Mencari Jawaban Apa Itu Wibu. Otaku atau Anime Lovers kah?


Kemarin Jumat siang, 3 Juni 2022 saat melakukan pekerjaan rumah, saya dihampiri nak bujang sembari senyum-senyum mencurigakan. Ketika ngerecokin kerjaan saya, dia bersuara, “Mama wibu ya?”

Saya tidak langsung merespon, telinga auto dipertajam, pikiran mengingat-ingat informasi yang pernah dibaca mata, jidat saya mengernyit, merasa asing dengan kata yang barusan diucapkan si anak remaja. “Apa itu wibu?”

Apa itu wibu dan bedanya dengan anime lovers

Nak bujang nyengir lebar, “itu tuh, penyuka manga dan anime, tapi dianggap nggak bagus. Mama kan emak-emak penyuka manga dan anime dari dulu. Kalau penyuka drakor kan disebut Korean lovers, penyuka anime ya wibu”. Nak bujang menjelaskan dengan wajah sumringah sudah berhasil ‘menggoda’ emaknya.

Saya tentu saja protes sama nak bujang, “lah, mama mah nonton apa aja yang disuka. Film Hollywood pasti, serial Disney hayuks, drama Turkiye mangga, drakor boleh, produk Bollywood dan Tellywood gak masalah, dracin, drama Thailand, telenovela yang menarik juga dikunyah”.

Nak bujang malah memilih kabur, meninggalkan saya sambil ketawa-ketawa. Dia berhasil membuat kepala emaknya yang sedang riweh jadi bertanya-tanya.

Saya curiga kalau kata wibu yang dimaksud nak bujang ini sedang ramai dibahas oleh anak seusianya. Sayangnya kemarin itu situasi saya tidak memungkinkan untuk langsung browsing. Saya hanya menduga-duga, apakah benar kata wibu mengacu pada anime lovers?

Seiseng apapaun nak bujang, tak mungkin dia bertanya tanpa ada sebabnya. Saya mulai mengingat-ingat, apa yang jadi pemicu nak bujang mencari tau tentang hobi nonton emaknya ini.

Di kepala saya kemudian terlintas apa yang sebelumnya saya lakukan. Duh, jangan-jangan efek dari ‘kelakuan’ emak yang gak bisa jaim nih! 😳 .

Beberapa hari yang lalu, saya sempat nge-like bahasan tentang serial Naruto di FB, informasi tentang hari ulang tahunnya Mikito Uchiha, ibunya Sasuke dan Itachi di anime Naruto *tapi setelahnya lupa tanggalnya, wkwk*. Saya juga sempat ngikik baca komen-komen di sana.

Mungkin teman nak bujang yang berteman dengan saya di FB memperhatikan aktivitas ‘like’ saya itu, kemudian ia mengomentari nak bujang, ’emakmu kok aneh banget?’ *Menuliskan dalam postingan ini, baru nyadar kalau saya emang termasuk ‘aneh, hahaha *.

Selain itu, karena sudah lumayan lama nggak sempat nonton anime, disaat yang hampir bersamaan, saya juga bertanya pada nak bujang, yang kebetulan sedang ‘ngobrol online‘ sama temannya. Saya bertanya tentang perkembangan serial Baruto.

Usai nak bujang nyahut pertanyaan saya, saat itu saya sempat mendengar nak bujang menjelaskan pada temannya kalau emaknya menginterupsi karena bertanya tentang anime. Sepertinya, temannya spontan bertanya, ‘apakah emakmu seorang wibu?’

Penyuka Anime?

Setelah dipikir-pikir lagi, ketika masih junior, tapi usianya sudah diperbolehkan menonton anime yang ditayangkan di tv, seperti Doraemon, Captain Tsubasa, saya yang notabene emaknya, juga sekaligus teman nonton anaknya, wkwkwk.

Bahkan saat dia mulai nonton Dragon Ball, nak bujang malah nanya gambaran umum ceritanya ke emaknya, karena waktu dia nonton, saya nyelutuk kalau dulu saat remaja sempat membaca manganya di perpustakaan, toko buku, boleh minjam sama teman, nggak beli, haha.

Pada dasarnya saya memang suka menonton dan membaca apa yang menurut saya menarik. Akan tetapi saya bukan penonton fanatik. Hobi menonton saya menular ke nak bujang, tapi hobi membaca saya yang bisa ‘tenggelam’ dalam buku yang dibaca, nggak menular, karena saat dia minta dibacain buku menjelang tidur, saya sudah kelelahan. Padahal, menjelang tidur itu pikiran anaknya paling fokus. Waktu tak pernah bisa diputar kembali untuk memperbaiki yang kurang, hiks.

Bagi saya, tontonan, membaca komik atau manga, hanya sebatas suka. Tidak yang sampai tergila-gila sama karakter, penulis, sutradara, pemeran, atau apalah.

Walau terkadang kalau lagi penasaran, saya suka iseng mencari informasi lebih. Setelah itu ya udah. Kecuali ada imbal balik positif dari hobi yang menurut saya menyenangkan tersebut, baru deh dikabarkan pada ‘dunia’ dalam sebuah status media sosial *dasar emak-emak matre* hehehe.

Oiya, kemarin setelah pembicaraan dengan nak bujang, saya sempat melupakan kebingungan tentang wibu.

Pagi ini, saat rapi-rapi kamar nak bujang, sayamelihat monitornya masih menyala, *PC-nya berarti gak mati semalaman*. Saya duduk dan mengklik browser google chrome.

Di layar monitor nak bujang tampil informasi terkini berdasarkan penjelajahannya. Di sana ada info artikel tentang artis-artis Hollywood yang diam-diam juga seorang wibu.

Tuing! Alarm di kepala saya jadi siaga, sepertinya wibu memang lagi jadi topik pembicaraan dunia maya juga. Saya akhirnya menelusuri informasi tentang wibu.

Apa Itu Wibu? Kenapa Berkonotasi Negatif?

Pencarian tentang wibu sempat membuat mata lelah dan kepala saya berdenyut-denyut. Duh, ternyata dunia mereka yang hobi menonton, saat ini begitu kuat pengaruhnya terhadap kehidupan sosial di dunia nyata.

Menurut wikipedia, Wibu atau weeaboo alias Japanafilia merupakan ungkapan yang ditujukan kepada seseorang yang bukan orang Jepang, tapi sangat menyukai budaya populer Jepang. Semua yang berbau Jepang mereka sangat suka.

Kesukaan wibu pada budaya Jepang boleh dibilang seperti orang terobsesi alias berlebihan, pemuja fanatik. Walaupun mereka tidak tinggal di Jepang, boleh dibilang keseharian mereka lebih Jepang dari orang Jepang itu sendiri, tapi hanya berdasarkan gambaran anime, bukan berdasarkan riset sejarah.

Sebenarnya sih wajar-wajar aja menyukai budaya suatu negara. Yang membuat konotasi negatif pada para wibu ini karena mereka terkadang mengabaikan budaya bangsanya sendiri, boro-boro bangsa lain. Pokoke Jepang terbaik dalam segala hal, yang lain zero.

Saking terobsesinya sama Jepang, bahkan ada yang sampai punya pacar khayalan karakter anime, manga yang disukai. Mengganti namanya dengan nama Jepang, hingga tidak bersosialisasi dengan masyarakat karena merasa beda ‘dunia’.

Itulah sebabnya wibu sering dianggap aneh di tengah masyarakat. Akan tetapi, mereka santuy dan pede aja menjalani hobinya itu.

Dan, setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai hari Wibu Internasional.

Ada juga yang menjabarkan bahwa wibu ini tingkat terparah dari penyuka anime. Awalnya, pemula yang mencari tau tentang anime, kemudian jadi pencinta anime, maka dia disebut sebagai anime lovers.

Jika makin tenggelam dengan dunia anime, mulai fanatik dan mengurangi kehidupan sosial, hanya menekuni hobinya, tingkatannya disebut Otaku.

Tingkatan setelah Otaku adalah Otamega, anime mulai jadi prioritas hidup bagi penyukanya. Kalau sudah menganggap karakter di anime atau manga lebih menarik dibandingkan sosok seseorang di dunia nyata, maka mereka mendapat julukan Nijikon.

Kalau masih terus berlanjut, hingga mengurung diri, menarik diri dari dunia sosial karena dunianya hanya anime, disebut hikikomori. Dan hirarki tertinggi dari pencinta anime adalah wibu, sangat terobsesi dengan budaya Jepang, menirunya, dan hanya bersosialisasi dengan sesama wibu.

Akan tetapi, semakin ke sini, istilah wibu sepertinya sudah disematkan pada penyuka anime pada umumnya. Entahlah. Mungkin teman-teman yang juga penyuka anime lebih paham, boleh ditambahkan informasinya di kolom komentar ya 🙂 .

Simpulan

Berawal dari pertanyaan nak bujang hingga menjadi pemicu saya menelusuri informasi tentang wibu, saya waktu muda dulu ataupun sekarang sudah menjadi emak-emak, hanyalah sosok yang sebatas menyukai anime sebagai hiburan salah satu genre tontonan.

Menyukai sesuatu sewajarnya saja. Harus berimbang antara melakukan hobi dan melakukan kehidupan sosial di dunia nyata.

Sangat bagus hobi yang membuat diri terpacu untuk meng-upgrade skill, seperti meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang, mengenal sejarah dan budayanya, dan belajar menggambar manga, dll. Apalagi kalau bisa jadi profesi, kenapa tidak? Bukankah pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar? Tapi jangan menganggap orang yang nggak seperti itu nggak selevel.

Selamat menikmati hobimu menonton anime, Temans.
Salam jejak mata, pikiran, dan rasa dari YSalma.

29 comments

  1. Aku awalnya juga nggak ngerti wibu lho. Pertama kali tahu waktu itu baca statusnya siapa gitu. Penulis novel juga. Nah anaknya itu suka banget sama anime. Makanya dia menyebut dia Wibu. Kupikir ya Wibu hanya sebatas itu. Nggak ada konotasi negatifnya. Eh ternyata. Hehehe

    Suka

  2. hahah aku tuh kalau denger kata wibu jadi inget netizen.. terutama di twitter. karena mereka kalau udah keluar karena suatu kasus, mesti rame banget. wlaupun engga selalu berisik kayak kpopers gitu misalnya :))

    Suka

  3. Emaknya nonton semua tetap bisa masuk ya, beragam drama pun oke aja ditonton,hehehe. Memang wibu ini sering banget dikonotasikan negatif, saya juga sering dengar keponakan bahas-bahas wibu gitu. Ternyata ya karena terkesan lebih menyukai budaya orang lain.

    Suka

  4. wah aku punya teman yang juga suka belajar bahas ajepang seidkit koleksi animesih berarti masuk wibu ya mbak, ..menyimak tulisan mbak jadi kepikiran juga nih anak2 kelak apa bakal kayak gini ya kalo dah bertemu dg banyak teman di sekolah mereka akn tahu banyak dunia luar .. kita harus bisa ngimbangi ya

    Suka

  5. Wah Wibu ini memang fanatiknya luar biasa. Budayanya memang sangat menarik tak kalah dari Indonesia. Saya masiha da keturunan sana tapi tidak begitu tahu banyak soal kebudayaan Jepang secara detail, tahu sedikit banyak aja

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Yuni Bint Saniro Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.