Badan Gemuk vs Kurus, yang Penting Sehat!


Memiliki badan yang ideal merupakan harapan semua orang dan semuanya dapat diusahakan dengan iktiar, olahraga, menjaga pola makan, dan menjalani gaya hidup sehat.

Mereka yang hidup di kota,  mudah mengakses informasi tentang penampakan wanita dan pria yang berbadan ideal. Wanitanya langsing dan prianya tegap dengan otot yang terlatih di Gym. Serta dengan opini, badan gemuk tidaklah enak untuk dipandang, banyak menyimpan penyakit. Tetapi yang memiliki badan terlalu kurus, daya tahan tubuhnya juga rapuh. Idealnya, berbadan sehat dengan berat badan seimbang.

badan gemuk atau kurus

Wedow,  kayak  pakar badan sehat yang enak dilihat aja nih . Bukan! Saya hanya mau cerita tentang memiliki tubuh gemuk vs kurus dalam pandangan masyarakat di kampungnya sana :mrgreen:  yang terkadang membuat senyum dikulum, tapi terkadang bikin kuping terasa agak panas saat mendengar sebuah komentar.

Dulu di kampung, generasinya Bapak dan Ibuk saya. Pandangan umum masyarakat bahwa mereka yang berbadan gemuk adalah mereka yang hidupnya sudah makmur, sebab hari yang dijalani sudah tentu makan enak, tidur nyenyak, uang banyak, muka berminyak 😀 .

Sebaliknya, mereka yang berbadan masih kurus, walaupun memiliki banyak uang dan makannya banyak, hidupnya dianggap masih sengsara, masih susah, masih banyak beban pikiran ketika menjalani hidup yang berimbas pada berat badan yang tak bertambah, dianggap cacingan jugakali yaa 🙄

Akibatnya, semua penduduk usia dewasa di kampung, akan rela mengkonsumsi obat “palamak makan” aka obat penambah nafsu makan, yang dijual sama tukang obat keliling.  Efeknya memang lelaki dan perempuan dewasa berbadan gemuk berisi, tapi tetap berisiko menyimpan banyak penyakit, secara tidak sesuai dengan tinggi tubuh .

YSalma yang kala itu masih polos dan belia, bertubuh lebih kurus dibanding teman-teman seusianya. Sehingga  mendapat julukan “lesuik = kurus”. Dia sih tidak memikirkan sebutan orang kampung tentang dirinya yang kurus.

Sebab, saat itu dia sudah mempunyai bacaan rutin, majalah Gadis dan Hai, yang lagi banyak membahas supermodel ceking Kate Moss. Cerita majalah ini saya jadikan rujukan, kalau ada yang protes terhadap badan lesuik (kurus) saya, “lihat nih, ini orang, photo kurusnya aja dibayar, kok pada ribut dengan kekurusan saya sih, yang penting enggak sakit.” Padahal, yang dilihat itu seorang model terawat, sedangkan tubuh kurus yang lagi diprotes warga adalah anak kurang gizi yang malas makan 😆 .

Cerita gemuk vs kurus ini terus berlanjut hingga sekarang. Soalnya, baru beberapa bulan ini saya stabil di berat badan 50kg (akibat sudah jarang gowes sepeda, biasanya rutin setiap hari). Biasanya berat badan saya tak pernah beranjak dari angka 47 kg. Sehingga badannya terlihat selalu kurus sepanjang masa 😛 .

Sewaktu saya pulang kampung dua tahun yang lalu pun, lagi jalan pagi, dipanggil sama temannya Bapak, cuma mau dibilangin, “kamu udah lamaa ngerantau, tapi setiap pulang kampung, badannya masih segitu-segitu aja, mbok digemukin kayak si Anu itu lho, bdannya gemuk dan nampak segar.”

Sayanya hanya menjawab sambil senyum, “yang penting sehat Pak” dan sambil mbathin, “di tempat saya ngerantau, semua wanita malah pengen badannya kurus nih, Pak” 😆 .

Dalam pandangan teman-teman, memiliki badan gemuk vs kurus ini, bagaimakah 😕 Ada kah yang memiliki paradigma yang sama kalau tubuh gemuk itu orang makmur dan yang berbadan kurus adalah mereka yang banyak pikiran?

43 comments

  1. wahaha.. sabar aja, lagian indikator kemakmuran gak selalu harus badan gemuk… betul sekali gan, yang penting sehat..

    Suka

    • Setuju, yang penting sehat. Walau gemuk cenderung banyak penyakit tapi lately, beberapa orang berbadan ideal malah meninggal duluan…

      Suka

  2. Hmmm…
    Sesuai dengan bertambahnya umur, biasanya metabolisme juga mulai kurang OK ya, jadilah gampang gemuk kalau saya. Sekarang sih stabil, alias gak menggemuk banget tp juga gak kurus2 amat 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan ke riez Batalkan balasan