Pengalaman Vaksin Sinovac (CoronaVac) 1 dan 2 yang Telat


Pengalaman vaksin Sinovac atau CoronaVac yang termasuk telat dilakukan dan juga dituliskan. Artikel ini hanya sebagai catatan pengingat saya pribadi.

Saya sudah ditawarkan untuk ikut divaksinasi dari bulan April 2021, kebetulan saya termasuk tim bantu-bantu di Posyandu lingkungan tempat tinggal. Karena kurang yakin dengan respon tubuh, saya memilih tidak mengambil beberapa kesempatan yang ada tersebut.

Pengalaman vaksin Sinovac 1 dan 2

Saya memutuskan ikut vaksin pada bulan September 2021. Baru dapat jadwal pada 20 September vaksin pertama dan 29 Oktober vaksin kedua. Saya termasuk kloter warga yang telat vaksin di lingkungan tempat tinggal.

Beberapa Alasan Telat Divaksinasi Covid-19

Temans pasti ada yang bergumam, “sok amat loe, Mak. Nggak semangat berpartisipasi dalam kegiatan melawan virus corona. Pakai nolak kesempatan vaksin di awal, padahal banyak yang mau. Pasti loe simpatisan aliran itu, bla-bla,,,”

Saya termasuk telat divaksin bukan karena anti vaksin. Bukaan!

Saya termasuk warga ‘generasi tua’ di lingkungan tempat tinggal sekarang, tapi saya termasuk anak yang masa kecilnya juga divaksin oleh orangtua saya. Begitupun saat saya setelah menjadi seorang ibu, anak saya divaksinasi lengkap lho πŸ™‚ .

Percayalah, setiap orang dewasa punya alasan tertentu, termasuk memilih kapan waktu yang tepat untuk divaksin. Menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya, dan itu yang paling tau adalah yang bersangkutan.

Berikut beberapa yang mungkin jadi alasan pada belum vaksin:

‘Keder’ sama Efek Samping Vaksin

Saya bukan keder karena berita simpang siur tentang vaksin yang beredar. Tapi justru karena kebanyakan membaca pengalaman teman-teman bloger yang sudah divaksin, hahaha *alasen*.

Ada yang efeknya demam, harus dibantu minum obat penurun panas, ada yang ngantuk dan lapar.

“Alah. Lebay amat, reaksi seperti itu aja keder.”

Iya, saya sekeder itu πŸ™‚ . Sebab, saya kalau kena flu biasa aja, pemulihannya lama.

Ketambahan mendengar informasi langsung dari kenalan di dunia nyata. Ada yang suaminya habis divaksin, malah mengalami demam parah, ujung-ujungnya harus isoman karena dinyatakan positif covid-19.

Apalagi mendapat kabar tentang orangtua kenalan yang sebelumnya sehat-sehat saja, hitungan hari setelah vaksin tekanan darahnya naik, pingsang, koma beberapa hari, dan nggak tertolong.

Kepala saya yang menerima informasi seperti itu jadi mengingatkan pada kondisi tubuh saya saat terakhir ikut vaksin. Itu sekitar dua tahun lalu *lupa ikut vaksin apa*. Yang barengan vaksin saat itu pada nggak apa-apa, saya badannya hangat selama dua hari, lengan bekas vaksin ngilu hampir dua minggu, udah kayak balita divaksin aja wkwkwk.

Padahal, saya juga nggak lupa, bahwa yang tubuhnya bereaksi agak berat terhadap vaksin covid 19 hanya beberapa.
Banyak yang ikut vaksin dengan rentang usia muda hingga lansia, sesudahnya pada baik-baik saja.

Tapi saya tetap memilih, “entar aja vaksinnya. Kegiatannya hanya di rumah ini. Tunggu kondisi agak kondusif. Ntar kalau ada efek yang mengharuskan ke rumah sakit, nggak begitu bikin keder.”

Poin yang harus digaris bawahi, saya terkesan membiarkan rasa keder terhadap efek vaksin, lebih karena aktivitas harian saya yang hanya di rumah.

Pengalaman vaksin Sinovac dan alasan telat
Foto setelah vaksin Sinovac 1, istirahat dulu

Antrian yang Bikin Lelah Jiwa Raga

Bulan-bulan awal vaksin diberikan untuk masyarakat umum yang ada di lingkungan tempat tinggal, nggak ada lagi penawaran untuk warga tertentu, seperti warga yang melayani kepentingan umum, lansia, dsb.

Warga menyambutnya dengan antusias, antrian setiap ada infromasi vaksinasi selalu bikin lelah jiwa dan raga, ini menurut kaca mata saya tentunya.

Bagaimana tidak, pengumumannya hanya berupa himbauan vaksin pada warga desa ini, dengan syarat membawa foto copy KTP dan alat tulis, datang ke lokasi yang ditentukan, kuota sekian (terbatas), vaksin dimulai pukul sekian.

Warga pada mulai ngantri setelah subuh, bahkan yang udah dalam antrian sering nggak kebagian nomor, karena kuota hari itu sudah penuh.

Saya pernah mau ke pasar pagi-pagi, sekalian sepedaan, area lokasi vaksin dekat pasar, macet dan penuh orang berdesakan. Batal deh saya singgah ke pasar. Serem sama kerumunan.

Ada juga jadwal vaksin di Puskesmas terdekat, ngambil nomornya juga kudu pagi. Pukul 7 lewat dikit udah nggak kebagian nomor.

Menurut saya, hanya mereka yang aktivitasnya menuntut harus menggunakan bukti sudah divaksin, yang bakal rela meng-hunting tempat pelaksanaan vaksin kalau situasinya seperti itu.

Saya yang berkegiatannya di rumah, memilih nanti-nanti saja. Jika nekat ikutan, divaksin enggak, pusing iya.

Pasti pada nanya, kok nggak daftar vaksin online aja? Kalau dengan cara ini, lokasi terdekat yang dipilihkan, menurut saya termasuk lumayan jauh. Tetap merasa nggak aman secara pikiran.

Pilih-Pilih Vaksin

Sejujurnya, selain antrian setiap kali vaksin untuk covid 19 yang masih kayak ular, pilih-pilih vaksin ini salah satu alasan lain yang membuat saya nggak begitu ngoyo ikut antrian vaksin. Saya maunya vaksin Moderna atau Pfizer.

Saya berharap menggunakan kedua vaksin tersebut bukan karena dibilang lebih manjur atau apanya. Tapi lebih kepada, bakal ketemu jarum suntiknya cukup dua kali, nggak harus 3x alias di-booster lagi seperti pengguna vaksin Sinovac :mrgreen: .

Menunggu-nunggu, ujung-ujungnya saya tetap aja kebagian divaksin dengan Sinovac alias CoronaVac, wkwkwk *jodohnya itu*.

Takut Disuntik

Selama pandemi dan dimulainya anjuran vaksin, banyak beredar video orang-orang yang takut divaksin karena takut disuntik. Temans tentunya pada melihat video tersebut kan?

Saya ‘takut’ disuntik, tapi nggak seheboh video tersebut. Tubuhnya disugesti agar rileks, tetap aja tegang. Selalu dikomplain dokter yang nyuntik.

Sekali lagi, ini adalah alasan personal. Kalau saya, bukan karena takut jarum suntiknya, tapi pada efek setelah disuntiknya. Sebab saya mempunyai keloid di lengan, bekas suntikan vaksin cacar waktu SD.

Awalnya bekas suntikan itu hanya benjolan kecil seujung peniti, tapi lama-lama gatal dan melebar. Karena hal itu, jadi tau kalau kulit saya ‘berbakat’ keloid jika luka.

Dulu, saya sampai bosan ketemu dokter spesialis kulit untuk mengobati si keloid bekas vaksin tersebut. Pengobatannya mulai dari disuntik dengan banyak suntikan sekali seminggu, salep, cream, silicon gel dan akhirnya dibiarkan. Sebab pilihan pengobatan terakhir yang tersisa melalui operasi, tapi tidak direkomendasikan oleh dokter yang merawat, sebab kemungkinan tidak berhasilnya lebih besar.

Kan nggak lucu, jika tubuh saya nggak siap divaksin, hasilnya malah jadi keloid lagi. Oiya, di badan saya juga banyak bekas sayatan operasi lainnya.

Saya dan jarum suntik ‘kurang bersahabat’ karena ada alasan yang menyertainya πŸ™‚ .

So, mereka yang takut disuntik itu juga punya alasan yang tidak temans ketahui. Tolong jangan dijadikan bahan becandaan tanpa seizin yang bersangkutan.

Bersyukurlah temans yang nggak mempunyai trauma, hidupnya mulus-mulus aja πŸ™‚ .

Pengalaman Vaksin Sinovac, Biasa-Biasa Saja

Anak sekolah sudah mulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Banyak keperluan nak bujang untuk sekolah yang harus dicari.

Karena badannyaa termasuk ‘istimewa’ untuk ukuran anak sekolah, nyari keperluannya harus di tempat tertentu. Untuk masuk ke sana dalam situasi pandemi, syaratnya harus sudah divaksin.

Duh! Ruang gerak terasa terbatas sekali.

Makanya, di bulan September 2021, saya atau teman hidup memutuskan untuk vaksin. Kalau pun ngambil nomornya harus ngantri panjang, asalkan nggak begitu jauh dari tempat tinggal, bakal dilakoni.

Sempat mau ikutan vaksin yang diadakan di rest area tol Jagorawi, tapi kemudian mikir ulang. Kami serasa bakal mengambil jatah vaksin mereka yang rutinitas kerjanya melalui tol tersebut. Merasa nggak enak hati sendiri.

Untungnya ada info dari kantor desa tempat tinggal, mau menyelenggarakan vaksin, dengan jam pelaksanaan berdasarkan RW tetap tinggal. Syaratnya harus daftar dulu di RT tempat tinggal masing-masing. Jatah setiap RT hanya 10 orang.

Karena keluarga kecil saya termasuk kloter terakhir yang belum vaksin di tempat tinggal, kuota jatah 10 orang per RT itu sangat mencukupi.

Awalnya yang daftar hanya teman hidup saja. Tetapi, setelah nanya-nanya bahwa screening yang paling menentukan, boleh tidaknya divaksin adalah tekanan darah. Saya akhirnya ikutan mendaftar.

Nak Bujang ternyata juga wajib vaksin untuk PTM, tetapi dilakukan di sekolah. Kami vaksin di kantor desa pada tanggal 20 September, anaknya vaksin di sekolah dua hari setelahnya.

Pengalaman vaksin Sinovac, tidak seseram yang dipikirkan
Antrian vaksin Sinovac 1, standar

Efek yang Dirasakan Setelah Vaksin

Pada hari H vaksin, saya tegang memikirkan efek atau reaksi tubuh saya menerima vaksin. Tapi selama pandemi, saya menerapkan tips meningkatkan kekebalan tubuh, jadi agak sedikit yakin.

Karena waktunya sudah diatur sesuai RW tempat tinggal masing-masing, antrian untuk vaksin biasa. Nggak berdesakan.

Ketika mengukur tensi, sempat dibilang tensi saya termasuk tinggi, tapi dalam rentang yang masih diperbolehkan.

Susternya tersenyum, “tegang ya, bu.”

Saya mengangguk jujur πŸ™‚ .

Suster meminta saya untuk rileks dan minum dulu sebelum masuk ruangan vaksin.

Pada petugas kesehatan yang akan memberikan vaksin (Bidan), saya sempat meminta kepastian kalau vaksinnya tidak mempengaruhi hormon. Sebab, jauh sebelumnya, saya pernah diingatkan dokter kalau tubuh saya tidak boleh terpapar obat yang akan mempengaruhi hormon.

Bu Bidannya bilang, vaksinnya aman dan tidak mempengaruhi hormon. Baiklah.

Setelah vaksin, bekasnya lumayan agak berdarah. Dikasih kapas penahan oleh bidannya. Lengannya berasa pegal. Kami duduk menunggu di luar sekitar 15 menit-an.

Efek yang saya lihat pada teman hidup dan nak bujang setelah vaksin, ngantuk dan lapar.

Bagaimana dengan saya?

Mungkin karena kepala saya terlalu risau memikirkan reaksi tubuh yang akan gimana-gimana, saya malah susah tidur. Badan terasa agak sempoyongan, tapi kepala nggak pusing.

Saat tidur, dada terasa agak nggak nyaman. Saya harus menumpuk beberapa bantal untuk meninggikan kepala, posisi tidur seperti setengah duduk, baru terasa agak nyaman.

Perasaan seperti itu saya rasakan hampir dua mingguan.

Untuk vaksin kedua, saya vaksin diantara waktu jeda kegiatan membantu input data ke aplikasi pedulilindungi sebagai relawan gratis *karena ternyata ada relawan yang dibayar, wkwkwk*.

Efek usai vaksin Sinovac yang kedua, baru saya merasa ngantuk dan kelaparan. Rasanya di tubuh ada ‘makhluk’ yang menampung makanan yang dimasukkan ke lambung. Baru selesai makan, udah lapar lagi, hehehe.

Oiya, lengan saya setelah vaksin Sinovac 1 dan 2 selalu saya kompres dengan air hangat yang ditaruh di dalam botol kaca. Botolnya ditempelkan ke lengan, berasa enak an.

Kesimpulan

Banyak alasan seseorang belum vaksin. Bukan karena tidak mematuhi atau apalah. Yang bertugas sebagai ‘corong’, mohon dijaga ucapannya saat melakukan tugas dalam melayani masyarakat. Kuping saya sempat ‘syok’ saat beberapa kali jadi relawan πŸ™‚ .

Reaksi tubuh saat menerima vaksin berbeda-beda. Dipengaruhi beberapa vaktor. Bagi orang dewasa, faktor yang paling berpengaruh adalah pikiran. So, sebelum vaksin, tetapkan niat, setelahnya berserah pada Sang Pemilik Segalanya. Nggak usah ngedumel ini itu, dijalani aja πŸ™‚ .

Percayalah dengan ungkapan “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa dan tubuh yang kuat”. Mari sehatkan pikiran demi menjaga kesehatan tubuh πŸ™‚ .

Salam sehat.
Jejak mata, rasa, dan pikiran YSalma.

33 comments

  1. Akhirnya bisa melindungi diri dan orang orang yang kita kasihi dengan melengkapi diri dengan vaksin. Apapun itu vaksinnya pasti bakalan bagus buat perlindungan saat pandemi ini

    Suka

  2. ikut senang mba akhirnya udah dapat vaksin yaa.. semoga terus sehat. memang vaksinasi nggak bisa jadi satu2nya jalan keluar, tapi bisa jadi salah satu ikhtiar untuk jaga diri dan keluarga.

    Suka

  3. hehehe seru kisah vaksinnya

    karena kisah saya lurus banget

    pingin segera vaksin agar segera terlindungi

    eh dapet dan gak ngerasain apa2, pegalpun tidak

    Suka

  4. Alhamdulilah sudah vaksin ya, Mbak..Saya juga Sinovac dengan suami dan anak sulung, anak bungsu dapat Pfzer
    Di keluarga suami saya sebelumnya beberepa belum vaksin juga karena alasan yang disebutkan di artikel ini. Tapi kini mereka sudah vaksin – termasuk rombongan terakhir di lingkungannya.
    Tapi masih ada keluarga adik ipar sekeluarga memang ga mau vaksin karena antivaks..ya sudah saya juga enggan berdebat karena belum-belum keluarlah segala ayat

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Sani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.