor ketelinganya. Tempat usaha yang juga merupakan tempat nyaman dan aman bagi pemakai narkoba, terbongkar..

Orang kepercayaannya berkhianat.

Hadi menjalani hari-hari pemeriksaan polisi. Entah apa risiko yang akan dihadapinya. Dia tidak ingat janjinya untuk transfer uang ke Minuk kakaknya.

Semua anak-anak Bu Anik disibukkan dengan urusannya masing-masing.

——–> Ini merupakan bagian kedua dari tiga ” Kisah Seorang Ibu” . Bagian pertama ada diblognya Kakaakin. Dan bagaimanakah kisah Bu Anik dan anak-anaknya, ikuti kisah selanjutnya di blognya Mamah Alin “Kasih Ibu Sepanjang Jaman….

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

Membaca Hati seorang IbuSambil diiringi lagu Ibu oleh Iwan Fals.

Iklan