Singkong Rebus/Kukus Alternatif Sarapan Sehat


Singkong rebus atau kukus merupakan alternatif sarapan sehat sudah sangat lama saya dengar. Bahkan beberapa waktu lalu saat menelpon salah satu sahabat yang sudah lama ga ketemu, yang mana dia tahu benar bahwa saya sangat memperhatikan alarm dari tubuh ringkih ini, kami membahas singkong ini.

Saya takkan peduli apa kata orang, jika tubuh saya sudah memberi sinyal ‘jangan’ atau harus istirahat. Saya akan memilih istirahat di rumah dan tidak ambil bagian dari kegiatan basa basi yang ujungnya tetap aja salah di mata mereka yang tak suka.

Saya memilih ‘menutup kuping’ terhadap omongan sekeliling itu karena ketika badan tidak fit, saya sendiri yang merasakan akibatnya.

Saya juga takkan pernah tergoda untuk memakan makanan yang aneh-aneh *sekarang mulai bandel lagi 😛 *. Sebab saya sudah merasakan akibat dari makan sembarangan bagi kesehatan.

Saya memberitahu sahabat saya jika sekarang saya sedang rajin minum air campur jeruk nipis.

Singkong Kaya Manfaat

Si sahabat menginformasikan balik bahwa dia pernah baca artikel tentang manfaat sarapan singkong rebus untuk kesehatan, bahkan disinyalir bagus untuk mengobati kanker.

Oleh karena itu dia sekarang juga rajin merebus singkong untuk sarapan keluarga dan kedua orangtuanya yang makannya memang sudah harus ditakar dengan baik.

Sarapan Singkong Rebus Untuk Diet

Si sahabat juga meminta saya untuk mencobanya juga. Saya belum melaksanakannya, masih lebih memilih menikmati olahan singkong, seperti gethuk, gorengan, kolak, dll yang ditambah gula.

Setelah bertukar kabar tersebut, saya mencari informasi tentang singkong ini.
Tentang kasiat singkong yang ampuh sebagai terapi kanker, kayaknya belum ada pembuktiannya secara medis.

Tapi singkong rebus/kukus baik dan dianjurkan dikonsumsi oleh para penderita diabetes sebagai pengganti nasi atau alternatif lain dari kentang, sudah sangat sering saya mendengarnya.

Singkong Makanan Rakyat Kelas Bawah?

Terlepas dari manfaat yang dikandung singkong, singkong selalu dianggap sebagai makanan kelas bawah. Pada ingat istilah “anak singkong vs anak keju.”

Saya sendiri sebagai ‘anak kampung’ sangat akrab dengan singkong atau kalau di daerah Minang disebut dengan “Parancih”.

Di sekeliling rumah orangtua dan tetangga di kampung rata-rata ditanami tanaman singkong dengan cara menancapkan batangnya ke tanah. Tak perlu perawatan khusus, singkong akan tumbuh subur.

Daun muda singkong “Pucuak Paranciah” dari pekarangan ini sangat cukup untuk sayur keluarga. Direbus atau digulai pakai santan dengan campuran terong, teri dan beberapa kelopak jengkol juga okeh. Rasanya maknyus 🙂 .

Belum lagi umbinya yang bisa diolah menjadi keripik atau direbus dengan tambahan gula merah. Semuanya terasa nikmat di lidah.

Atau bisa juga diserut kemudian dikukus dan dicampur kelapa dan gula pasir. Kadang juga dikolak atau digoreng. Semua olahan singkong itu takkan ada yang ditolak 😳 .

Bahkan, keripik balado yang bahan dasar utamanya juga singkong. Keripik yang merupakan oleh-oleh khas daerah Sumatera Barat.

Umbi singkong ini pun jadi camilan dalam berbagai varian.

Dapat disimpulkan, saya adalah ‘anak singkong’ *kok bangga?*
Dan suka olahan singkong ini juga menular pada anak saya, khususnya singkong dalam olahan goreng dan keripik.

Singkong Rebus/Kukus Untuk Sarapan Diet Sehat

Dijadikan alternatif sarapan, jujur saja, saya jarang melakukannya. Biasanya singkong itu hanya jadi kudapan. Yang namanya kudapan, ya makannya selingan di antara jam makan.

Kalau menurut orangtua saya, kudapan itu ga ngaruh. Belum makan nasi, berarti belum makan :mrgreen: .

Gaya hidup berubah.

Singkong termasuk sumber karbohidrat rendah kalori, juga mengandung protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C serta rendah gula. Hingga aman bagi penderita diabetes.

Singkong juga mengandung serat tinggi hingga membuat perut terasa kenyang untuk waktu yang lama. Makanya cocok untuk mereka yang diet.

Tips hidup sehat itu ternyata sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat dulu, orang sekarang aja yang banyak gaya, akhirnya banyak penyakit juga.

Hati-hati, Singkong Juga Beracun

Menurut wikipedia, umbi singkong dapat dimakan mentah. Karena mengandung pati dan sedikit glukosa, rasanya sedikit manis *dulu saya juga sering ngunyah kayak gini*. Tapi, bila teroksidasi, pada singkong akan terbentuk glukosida racun yang akan membentuk asam sianida (HCN). Sehingga singkong akan terasa pahit.
Dalam singkong segar, setiap kgnya bisa mengandung 20 mg HCN, 50 kali lebih banyak pada umbi yang terasa pahit. Baiknya singkong diolah dulu sebelum dikonsumsi, karena itu bisa mengurangi kadar racunnya.

Mari Makan Singkong

Di tempat tinggal saya sekarang, banyak sekali terdapat pohon singkong. Tapi jarang ditemui panganan olahannya.

Semalam, karena ga melihat pepaya untuk sarapan saya pagi ini, teman hidup lebih memilihkan membeli singkong yang masih segar. Jadilah hari ini saya mengukusnya dan menjadikannya menu sarapan. Enak juga.

Kalau saya menyebutnya olahan singkong yang paling praktis dan ternyata yang paling sehat *si malas jadi tersenyum* .

Ga usah takut lagi akan dibilang kasta bawah kalau makan singkong ya. Setelah masuk ke lambung dan usus besar, semua makanan itu akan berakhir di tempat yang sama *pembenaran*.

25 comments

  1. Setuju banget mba! 😀
    Singkong rebus apalagi tambah gula jawa sedikit, enak bangeet hehe

    Di daerah saya singkong hasil pertanian utama. Makanya banyak varian makanan dari olahan singkong disini,mulai dari klanting,cimplung,dll.

    Disukai oleh 1 orang

    • Sekarang singkong dikenal disemua lapisan masyarakat.
      Olahan singkong ini banyak banget, termasuk tape.
      Klanting kalau ditempat saya kayaknya ‘angka 8’ itu ya. Cimplung, saya ga tau, kayak gimana yaa.. Padahal saya penyuka semua olahan singkong 😀

      Suka

  2. Di tempat saya fiolah jadi singkong keju. Jadi lebih lembut ketika digoreng. Banyak yang jual di pinggir2 jalan. Eh tapi Ibu saya juga kadang2 buat sendiri.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke winnymarlina Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.