Pelajaran Hidup yang Telat Disadari, Pelajari Agar Hidup Bermakna


Beberapa waktu belakangan saya seperti diingatkan kembali tentang pelajaran hidup yang tidak didapatkan di bangku sekolah formal, tapi ditemui di sekolah kehidupan. Tapi terkadang telat dipelajari atau disadari banyak orang, hingga harus menguras banyak energi dan emosi serta membuat hati terasa hampa.

pelajaran hidup yang telat disadari

Seperti yang sempat saya alami, semenjak kesehatan teman hidup mulai menurun, aktivitas hariannya sangat tergantung dengan kehadiran saya sebagai pendampingnya.

Akibatnya, saya melakukan kegiatan di luar rumah seperti diuber waktu. Rasanya sibuk banget, padahal yang dilakukan hanya kegiatan rutin biasa.

Saya merasa gak sempat lagi gowes santai sambil mata memperhatikan kesibukan pagi, telinga mendengarkan cicit burung liar, yang tanpa disadari bisa menyunggingkan sebaris senyum tipis di sudut bibir.

Saya seperti tidak belajar dari apa yang sudah-sudah, jika badan dan pikiran gak diberi nutrisi yang cukup, ujungnya saya malah ikutan tumbang. Kalau dua-duanya ambruk, siapa yang bakalan merawat?

Bukankan hidup harus dijalani, tinggal diatur lagi waktunya agar saya juga rileks menjalani hidup.

Misalnya saat teman hidup memilih untuk tidur lagi setelah subuh, setelah yang perlu dirapikan beres, ketika mencari sarapan atau keperluan lain, saya bisa sambil gowes.

Jika kita ‘membuka mata dan hati’ saat beraktivitas banyak pelajaran yang dapat dipetik dari hal-hal yang ditemui dalam perjalanan sehari-hari.

Sebenarnya banyak pelajaran hidup yang harus disadari agar menghargai waktu yang masih ada. Telat mempelajarinya terkadang bisa menyebabkan rasa sedih atau luka bathin yang tidak perlu.

Beberapa pelajaran dari kehidupan yang telat disadari agar hidup lebih bermakna.

1. Orang-orang hanya ingin didengar, tidak semua yang bertanya karena peduli

Selama ini saya seringnya jadi pendengar yang baik, lebih tepatnya jadi tempat curhat rangorang. Telinga sering menampung semua cerita ketidaknyamanan yang dialami orang-orang terdekat.

Saya merasa lumrah saja dijadikan ‘tempat sampah’ curhatan. Boleh dibilang saya mengetahui prahara hubungan yang dialami orang-orang terdekat. Mereka umumnya menganggap saya baik-baik saja.

Saya menyadari bahwa mereka hanya butuh didengar, agar sesak di dada mereka sedikit berkurang. Baiklah.

Sementara itu, saya gak terbiasa curhat sama orang lain, karena merasa hanya akan menjadi pikiran mereka, *merasa sok dipikirin, padahal gak ada yang mengingat, haha*.

Makanya, biar kepala saya tetap waras setelah dipenuhi beragam curhatan, biasanya saya menulis, setelahnya saya bisa senyum-senyum kembali. Sebenarnya mudah sekali untuk membuat diri tersenyum bahagia pada hal-hal kecil yang dilakukan ya.

Dulu sekali, saya pernah curhat tentang rasa kalut yang saya rasakan, waktu itu respon yang saya harapkan direngkuh dalam pelukan barang sejenak. Tapi respon yang saya terima, bahwa apa yang saya resahkan itu adalah konsekuensi dari pilihan yang saya ambil.
Semenjak itu, saya tersadar, tempat curhat terbaik adalah kepada-NYA.

Tetapi, semenjak kesehatan teman hidup menurun, saya terkadang ingin berkeluh kesah juga pada seseorang yang dianggap dekat, tapi respon yang didapat sungguh di luar perkiraan juga. Apa karena saya gak berbakat jadi pelaku curhat?.

Respon yang diterima, sakit yang dianggap biasa lah, direspon dengan suara menguap lah, terkadang terbaca ekspresi, “Akhirnya lo ngerasain dada lu sesak juga”. Jadi tau ternyata orang yang dianggap dekat, malah ada yang senang melihat kita susah. Beuh.

Ada juga yang bertanya kondisi, begitu diceritakan, yang bertanya bukannya mendengar, tapi respon tubuhnya menunjukkan bahwa itu hanya pertanyaan basa basi yang gak perlu dijelaskan dengan sepenuh hati *nasib*.

Saya jadi diingatkan kembali bahwa umumnya orang-orang hanya ingin didengar, tidak semua orang punya kemampuan untuk mendengar.

Jadi, bersyukurlah kamu yang masih memiliki energi lebih untuk mendengar semua keluh kesah orang lain, tapi jangan sampai menguras habis energimu, apalagi sampai merampas kebahagiaanmu.

Belajar memilah mana yang harus kamu dengar dengan sepenuh hati, mana yang cukup didengar, dan mana yang harus di-stop sebelum mendengarnya.

pelajaran hidup yang telat dipelajari

2. Orang-orang datang dan pergi itu hal biasa

Dulu saya berpikir bahwa hubungan yang sudah terjalin kuat dengan orang-orang yang ditemui akan bertahan selamanya. Saya lupa, bahwa hubungan saudara kandung saja terkadang tidak selalu seiring sejalan, apalagi hubungan dengan orang lain.

Belum lagi, dalam kehidupan kita akan bertemu banyak orang-orang baru dalam perjalanan hidup.

Yang dulu dirasa sosok penting dalam kehidupan, tetapi setelah lama tidak bertemu dan berkomunikasi, saat bertemu kembali terasa seperti sosok yang asing. Sebaliknya, orang yang baru ditemui tanpa dinyana menjadi sosok penting dalam kehidupan saat ini.

Oleh karena itu, merelakan mereka yang sudah memilih menjauh atau mereka yang memilih pergi dari kehidupan merupakan sebuah keharusan, dan kudu menghargai mereka yang saat ini masih selalu ada dalam kehidupanmu.

3. Kesehatan fisik dan mental harus sejalan

Menjaga kesehatan fisik sepertinya sudah menjadi kesadaran dengan menjalani gaya hidup sehat, menjaga pola makan dengan diet seimbang serta olahraga secara teratur.

Tapi, terkadang kita agak sedikit lalai menjaga asupan untuk kesehatan mental. Karena sehari-hari yang kita konsumsi bukan hanya makanan, tapi juga bacaan, tontonan, apa yang didengar telinga termasuk kalimat curhatan dari toxic people yang dapat menggerus kesehatan emosi secara perlahan.

Kita, *aku dan kamu maksudnya* harus bisa menjaga kesehatan fisik dan mental, jangan sampai fisik maupun mental tidak sehat disebabkan orang lain. Batasi dan jaga jarak dengan segala sesuatu yang bersifat toxic, termasuk dalam toxic relationship.

4. Fokus pada diri, berhenti FOMO

Hidupmu adalah hidupmu, jangan bandingkan dengan kehidupan orang lain. Sebab jalan kehidupan setiap orang berbeda-beda.

Jauhi FOMO atau fear of missing out, perasaan takut akan tertinggal dengan berbagai hal. Akhirnya sibuk mengikuti hidup orang lain, membandingkan dengan dirimu.

Jika merasa diri lebih, yang keluar jadi sifat pongah. Sebaliknya, jika merasa diri bukan apa-apa, kamu merasa dirimu buruk, merasa tertinggal tapi dipenuhi energi negatif.

Lebih baik fokus pada diri sendiri dan kembangkan apa yang menjadi minatmu dan kebahagianmu.

5. Hidup tidak melulu tentang Kita

Dalam lingkup keluarga besar, saya masih sering mendengar kalimat, “apa kata orang”. Saya termasuk yang suka protes, memangnya gak capek melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan mata dan mulut orang lain.

Akhirnya sibuk khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Padahal, orang lain boro-boro mikirin kita, seringnya hanya baik-baik kalau ada maunya, pada menjauh kalau kondisi kita sedang susah.

Semua ketakutan tentang pikiran orang lain itu gak akan mengubah apapun pandangan mereka tentang kita, karena persepsi mereka tentang diri kita adalah buah dari pemikiran mereka sendiri.

Jika orang lain tidak menyukai diri kita, mau berusaha sebaik apapun tetap gak ngaruh. Biarkan saja orang-orang dengan pemikiran tersebut, toh kita hidup bukan untuk memuaskan mereka. Kita hidup untuk diri sendiri dan nanti akan dipertanggungjawabkan sendiri juga.

6. Menikmati berkegiatan sendiri

Saya, karena dari SMA sudah merantau, jadi terbiasa berkegiatan sendiri. Kalau janjian berkegiatan dengan teman, biasanya titik ketemunya di tempat acara.

Perjalanan hidup sendiri di perantauan mengajarkan saya untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain, harus bisa menikmati saat harus berkegiatan sendiri.
Sebab kalau terlalu bergantung pada orang lain, ada masanya akan berujung kecewa *cie, ngaku pernah dikecewain*.

Pernah tinggal di lingkungan yang kalau nongol sendiri di suatu kegiatan sering ditanya, “datangnya sendiri aja? Gak ada barengannya?”

Awal-awal saya sempat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sebab yang didatangi kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal, lah bukannya yang ketemu di acara tersebut adalah tetangga tempat tinggal semua.

Kan tujuan datang ke suatu acara bukan untuk ngobrol dengan tetangga yang dianggap sohib, kalau gitu mah tinggal nenangga aja, ngerumpi dan ghibah tanpa mengganggu yang lain.

Saya baru janjian berangkat bareng ke suatu acara kalau tempatnya jauh, kegiatan berkelompok, atau ketika butuh teman seperjalanan. Kalau cuma beberapa langkah dari rumah, menurut saya lebih lama waktu nunggu menunggunya daripada menghadiri acaranya, bukan begitu?

Gegara saya sering berkegiatan sendiri, ada buibu yang ceplas ceplos bilang kalau saya gak punya teman. Dia dengan bangga menceritakan berapa banyak teman yang dimilikinya. Saya merespon dengan senyuman, sebab rangorang yang disebutnya teman dekat malah sering ‘membahas’ dirinya di belakang.

Saya yang dibilang gak punya teman, tidak merasa seperti itu, tapi saya juga tidak mengaku-ngaku memiliki banyak teman, biasa aja. Karena saya sudah dalam taraf menjaga jarak yang pas agar kepala tetap waras.

Bukan tentang seberapa banyak teman yang kamu punya, tapi kualitas dari pertemanan itu sendiri yang terpenting.

Berkegiatan sendiri bukanlah sebuah dosa, jika lebih efektif dan efisien dilakukan sendiri, kenapa harus bergerombol.

Semoga catatan tentang pelajaran hidup yang sering telat dipelajari atau disadari banyak orang agar hidup lebih bermakna, dapat menjadi idemu untuk mempelajari hal-hal yang membuatmu lebih merasa berarti dalam perjalanan hidup di masa mendatang.

Salam, jejak #Sastra dari mata, rasa dan pikiran YSalma.

foto credit to: AI Bing image creator.

2 comments

  1. Mbak benar, pelajaran terutama pelajaran hidup didapatnya buka dari bangku sekolah, tapi dari keseharian kita bergelut dengan keluarga atau lingkungan sekitar.

    Semoga pasangan hidupnya segera kembali sehat seperti sedia kala.

    Terima kasih atas point-point yang Mbak sampaikan pada tulisan ini.

    Salam,

    Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)