Rasa Saat Bercengkrama Lewat Grup WA


Rasa saat bercengkrama lewat WA sepertinya ini pengalaman yang sudah sangat telat. Apalagi rasa seorang emak-emak. Bukan bikin penasaran, tapi malah membuat muntah. Eits, ini emak-emak matang lho πŸ˜† .

Masa Candu Dengan Media Sosial Sudah Lewat?

Saya punya beberapa akun media sosial, tapi tidak begitu aktif menggunakannya. Kecuali untuk keperluan sharing link tulisan.

Sepertinya jaman-jaman saya yang dulu juga sempat ‘candu chatting’ sudah lama lewat, seiring dengan bertambahnya usia *susah amat bilang malu sama umur πŸ˜› *

Belakangan ini saya membuat akun WA, gegara ada beberapa sahabat yang nanya, padahal sehari-harinya saya sering menggunakan internet *Emak yang aneh. Pembaca silahkan ngakak*

Berdasarkan survey ala-ala saya sebelum membuat akun tersebut, diketahui bahwa itu bisa menghemat pulsa untuk sesama pengguna WA.

Yanga namanya emak-emak kalau sudah mendengar kata ‘hemat’ pastinya langsung bersemangat :mrgreen: .

Saya pun mulai tergabung kedalam beberapa grup, mulai dari grup teman-teman kerja dulu, grup teman SMA hingga grup arisan ibu-ibu warga tempat tinggal.

Rasa Saat Bercengkrama Lewat WA

Pembaca, Bukan Pemain Aktif

Berhubung saya ternyata bukan pembaca cepat alias menyimak dengan serius, mana jari jadi serasa jempol semua saat menyentuh layar hp jadul yang digunakan untuk ber-WA, saya akhirnya termasuk rombongan yang jadi pembaca dari pesan-pesan di grup yang diikuti, bukan pemain aktif.

Gimana tidak, baru selesai ngetik, ternyata topik pembicaraan udah berubah arah *kasian πŸ˜› . Ssttt, nyantai aja kali.

Obrolan Ringan, Bukan Ruang Diskusi Serius

Dari beberapa kali mengikuti diskusi di beberapa grup WA yang awalnya mau membahas masalah serius, ternyata ruang chatting grup itu tidak bisa digunakan untuk itu, hanya sahutan-sahutan untuk sebuah guyonan ringan, dan berita berupa pengumuman.

Juga tempat yang lumayan bisa membuat senyum simpul saat mengenang masa-masa culun. Ini berlaku di grup teman-teman yang kita sudah saling kenal saat usia udah lewat remaja, bukan lagi dalam tahap pencarian jati diri.

Seragam untuk hal-hal tertentu, seperti ucapan selamat ulang tahun, duka dan lainnya. Karena semua ucapan itu hasil copian dari teman yang pertama melempar topik tersebut.

Waktu Mengubah Semuanya, Silaturrahim Tetap Terjaga

Teman-teman lama yang dulunya guyon, ada beberapa yang masih sama secara tampilan luarnya, ada yang sudah berubah. Itu wajar.

Tak ada yang abadi di dunia ini, waktu mengambil semuanya. Tapi, jangan sampai berakhir praduga, tetap berpikir positif.

Jangan Libatkan Rasa

Chatting di dalam grup, jangan sekali-kali melibatkan rasa alias mudah baper. Apalagi jika didalam grup ada mantan cem-ceman atau masa lalu yang menyisakan luka. Bisa-bisa terjangkit darah tinggi atau mulut jadi semakin rajin ngedumel ga jelas.

Kesimpulan rasa emak saat bercengkrama lewat WA:

  • Pembicaraan dua arah lebih baik secara personal.
  • Bertatap muka dan ngobrol dari hati ke hati secara langsung tidak bisa ditukar dengan media apapun, apalagi jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan tempat yang nyaman. Pantesan saat tiba waktunya mudik bela-belain dengan modal lumayan #eh.
  • Media untuk menuangkan pikiran, blog masih tetap wadah yang paling nyaman.

Jika teman-teman yang sangat aktif dengan media sosial, bagaimana rasa dan pengalaman teman-teman saat chatting dalam sebuah grup?

Apa malah ingin keluar atau malah udah keluar?

Janganlah ya, apalagi di grup dengan teman-teman yang sudah dikenal hitungan tahun, kan udah tau bagaimana sifat si teman.

Kalau saya masuk ke grup teman-teman yang baru dikenal, setidaknya dengan membaca sahutan chat mereka, kita jadi dapat sedikit gambaran si teman baru saat berpikir cepat dan merespon berita yang dilemparkan. Emak-emak kurang gaul mau berbagi rasa? Ga salah   😳

Iklan