Curug Ciismun, Air Terjun Cantik Ramah Usia di Kebun Raya Cibodas


Nama Kebun Raya Cibodas mungkin sudah sangat familiar bagi teman-teman, apalagi yang berada di wilayah Jakarta dan daerah penyangganya. Sebab, tempat ini termasuk salah satu destinasi wisata alam terbaik untuk dikunjungi pada akhir pekan. Baik itu didatangi bersama keluarga, komunitas, atau dalam rangka mempererat hubungan satu tim kerja.

Curug Ciismun air terjun penuh pesona di Kebun Raya Cibodas

Saya sudah beberapa kali mengunjungi kawasan ini, tapi baru ngeh pada kunjungan 6 November 2021 lalu, kalau kawasan ini memiliki air terjun cantik bernama Curug Ciismun yang ramah dikunjungi untuk semua usia, mulai anak-anak hingga lansia.

Yuks mari disimak perjalanan saya bersama rombongan menjelajah kawasan ini hingga sampai di air terjunnya.

Refreshing ke Kebun Raya Cibodas

Sebenarnya lokasi tujuan dari rombongan kader Posyandu Mawar 14 *kebetulan saya termasuk kader anggota tim ‘hore’ πŸ˜† * adalah Kebun Raya Cibodas, kebun raya yang dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Curug Ciismun seru untuk refreshing keluarga

Rombongan yang saya ikuti berkunjung untuk refreshing, melihat keindahan alam yang terawat, dalam rangka memperingati ulang tahun ke 7 Posyandu Mawar 14. Ceritanya Buibu jalan bareng sehari tanpa direcoki keluarga 😳 .

Rencananya berangkat dari komplek perumahan pukul 6 pagi dengan 2 mobil carteran. Akan tetapi, karena PJ konsumsi tidak update hari keberangkatan yang diubah dari Ahad 7 November ke Sabtu 6 November, jadinya tunggu-tungguan.

Alhasil, waktu keberangkatan molor sekitar 45 menit, dan dua orang PJ konsumsi tidak jadi ikut rombongan karena belum rapi.

Untungnya anggota lain yang berangkat pada membawa bekal sarapan dan minuman masing-masing juga. Kejadian seperti ini merupakan salah satu keseruan jalan bareng rombongan. Semuanya dibuat asyik.

Perjalanan lancar, si bapak sopir milih lewat jalan alternatif ke arah Klapanunggal, Citeureup, masuk jalan tanah naik turun, perbukitan yang lumayan lebat, jalan perumahan yang lumayan bagus, juga ada yang lumayan sempit, dan muncul-muncul di daerah Cipayung Puncak.

Nggak macet, tapi kendaraan dan yang nyupir kudu benar-benar oke dan pengalaman πŸ™‚ .

Curug Ciismun Kebun Raya Cibodas panorama sekitar indah

Oiya, kendaraan yang saya tumpangi, sebelum puncak pas, ban kiri depan sempat keluar asap. Pak sopirnya nggak ngeh, orang-orang lewat yang teriak-teriak sambil nunjuk-nunjuk, “asap, asap”.

Pak sopir meminggirkan mobilnya di dekat mini market yang kebetulan di sebelahnya ada bengkel besar. Pak sopir sampai bingung, mobilnya baru diservis, kalau kampas rem yang masalah harusnya bau, ini enggak.

Pak sopir menyiram area ban yang berasap dengan air, hingga asapnya hilang.

Orang bengkel yang melihat, bersuara, “tadi ada motor yang mepet mobil nggak? Itu kemungkinan disiram oli sama mereka.”

Si bapak sopir menelepon temannya yang bawa rombongan mobil satunya. Temannya juga mengingatkan kalau itu modus. Area ban disiram oli, kemudian berasap saat dipakai jalan, nanti bakal ada yang nawarin bantuan, jadi ‘kang bengkel dadakan’.

Doh! Jalur puncak jadi ada ‘modus’ aneh-aneh, hiks.

Kami pun melanjutkan perjalanan, melewati Puncak Pas, nyampai pertigaan Cibodas, belok kanan, jalan nanjak hingga nyampai area Kebun Raya Cibodas. Pada gerbang penyetop-an pertama, pengunjung bayar 5 ribu per orang, biaya untuk kendaraan saya lupa.

Kendaraan kami sampai di pintu utama masuk Kebun Raya Cibodas. Di sini pengunjung harus bayar sekitar Rp25.500 per orang, kendaraan juga harus bayar. Di pintu masuk juga harus scan barcode pedulilindungi yang diwakili oleh salah satu rombongan.

Karena kami tidak melihat rombongan yang udah duluan, sebelum memutuskan masuk, kami calling-an dulu.

Rombongan yang udah duluan, bilang nunggu di pintu gerbang masuk Kebun Raya Cibodas. Padahal kendaraan kami juga berhenti di area gerbang masuk, tapi nggak melihat keberadaan mereka.

Akhirnya, mereka ngirim foto gerbang tempat mereka menunggu, fotonya kita perlihatkan ke petugas yang jaga. Dikasih tahu kalau itu pintu masuk ke 2. Sedangkan kami saat ini berada di pintu masuk utama Kebun Raya Cibodas.

Curug Ciismun di lokasi Kebun Raya Cibodas yang terawat
rumput di area Kebun Raya Cibodas

Kendaraan kita mutar balik, menuju arah tempat penyetopan pertama.

Ternyata, setelah gerbang pembayaran pertama yang 5 ribu/orang, kendaraan yang saya tumpangi ngambil arah kiri yang jalannya lumayan lega dan bagus, mobil yang duluan ngambil arah lurus yang jalannya lebih sempit.

Kok nggak mobil satunya aja yang nyusul kita ke gerbang masuk utama? Mereka udah bayar duluan di pintu masuk ke-dua, hehehe.

Kendaraan kami lanjut beriringan masuk kawasan Kebun Raya Cibodas melalui pintu masuk 2, jalannya nanjak dengan suguhan pemandangan hijau pepohonan dari ‘hutan’ konservasi yang terawat baik.

Nyampai area parkir sekitar pukul setengah sembilan, lokasinya tidak jauh dari mushola, warung, toilet, dan area taman hijau yang luas untuk melakukan kegiatan dengan rumput yang terawat.

Track Menuju Curug Ciismun

Pokoke, begitu memasuki kawasan Kebun Raya Cibodas mata akan disuguhi oleh pemandangan hijau, udara fresh. Badan auto pengen leyeh-leyeh di rerumputan hijau yang terawat itu.

Di area parkiran ini terlihat ada penunjuk arah menuju curug yang ada di kawasan Kebun Raya Cibodas. PJ acara memutuskan untuk main ke curug dulu sebelum duduk leyeh-leyeh.

Mobil pertama yang sopirnya lebih mengetahui area kawasan, nggak jadi parkir, lanjut menuju tanda penunjuk menuju Curug Ciboga. Mobil yang saya tumpangi ngikut di belakang.

Baru satu tanjakan, mau belok, mobil di depan berhenti. Teman satu rombongan di mobil saya ngomong kalau itu arah ke curug yang kecil. Kalau curug yang bagus itu curug Ciismun.

Curug Ciismun, jalan dan track menuju air terjunnya
Foto kiri, jalan menuju curug dari parkiran pintu 2. Foto kanan: salah satu tanjakan

Pak sopir nyahut, “ngapain jauh-jauh ke Cibodas ngelihat curug yang pendek dan kecil, nggak jauh sama air yang keluar dari selang air. Di rumah aja atuh, hahaha”.

Mobil depan mutar arah, kembali ke parkiran. Kendaraan kami pun menyusul.

Petugas yang menjadi bagian dari Kebun Raya Cibodas memberitahukan arah menuju curug Ciismun pada pak Sopir mobil pertama. Pak sopir mentransfer informasi itu kepada rombongan kami, buibu.

Kami, buibu pun penuh semangat membawa bawaan yang diperlukan menuju arah yang ditunjukkan, jalan berbatu yang menanjak. Tentunya sembari asyik menikmari pemandangan serta pepotoan.

Merasakan jalan yang semakin menanjak, ada yang mulai nyelutuk, “kira-kira curug-nya jauh nggak ya? Walaupun jalan berbatunya termasuk bagus, tapi lumayan bikin napas ngos-ngosan ini tanjakan”.

Tetiba, ponsel PJ transportasi berbunyi, si bapak sopir pertama menelpon, beliau yang memantau kami dari area parkiran, memberitahukan kalau kami salah arah, itu menuju area homestay. Harusnya pas pertigaan, ambil kiri, bukan lurus ke jalan nanjak itu. Hoalah, buibu!

Curug Ciismun track dari pintu 3
Jalan menuju dan dari pintu masuk 3, hanya sedikit turun naik, tidak ada track tanjakan/turunan ekstrim

Kami pun kembali menuruni jalan berbatu, menuju pertigaan yang dimaksud. Ternyata, di sana ada plang arah penunjuk curug Ciismun, kami yang asyik ngobrol nggak membacanya, hiks.

Pak sopir sudah menyiapkan seorang bapak-bapak untuk memandu kami menuju curug.

Namanya kawasan kebun raya, tentunya areanya luas. Tetapi petunjuk arahnya lengkap, pengunjung jangan malas membaca agar nggak nyasar 😳 .

Jalan menuju curug Ciismun dari area parkir yang ada di pintu masuk ke 2 ini, jalan berbatu terawat, ada undakan menurun, belokan, turunan yang lumayan tajam dengan pegangan dari besi di pinggirnya.

Saya yang udah beberapa kali ke curug di Kabupaten Bogor, track menuju curug Ciismun termasuk yang bagus. Kesannya jalan sembari menikmati alam hijau, udara sejuk aja.

Pada turunan tajam kami berpapasan dengan tiga orang ibu-ibu yang mengendong ranting kering di punggungnya. Ibu-ibu tersebut menyapa, “duh ibu-ibu, mau ke curug kok lewat jalan sini. Licin atuh,” sembari meraih tangan dari rombongan kami yang usianya paling sepuh.

Kami mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bantuan uluran tangan itu ternyata harus dibalas dengan salam ‘tempel’, nggak terima kasih doang πŸ˜† .

Ibu dari rombongan kami yang tangannya sempat dituntun menuruni dua anak tangga, mengatakan nanti ya bu, ini kita belum juga nyampai curug. Ibu-ibu yang membawa ranting masih bersuara, intinya kurang puas karena kami nggak ‘memberi’.

Di ujung jalan menurun, sebelum bertemu jalan rata dan plang penunjuk curug, kami ‘disambut’ oleh dua orang anak usia sepuluh tahunan yang minta-minta.

Sayang banget, hijaunya kawasan Kebun Raya Cibodas, suara gemericik aliran air yang terdengar samar, dan cericit suara burung, agak sedikit terusik oleh warga yang minta-minta tersebut. Lebih elok caranya dibalut dengan menawarkan cenderamata, kantong ramah lingkungan, atau apalah.

Jalan menuju curug udah mulai rata, sekitar 500m menjelang curug, ada jembatan kayu pendek untuk melintasi aliran air dari curug Ciismun. Di ujung jembatan ada warung dan toilet yang bersih.

Kami istirahat sebentar di sini. Ada yang mesan minuman hangat, ada yang ke toilet. Ngaso dulu sambil mengagumi hijau dan lebatnya ‘hutan’.

Setelah curug terlihat, kami mengucapkan terima kasih pada bapak pemandu jalan dengan menyisipkan uang 20 ribu. Tetapi si bapak bilang itu kurang, akhirnya ditambah 20 ribu lagi πŸ™‚ .

Pesona Indahnya Curug Ciismun

Walaupun trekking menuju curug Ciismun dari arah kami datang lumayan bikin dengkul pegal untuk nahan berat badan 😳 , tapi terbayar dengan pesona dan keelokan alam yang ditawarkan.

Tidak berapa lama setelah melanjutkan perjalanan dari warung, tampak aliran air berupa sungai dari curug Ciismun di sisi jalan, jernih, dan terasa segar di kulit.

Saat kami berkunjung, air terjun setinggi 25 meter ini pas banget, tidak terlalu deras, cerukannya juga keren untuk foto-foto ataupun main air.

Yang suka wisata curug, bakal jatuh cinta dengan keindahan panorama curug Ciismun Kebun Raya Cibodas deh.

Begitu arah balik, saat akan meninggalkan area curug, badan udah memberikan alarm, lelah duluan membayangkan track menanjak yang akan dilalui menuju arah kedatangan tadi.

Akhirnya, kami memilih bertanya pada pemilik warung tempat kami singgah tadi. Si bapak mengatakan ada track rata menuju pintu tiga, tinggal lurus, nggak usah belok di plang penunjuk.

Curug Ciismun pintu masuk/keluar via Cipanas untuk pengunjung semua usia

Pada arah balik ini, setelah melewati jembatan kayu, kami bertemu bapak-bapak yang nyapu jalan, tidak jauh darinya ada wadah terbuka berisi uang. Ini cara halus yang keren untuk meminta ke pengunjung kan ya. Orang memberi dengan kesadaran sendiri, nggak diminta-minta.

Dekat plang penunjuk, track belok nanjak menuju pintu gerbang 2 atau lurus menuju pintu 3, masih ada satu bocah yang tadi minta-minta dan ibu-ibu yang tadi ngajak ngobrol sambil meraih tangan.

Ibu di rombongan kami yang tangannya tadi diraih, menitipkan sedikit, sembari bilang dibagi-bagi untuk beli minuman ya. Masih terdengar suara kalau itu terlalu sedikit. Duh!

Track dari area curug Ciismun menuju pintu 3 ini boleh dibilang jalannya rata. Cocok untuk semua usia. Tanpa terasa, kami udah nyampai di gerbang pintu 3. Sempat berpapasan dengan rombongan yang ada lansianya, yang jalan dengan semangat menuju curug. Keren.

Oiya, pintu masuk/keluar ke Curug Ciismun yang ramah semua usia ini, istilahnya selain pintu 3 adalah pintu Kebun Raya Cibodas via Cipanas.

Curug Ciismun pintu gerbang via Cipanas dan pesona pemandangannya

Gerbang pintunya ada diujung jembatan yang melintasi aliran sungai dari curug Ciismun. Parkiran kendaraan ada di seberang jalan menuju curug. Pemandangan dari jembatan juga memesona mata.

PJ transportasi menghubungi pak sopir sekalian share lokasi. Saat menunggu jemputan kendaraan, sempat turun gerimis, tapi hanya sebentar.

Leyeh-Leyeh Menikmati Hijaunya Kebun Raya Cibodas

Kendaraan datang, kami kembali ke area parkir yang lebih dekat dari pintu 2. Pak sopir sampai bingung, kok kami bisa keluar 3 km jauhnya dari titik pertama menuju curug. Buibu tentu saja serempak nyahut, “lututnyaa pada nggak sanggup melewati jalan mendaki, milih jalur pintas yang rata πŸ˜† .”

Kami kembali turun di area parkir awal kedatangan.

Pada area parkir ini banyak ibu-ibu yang menyewakan plastik untuk alas duduk atau rebahan. Per plastiknya dikenai biaya 15 ribu. Lebar plastiknya kalau dipakai buat rebahan, hanya muat untuk dua orang dengan posisi badan lurus πŸ™‚ .

Kalau mau yang agak lebar, sewa lebih dari satu atau bawa tikar sendiri. Kami bersepuluh menyewa tiga plastik untuk duduk.

Curug Ciismun, air terjun penuh pesona di Cibodas

Ketika duduk dan kaki selonjor, baru deh terasa kaki pada pegal, perut keroncongan. Sambil menunggu PJ konsumsi yang nyusul dengan kendaraan sendiri dan membawakan makan siang, kami yang muslimah bergantian ke mushola untuk menunaikan kewajiban.

Info dari pak supir yang makan di warung yang ada di dekat situ, makan dengan ayam, tempe, kerupuk, dan minum teh hangat, seporsi 25K saja, worth it lah.

Setelah makan, mata pun mengantuk, apalagi ditiup angin sepoai-sepoai.

Sebelum balik, kami sempat senam maumere dulu untuk melemaskan otot-otot. Biar semangat singgah di destinasi berikutnya πŸ™‚ .

Kesimpulan

Tips menuju curug Ciismun dengan rute dan track terbaik, araha datang dari pintu masuk via Cipanas alias pintu 3. Rute terpendek, track-nya juga ramah untuk pengunjung semua usia yang terbiasa jalan kaki.

Gunakan alas kaki untuk trekking biar nyaman. Jangan lupa bawa minum yang cukup, serta buang sampah di tempat yang sudah disediakan.

Tetap diingat, di tempat wisata, bentuk ‘kebaikan’ itu jarang yang gratis πŸ˜† . Komunikasikan semuanya dengan jelas sebelum merespon ‘keramahan’ tersebut πŸ™‚ .

Untuk penanggungjawab kawasan Curug Ciismun, warga yang meminta-minta pada pengunjung, sebaiknya diberdayakan, misalnya dengan berjualan cenderamata. Citra kenyamanan pengunjung agak sedikit terusik saat berkunjung.

Temans sudah ada yang pernah trekking ke Curug Ciismun? Gimana pengalamannya, seru juga kan? Untuk yang belum pernah, jika ada rencana main ke daerah Cibodas, jangan sampai melewatkan curug ini. Selamat menjelajah ya.

Salam, jejak #wisata dari mata, rasa, dan pikiran YSalma.

33 comments

  1. udah berapa puluh tahun ya, saya gak ke kebun raya cibodas

    kalo gak salah terakhir kali kesini sewaktu masih kuliah deh

    masuk list destinasi traveling jarak pendek ah

    Suka

  2. Keren banget tempatnya mbak, cocok banget untuk dijadikan tempat piknik keluarga jadi sejenak bisa menikmati alam yang masih hijau

    Suka

  3. Cerita tentang air terjun Curug, beberapa bulan yang lalu anakku ajak untuk liburan kesana.Tetapi karena lagi kurang fit aku tidak ikut. Jadilah aku sebagai penonton ketika anakku pamerkan foto indahnya di Curug.Next time aku akan liburan kesana,refreshing menenangkan jiwa

    Suka

  4. luas sekali ya kak area kebun raya cibodas ini. kalau kata anak-anak sekarang cocok banget tempat ini buat healing haha.. dan satu lagi kalau udah ketemu air terjun rasanya penat jalan kaki pun lepas.

    Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.