Tips Sukses Melaksanakan PKL Bagi Anak SMK di Perusahaan Kecil


Melaksanakan PKL bagi anak SMK yang sudah melengkapi syarat yang ditetapkan sekolah, salah satunya dengan menyerahkan surat izin ikut PKL dari orangtua, seharusnya kegiatan berjalan lancar jika si anak datang ke tempat PKL dan tidak bertingkah.

PKL (Praktik Kerja Lapangan), Pengalaman Baru Bagi Pelajar SMK

Agar proses pemagangan ini berjalan lancar, semua pihak harus memahami kondisi, bahwa bagi anak SMK kelas XI (sebelas) tahun 2021 yang akan PKL, ini merupakan sebuah pengalaman baru.

Anak-anak itu boleh saja sudah kelas sebelas, tetapi tak boleh lupa, pada dasarnya mereka-mereka ini baru 7-8 bulan belajar aktif di lingkungan SMK setelah lulus SMP, sisanya mereka belajar secara online di rumah karena pandemi. Hanya sekali-sekali beraktivitas ke luar rumah.

tips sukse melaksanakan pkl untuk anak smk
PKL atau magang lancar, semua senang

Tiba-tiba mereka dihadapkan pada situasi dunia kerja. Siap tidak siap, mereka harus ikut.

  • Anak PKL Harus Tunduk Aturan di Tempat Magang

Pihak sekolah sudah memilihkan tempat PKL untuk beberapa anak, atau ada juga anak yang mencari sendiri. Siswa kemudian berangkat ke tempat yang bersedia ditempati dengan membawa surat pengantar dari sekolah.

Surat ini nanti diserahkan pada pihak yang mengurus siswa PKL di tempat magang.

Anak SMK juga dibekali oleh pihak sekolah dengan sebuah buku jurnal yang harus diisi setiap hari. Pengisian jurnal ini diperkuat dengan tanda tangan penanggung jawab di tempat magang.

Di dalam jurnal ini juga ada lembar penilaian yang harus diisi oleh penanggungjawab tempat magang.

Nak bujang saya yang telah melakukan PKL selama 2 bulan, terhitung dari tanggal 8 Desember 2020 hingga 8 Februari 2021 lalu di tempat yang dipilihkan sekolah, sedikit bermasalah dengan lembar penilaian ini.

Pihak tempat magang tidak bisa memberikan penilaian, menyerahkan pada pihak sekolah yang menilai dengan alasan anaknya dianggap kurang membantu dan kurang gesit saat PKL 😥 .

Saya sebagai orangtua, tentunya mengetahui kondisi anaknya saat magang.

Setelah mendengar komplain dari pihak sekolah secara langsung, saya menyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi karena salah komunikasi dan persepsi antara anaknya sebagai siswa yang PKL, pihak sekolah dalam memberikan wejangan pengantar, dan tempat magang yang mengharapkan anaknya aktif bertanya dan membantu seperti anak kuliah, tanpa perlu dikasih tahu.

Kebetulan tempat magang masih perusahaan afiliasi dari yayasan sekolah nak bujang. Ekspektasi tempat magang terlalu tinggi terhadap siswa PKL.

Di sisi lain, anak yang sedang PKL merasa di tempatkan di bagian yang jauh dari informasi yang didapat dari sekolah.

Nak bujang jurusan teknik animasi, PKL di tempatkan di usaha percetakan. Di sana diminta membantu bagian ngeprint banner. Lebih tepatnya finishing banner yang keluar dari mesin printer, me-lem bagian pinggiran banner, merapikan agar tidak lengket, dan lainnya.

Hari pertama PKL, anaknya sempat ‘shock‘. Dikiranya, di tempat PKL bakal belajar desain.

Saya sebagai emak memberi semangat. Di mana pun tempat PKL, anak SMK bahkan calon karyawan sekalipun, tidak langsung di tempatkan pada bagian yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Di suruh bantu-bantu semua urusan printilan dulu, ya bersih-bersih, membuatkan minum, membelikan makan siang, dsbnya.

Anak sekarang, untuk urusan yang menyangkut sekolah, mereka akan berpatokan pada ucapan guru. Bukan ucapan emaknya, yang malah dianggap sok tahu.


Karena anaknya belum cukup umur untuk memiliki SIM, emaknya juga emak rumahan, anaknya ga mau berangkat sendiri ke tempat PKL, minta diantar jemput oleh emaknya. Hayuks.

Selama perjalanan pulang saya selalu bertanya, kapan dia berangkat sendiri. Ibu-ibu di perumahan pada bertanya, “apa nak bujang gak malu diantar jemput sama emak.”

Mendengar hal tersebut, nak bujang saya malah ‘menceramahin’ balik saya sebagai emak, “Ibu-ibu kenapa pada rese, lah aku diantar sama Mama aku kok. Mereka pasti belum menonton film Spiderman, itu si Peter Parker mau kencan aja diantar sama bibi May. Padahal si Peter punya kemampuan super, tapi karena masih belum cukup usia, ya tetap dianggap anak-anak oleh bibinya.

Nak bujang juga menambahkan omongannya, “Mama terpengaruh omongan buibuk, maksa anaknya berangkat naik motor sendiri, melintasi jalan besar yang banyak truk, kalau nanti ada gimana-gimananya, bagaimana pertanggungjawaban Mama terhadap perlindungan anak yang belum mempunyai SIM dan KTP?”

Saya sebagai emak, yang memang sering menekankan untuk tidak melanggar aturan lalu lintas, serasa kena batunya.

Anggap saja waktu mengantar dan menjemput merupakan waktu tambahan untuk berbincang dengan anaknya.

Nak bujang saya juga bercerita kalau dia pernah ditanya oleh pimpinan tempat magang, apa dia bisa naik motor.

Anak saya menjawab, “belum bisa kalau di jalan raya. Saya hanya bisanya bawa motor kalau ke sekolah lewat jalan pintas.”

Saya merespon dengan mengatakan, “Kenapa kamu bilang ga bisa. Lha, kamu bawa motor kopling aja bisa. Malah pernah beberapa kali nganterin Mama ke Bekasi Barat dan Cikrang. Itu kesempatan kamu untuk membantu lebih, lho. Untuk urusan luar.”

Nak bujang mengiyakan, “aku tahu. Aku antisipasi disuruh-suruh begitu. Bu guru di sekolah bilangnya ga boleh macam-macam di tempat magang. Bisa dikeluarkan dari sekolah. Lha, aku belum punya SIM, trus hanya karena bisa bawa motor, harus disuruh-suruh. Ntar kalau kenapa-kenapa, tetap aku dan Mama yang bertanggung jawab seperti surat ijin yang udah ditandatangani itu. Mending pilih aman aja.”

Duh, anakku. Mikirnya kemana-mana. tapi bener juga sih.

Oiya, saya juga memantau aktivitas anaknya di medsos selama jam PKL. Dan menjapri dia kalau melihat dia memperbaharui status, “kenapa kamu main hp di tempat PKL? Ga boleh loh. Kurang etis dilihatnya.”

Anaknya beralasan, dia membuka ponsel saat jam istrihat dan kalau pekerjaannya sudah selesai. Karyawan di sana juga pada main ponsel pada jam segitu kok.

Saat menjemput, saya kembali mengingatkan anaknya, “kamu sebagai anak magang, harusnya kalau sudah selesai pekerjaan utama, mendekat ke bagian desain, tanya-tanya apa yang mereka kerjakan. Mereka kekurangan karyawan, ga bakal sempat memberikan waktu khusus untuk mengajarkanmu.”

Anaknya membela diri, “udah kok, Ma. Mereka pada sibuk semua. Hari pertama datang, karena mendadak dan ga dikasih tahu detailnya, aku ditanya membawa laptop ga. Giliran hari berikutnya, aku selalu membawa laptop setiap hari, dan memberitahu bapaknya, tetap aja ga diajarkan, kok.”

Kelemahan nak bujang saya memang kurang gigih pada sesuatu yang kurang diminati. Sekali dua kali dia mencoba mendekat, tapi kurang mendapat respon seperti yang dia harapkan. Dia akan berkesimpulan, ‘ya udah, lakukan yang disuruh aja’.

Tapi, kalau untuk hal yang menurut dia harus diperjelas, dia akan bertanya sampai mendapatkan jawaban pasti.

Misalnya, dia mempertanyakan tentang jam kerja PKL. Kebetulan di tempat magang, jam kerja untuk karyawan dari pukul 9 – 21 WIB, dari Senin sampai Sabtu.

Saya meminta anaknya untuk mengikuti jam kerja karyawan secara umum tersebut. Sebab tempat magangnya bukan usaha yang jam kerjanya ketat. Tidak berkutat dari pagi hingga sore dengan pekerjaan.

Nak bujang tidak terima. Dia mengatakan bahwa itu ga sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja. *Beuh! Anak sekarang*.

Dia beranggapan anak magang bukan karyawan yang dihitung lembur setelah melebihi waktu kerja 8 jam sehari.

Dia pun bertanya pada pimpinan di tempat dia magang, dia setiap hari boleh pulang jam berapa?
Akhirnya, dia mendapat jawaban bahwa dia boleh pulang pukul 17.00 WIB. Walau seringnya baru keluar hampir pukul setengah 6.

Yang mengelola tempat magang tentu saja semakin menilai minus ini anak. Bawa motor ga bisa, ikut-ikutan main hp kayak karyawan senior, giliran jam pulang harus 8 jam aja di kantor.

  • Beda Tempat Magang, Beda Aturan

Di perusahaan yang manajemennya sudah tertata, surat pengantar ini diserahkan pada pihak HRD. Penempatannya, mereka yang mengkoordinasikan dengan bagian yang bisa dititipkan anak SMK yang PKL.

Berdasarkan pengalaman dulu waktu kerja, dan melihat penempatan siswa SMK (dulu STM) yang sedang PKL di manufacturing, biasanya siswa SMK ditempatkan pada bagian yang bisa di training singkat, sehari hingga tiga hari.

Di tempatkan di bagian yang tidak akan mempengaruhi kualitas produksi, seperti bagian awal (penyiapan material produksi) atau pada bagian akhir (finishing, pengepakan, pengiriman dan penyimpanan di gudang).

Siswa-siswa SMK yang sedang PKL menjadi tanggung jawab karyawan senior di bagian yang ditunjuk.

Siswa SMK yang sedang PKL juga dijelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama jam kerja. Tidak boleh dilanggar. Semua barang-barang pribadi di simpan di tempat yang sudah disediakan.

Boleh dibilang kalau PKL level SMK ini ada mentor yang membimbing dan mendampingi.

Beda urusannya dengan pemagangan anak kuliah. Mereka setelah diperkenalkan tempat usaha secara umum, dipersilahkan mencari data yang mereka perlukan untuk penulisan laporan, dan juga input perbaikan untuk bagian dia magang. Kalau kurang-kurang informasi, tinggal bertanya pada PIC. Anak kuliah saat magang harus aktif bertanya dan mencari informasi.

Siswa SMK atau anak kuliah yang magang di perusahaan yang terbiasa menerima anak magang, biasanya juga menyediakan budget untuk anak PKL selain makan siang, uang transport, dan ada juga sedikit uang terima kasih.

Masalahnya, kalau anak SMK magang di tempat usaha kecil yang hanya memiliki 3 karyawan, tidak ada struktur organisasi, tidak ada visi misi perusahaan, anak SMK yang sedang magang itu diharapkan mempunyai kecakapan yang cepat dalam mengimbangi karyawan yang sudah ada.

Sehingga keberadaan anak magang di tempat usaha, diharapkan seperti mendapat tambahan satu tenaga karyawan baru.

Ini sangat bisa terjadi, jika pihak tempat magang ringan mulut untuk memberikan instruksi dan contoh. Bukan hanya sekedar mengharapkan kesadaran anak-anak magang yang belum punya pengalaman dengan dunia kerja. Anak sekarang kalau ga disuruh, mereka ragu membantu karena ga mau dicap sebagai anak sok iye.

  • Beda Persepsi

Saya sebagai emak, tentu paham pembawaan anak remajanya. Dulu waktu kecil memang suka ‘ngerocokin guru’. Setelah remaja, sifat ‘rame’ hanya ditunjukkan pada mereka yang sudah benar-benar dekat.

Badan tinggi besar, wajah kurang ekspresif, terkesan tidak menyimak padahal kupingnya mendengar dan merekam semuanya, tapi hanya bereaksi pada hal yang disukai. Kalau keberadaanya diabaikan, dia akan memilih diam saja.

Orang yang sepintas melihat akan mengatakan, nak bujang, ‘anak manja’.

Setelah tempat magang mengembalikan penilaian pada pihak sekolah, saya pun dipanggil ke sekolah pada Rabu, 17 Februari lalu.

Kronologisnya:

Selasa, 16 Februari, kepala saya pusing kalau dibawa duduk. Penyebnya karena kurang istirahat dan kebanyakan melototin layar ponsel. Hari itu saya tidur seharian, hanya bangun untuk makan dan sholat.

Tapi, pagi haris saya masih sempat mengingatkan anaknya untuk me-WA bapak tempat magang, menanyakan jurnal penilaiannya. Karena sudah seminggu berlalu dari hari terakhir PKL.

Anaknya mendapat jawaban, penilaiannya sudah pada guru sekolah yang mengkoordinir siswa-siswa PKL.

Sore hari, nak bujang nerima WA dari wali kelas, diminta datang esok hari ke sekolah bersama orangtua untuk menemui bu guru koordinator PKL.

Karena emaknya seharian tidur, anaknya membalas WA walasnya bahwa orangtuanya sedang kurang enak badan.

Masa pandemi seperti sekarang, walas ga berani ambil risiko,” yo udah kalau udah sehat aja.”

Ketika saya diberitahu sama nak bujang tentang harus ke sekolah tersebut, saya bilang bisa, karena saya bukan demam, tapi pusing karena kurang tidur.

Saya mengatakan pada nak bujang, “feeling Mama, kamu ga lulus PKL dan harus ngulang. Mama udah banyak ngasih wejangan kamu, turunin ego sedikit, tunjukkan sikap ingin tahu gitu.”

Nak bujang membela diri, “sikap aku biasa aja kok.”

Saat pertemuan dengan guru koordinator PKL yang juga didampingi walas di sekolah, saya ditanya nak bujang anak ke berapa.

Saya jelaskan, menunjukkan persaingan pada sesuatu yang kurang disukai memang kelemahan anaknya. Karena di rumah tidak ada saudara-saudara yang ngerecokin, yang ada hanya dia, jadi dalam hal berebut menunjukkan ‘ini lho saya’ di keramaian, nak bujang masih perlu belajar banyak.

Bu Guru mengatakan bahwa dia belajar ilmu psikologi, dan dapat membaca dari gestur dan sikap yang ditunjukkan, anaknya kurang mandiri, sangat bergantung pada orangtua.

Kalau tahu latar belakang nak bujang seperti itu, dia dapat memahami komplain banyak dari tempat PKL. Semua efek asuhan dari rumah:

Duh, emak dianggap gagal memandirikan anaknya. Sementara anaknya di rumah selalu bilang, emaknya lumayan ‘kejam’.

Tempat PKL komplaian, anak remaja masa ke tempat PKL masih diantar jemput oleh orangtua juga. Harusnya orangtua melepaskan anaknya biar mandiri.

Dikira bu guru, anaknya ga berani naik motor sendiri. Padahal anaknya malas jalan sendiri. *Bu Guru gak tahu aja kalau saya disodorkan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak oleh anaknya*.

Tempat PKL bilang, anaknya sering main HP. Anaknya membela diri bahwa dia melakukannya setelah kerjaannya selesai. Nak bujang dikasih wejangan harus menyesuaikan diri kalau berada di tempat orang lain.

Tempat PKL merasa mengalami kerugian, karena nak bujang pernah salah memotong hasil print foto.
Ini memang kesalahan nak bujang. Dia merasa memotong foto itu pekerjaan yang mudah dilakukan, dan ga bertanya. Ternyata ada aturannya. Orang di tempat magang juga tak memberi contoh. Kejadian deh.

Dan banyak komplain lain sesuai perkiraan saya, nak bujang kurang aktif, diam aja, terkesan malas.

Ketika saya katakan, “kemarin di rumah, saat tahu pak A menyerahkan penilaian pada pihak sekolah langsung, dan ortu dipanggil ke sekolah, saya sudah bilang pada anaknya bahwa dia kemungkinan tidak lulus PKL.”

Walas dan bu guru koordinator barengan merespon, “bukan tidak lulus, bu.”

Bu guru koordinator menambahkan, “Kami dari pihak sekolah ada tugas tambahan untuk anaknya, yaitu membantu walas mempersiapkan peralatan untuk ruang praktik animasi dalam beberapa minggu ke depan. Kalau diijinkan.”

Tentu saja saya mengijinkan.
Anaknya juga mengiyakan dengan senang hati, karena kerjaannya bakal berurusan dengan komputer.

Setelah mulai membantu pak wali kelas mempersiapkan setting peralatan di ruang praktik, nak bujang laporan di rumah, “ruang praktik sekolahku komputernya sekarang baru dan bagus, Mom. Pentab-nya juga. Software yang digunakan orisinil semua. Coba di rumah juga punya satu komputer seperti yang di sekolah.”

“Ndak ado pitih! Kamu harusnya memanfaatkan fasilitas sekolah yang sudah bagus itu. Bukannya mikir beli untuk di rumah. Lain kalau udah kerja.”

Anaknya nyengir.

Tips Sukses PKL untuk Siswa-Siswi SMK di Tempat Usaha Kecil

Berkaca dari pengalaman nak bujang, adek-adek SMK yang belum PKL dan akan segera magang, jangan mengulang kekeliruan yang sama ya.

Padahal, wejangan atau petuah atau nasehat yang disampaikan guru koordinator di sekolah, sama persis yang saya sampaikan sebagai emak.

Saya bukan emak-emak yang memanjakan anak. Anaknya bilang saya termasuk ‘Emak-emak berisik’.
Tapi orang luar membacanya, anaknya terlalu dimanja.

Agar adek-adek tidak mengalami salah penilaian dari tempat PKL seperti itu, apalagi magang di tempat usaha skala kecil, kan sayang waktu yang terbuang nantinya. Berikut tips agar sukses melewati masa magang:

  1. Cari Info Tempat PKL

Mengetahui bidang usaha tempat PKL sangat penting. Tujuannya agar kamu bisa mempersiapkan diri jika di tempatkan pada bagian yang kurang sesuai.

Jangan seperti anak saya yang shock di hari pertama PKL karena ga menyangka kegiatan di tempat magang sangat jauh dari kegiatan praktik jurusan di sekolah.

  1. Bertanya

Di tempat magang, walau kamu sudah mengetahui cara melakukannya di luar, kamu tetap harus bertanya.Tujuannya, untuk memastikan bahwa prosedur yang kamu tahu, sama dengan prosedur yang harus dilakukan di tempat magang.

Jangan anggap sepele pekerjaan apapun. Tanya dengan jelas.

Apalagi jika kamu belum mengetahui cara melakukannya. Jangan cepat iya, dan bisa aja, setelah itu googling cara melakukannya. Jangan!

Tanyakan pada karyawan atau senior yang menyuruh. Dapatkan jawaban dari semua pertanyaan tak biasa yang muncul di kepalamu sebagai anak kelas XI yang belum punya pengalaman kerja.

  1. Menjauh dari Gadget yang tidak diperlukan

Selama di tempat magang, karena di tempat usaha kecil aturan yang ditetapkan tidak terlalu ketat dan tegas, kamu harus menahan diri untuk tidak menggunakan gadget yang tidak diperlukan selama jam kerja.

Sekalipun kamu melihat karyawan di tempat situ juga main HP selama jam kerja, jangan ikut-ikutan melakukan hal tersebut.

Terkesan tidak adil. Tapi memang begitulah adanya aturan dunia kerja untuk anak baru. Apalagi anak magang. Kalian harus ikuti dan bersabar untuk beberpa waktu ya.

  1. Ringan Tangan

Ringan tangan dalam makna positif ya. Suka membantu karyawan yang ada di tempat magang. Bukan yang ngerecokin, tapi pintar-pintar membaca situasi, kapana harus menolong tanpa menunggu kata dimintain tolong.

Ini bagian belajar bersoasial di tempat kerja. Walau sebenarnya kamu kurang menyukai kepribadian teman kerja, tapi kamu harus tetap menunjukkan sikap baik.

Bukan meminta kamu bersikap munafik, menipu diri sendiri dengan pura-pura baik. Kamu membantu tetap dalam batasan wajar. Kamu sebagai anak zaman now harus tetap fleksibel dalam bersikap.

Selamat menjalankan magang atau PKL anak-anak, adek-adek. Ingat, bahwa dalam kondisi saat sekarang, tidak semua siswa dan siswi mendapatkan kesempatan magang di luar sekolah. Hanya mereka yang dianggap ‘punya skill‘ lebih yang bakal direkomdesikan sekolah.

Maksimalkan waktu dan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Mungkin, kalian tidak semuanya bisa mendapatkan kesempatan kedua seperti nak bujang. Belajar dengan baik dari pengalaman ini ya.

Salam sukses dari admin YSalma – Jejak nasihat #parenting .

5 comments

    • Iya nih Feb, maemak ngebahas PKL.
      Sepengatahuan sy PKL anak SMK emang dituntun banget, malah terkesan ditutupi ‘kejam’nya dunia kerja, oleh yg senior2, disuruh semangat utk nyelesaiin sekolah.

      Suka

  1. PKL kebanyakan memang jauh dari pelajaran yang diterima di sekolah, bukan tidak ada tapi jarang. Dulu saya PKL di bengkel sekolah, jadi lebih mudah menyesuaikan, krn pembimbing adalah guru sendiri. Saat di dunia kerja beberapa kali saya menerima anak PKL dan ya mereka jelas tidak pada tempatnya, dan karena saya menyadarinya, dari awal sudah kasih wejangan, aktif bertanya, anggap sebagai wawasan tambahan selain pelajaran dari sekolah

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya. Seperti kalau yang jurusan otomotif, mereka mikirnya belajar ngerakit atau memperbaiki. Ga taunya, pas PKl ditempatkan di bagian bantu2 tim penjualan. Memang harus diarahkan.

      Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.