Hitung Dulu, Baru Tentukan: Cara Mengetahui Kebutuhan Tubuh Sebelum Mulai Gym


Memiliki tubuh yang tetap bugar dan sehat, walau angka usia terus bertambah? Mau banget dong ya, yuks mulai nge-gym! Eits, menurut info yang saya baca, kudu hitung dulu BMI (Body Mass Index) tubuh, baru deh tentukan cara mengetahui kebutuhan tubuh sebelum memutuskan nge-gym dan fokus pada latihan yang dipilih.

Alasannya? Biar memiliki ‘pijakan awal’ yang kuat, sebab banyak orang datang ke gym dengan tujuan yang masih samar. Ada yang ingin kurus, ada yang ingin lebih fit, ada juga yang sekadar ikut-ikutan, ikut tren bisa update status media sosial kalau sekarang juga sedang konsen olahraga.

Padahal sebelum menentukan program latihan atau target fisik, langkah awal yang sering terlewat adalah memahami kondisi tubuh sendiri, kebutuhannya apa, nah salah satu cara mengetahuinya lewat kalkulator BMI. Dari sini, seseorang bisa punya gambaran awal tentang posisi tubuhnya saat ini.

Kalkulator BMI sebelum mulai gym

Kalkulator BMI, Cara Mengetahui Kebutuhan Tubuh Sebelum Nge-Gym

Menghitung BMI tujuannya bukan untuk memberi label pada diri, bahwa tubuhmu kurus, berisi, atau malah overweigh, bukan juga untuk mengatakan tubuh yang ini sehat, yang ini kurang, tapi justru untuk membantu menentukan arah. Tanpa tahu titik awal, progres gym sering terasa tidak jelas dan mudah bikin kehilangan motivasi.

Kenapa Penting Tahu Kondisi Awal Tubuh?

Tubuh setiap orang berbeda, begitu juga kebutuhannya. Ada yang perlu fokus ke penurunan lemak, ada yang justru perlu menaikkan massa otot, dan ada juga yang cukup menjaga keseimbangan.

Masalahnya, banyak orang langsung meniru program latihan orang lain tanpa mempertimbangkan kondisi tubuhnya sendiri. Akibatnya, hasil tidak maksimal atau bahkan berujung cedera dan frustrasi. Cuma dapat capek fisik dan mental doang.

Dengan memahami kondisi awal, tujuan latihan bisa dibuat lebih realistis dan sesuai kebutuhan.

BMI sebagai Titik Awal, Bukan Target Akhir

BMI sering disalahpahami sebagai angka yang harus “dikejar”. Padahal, fungsinya lebih tepat sebagai titik awal untuk mengenali posisi tubuh saat ini, sejauh mana keselarasan antara berat badan dengan tinggi tubuh yang dimiliki.

Angka tersebut bisa membantu menjawab pertanyaan dasar: apakah berat badan berada di kisaran normal, di bawah, atau di atas. Dari situ, arah latihan bisa disesuaikan, apakah lebih fokus ke fat loss, muscle gain, atau peningkatan kebugaran secara umum.

Untuk lifestyle gym, BMI sebaiknya dibaca sebagai peta awal, bukan garis finish.

Menentukan Fokus Latihan Jadi Lebih Jelas

Ketika kondisi awal sudah diketahui, menentukan fokus latihan jadi lebih mudah. Seseorang dengan berat badan berlebih mungkin perlu lebih banyak latihan kardio di awal, sementara yang cenderung kurus bisa memprioritaskan strength training.

Pendekatan ini membantu latihan terasa lebih terarah. Bukan sekadar datang ke gym dan mencoba semua alat, tapi menjalani program yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Hasilnya pun biasanya lebih terasa, baik dari sisi performa maupun perubahan fisik.

Menghindari Ekspektasi yang Tidak Realistis

Salah satu penyebab orang cepat menyerah di gym adalah ekspektasi yang terlalu tinggi. Ingin perubahan cepat tanpa memahami kondisi awal tubuh yang sering kali berujung kecewa.

Dengan memahami kondisi tubuh sejak awal, target bisa disesuaikan. Misalnya, fokus ke konsistensi latihan dan peningkatan stamina di bulan-bulan awal, bukan langsung mengejar perubahan bentuk tubuh yang drastis.

Pendekatan ini membuat proses gym terasa lebih masuk akal dan berkelanjutan.

Kebutuhan Tubuh Berubah Seiring Waktu

Tubuh tidak statis. Seiring rutin berolahraga, kebutuhan akan berubah. Intensitas latihan, jenis workout, hingga asupan nutrisi perlu disesuaikan dari waktu ke waktu.

Di fase awal, tubuh mungkin masih beradaptasi. Setelah beberapa bulan, fokus bisa bergeser ke penguatan otot atau peningkatan performa. Di sinilah pentingnya evaluasi berkala, bukan hanya sekali di awal.

Hasil dari kalkulator BMI bisa membantu memberi gambaran perubahan, selama dibaca bersama dengan indikator lain.

Jangan Lupakan Faktor Non-Fisik

Selain angka dan bentuk tubuh, ada faktor lain yang tidak kalah penting. Energi harian, kualitas tidur, mood, dan tingkat stres juga merupakan bagian dari progres lifestyle aktif.

Banyak orang merasa lebih sehat dan percaya diri setelah rutin gym, meskipun perubahan fisiknya belum terlalu signifikan. Ini adalah progres yang sering luput karena tidak bisa diukur dengan angka.

Pendekatan gym yang sehat seharusnya mencakup aspek fisik dan mental sekaligus.

Mengombinasikan Data dengan Pendampingan

Untuk hasil yang lebih optimal, memahami kondisi tubuh sebaiknya dibarengi dengan pendampingan yang tepat. Pelatih gym dapat membantu menerjemahkan kondisi awal menjadi program latihan yang sesuai.

Dengan kombinasi data awal, pengalaman profesional, dan konsistensi, perjalanan fitness menjadi lebih terarah dan minim trial-error.

Dalam konteks ini, kalkulator BMI berfungsi sebagai alat bantu awal untuk mengenali kebutuhan tubuh, bukan sebagai penentu tunggal arah latihan.

So, sudah memiliki gambaran tentang tujuan nge-gym? Mau mengambil program latihan yang seperti apa? Mari kita hitung dulu BMI tubuh kita yuks ❤ .

Salam jejak olahraga demi kesehatan tubuh, bukan hanya sekedar lifestyle semusim karena fomo dan latah. Semoga bisa menjadi salah satu tips sehat dalam rangka menjaga kesehatan tubuh dan kualitas hidup. Semangat nge-gym!

2 comments

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)