Anak Belajar Bermasyarakat di Era Digital. ‘Keriuhan’ Dibelakang Kegiatan Service Learning Kelas 9


Alam Desa Hijau Tempat Kegiatan Service Learning
Pemandangan alam desa Cibadak.

Service Learning merupakan model pembelajaran lapangan, dengan menginterprestasikan langsung pelajaran secara teori dan pelayanan kepada masyarakat. Tujuannya agar peserta memahami kehidupan bermasyarakat dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi selama menjalaninya.

Dulu, kegiatan ini dilakukan pada level mahasiswa. Akan tetapi, di era digital sekarang ini, kegiatan ini sudah mulai diperkenalkan pada anak-anak sekolah dari tingkat SD.

Dan anak-anak itu menyambut kegiatan ini dengan penuh suka cita.

Nak bujang kembali ikut kegiatan ini pada Selasa, 26 Februari hingga Kamis, 28 Februari 2019 lalu. Bertempat di Desa Cibadak, Kampung Sukasabar, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatannya berjalan lancar, akan tetapi banyak cerita ‘keriuhan’ dibelakangnya.

Tujuan Kegiatan

Ternyata, service learning kali ini tidak hanya ditujukan untuk siswa. Tetapi juga untuk masayarakat setempat, bahwa pendidikan saat ini sangat penting bagi generasi muda.

Dengan menjadi bagian kegiatan ini, diharapkan orangtua di sana lebih bersemangat men-support anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Tujuan pada peserta didik :

  • Diharapkan selalu tumbuh rasa syukur untuk semua kesempatan yang sudah dimiliki saat ini.
  • Meningkatkan sikap tanggungjawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Serta, tidak kagok bersosial di tengah masyarakat.

Kegiatan Service Learning, Seseruan di Alam Pedesaan Bersama Teman Sekolah & Guru.

Ini merupakan kegiatan service learning kedua yang diikuti nak bujang. Sebelumnya, ketika kelas 6 SD pada yayasan sekolah yang sama, dia juga mengikuti kegiatan ini.

Walaupun setelah kegiatan waktu itu, dia sempat merasakan kakinya bernanah karena digigit binatang air. Dia tetap memilih menuliskan pada buku tahunan siswa bahwa kegiatan service learning waktu itu merupakan catatan kenangan yang paling berkesan selama bersekolah di SD tersebut.

Akhir Februari kemarin, setelah duduk di kelas 9, ia kembali mengikuti kegiatan service learning. Kegiatan kali ini sama dengan kegiatan waktu SD kala itu, sebagai pengganti kegiatan study tour.

Karena sekarang sudah remaja, ketergantungan nak bujang akan internet mulai agak besar. Dia sempat mengajukan ‘penawaran’ pada emaknya agar dimintain ijin untuk tidak mengikuti kegiatan ini.

Manalah mungkin emaknya bakal mengijinkan, “yakin ga mau ikutan? Kegiatannya pasti ga kalah seru dengan service learning waktu SD dulu. Apa ga sayang tidak menjadi bagian dari alam desa yang adem, dan sungai dengan aliran air yang bening?”.

Main ke Sungai di desa Tempat Service Learning_YSalma
Insta story dengan tambahan kalimat “mantap” ❤ .

Nak bujang nyengir, “ia sih. Tapi kali ini kita dibagi perkelompok. Satu kelompok 2 orang. Dan tinggal di satu rumah penduduk. Ntar kalau toilet rumah penduduknya gimana-gimana, aku ga bisa BAB dong”.

Duh! Nak bujang, alasannya itu, “itu namanya belajar menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Pup-nya ga usah ditahan-tahan, ikut aja kebiasaan orang di kampung itu. Sekarang ini, sepertinya setiap rumah penduduk sudah punya toilet. Ga mungkin kalian MCK-nya bakal ngandelin sungai. Ga usah kuatir. Guru-guru pastinya sudah mempertimbangkan pilihan desa yang akan kalian kunjungi”.

Anaknya mengiyakan juga setelah diberi argumen tersebut, “iya juga sih. Tapi, kali ini, berangkatnya naik truk, lho Mam”.

“Wah! Itu pengalaman seru tuh. Kapan lagi kalian-kalian punya kesempatan seperti itu. Etapi, bukannya waktu kegiatan berkemah kelas 7 dulu, berangkatnya juga menggunakan truk? Dan waktu SD dulu, kalau ada kegiatan renang, kalian juga naik truk”

“Iya. Tapi itu lokasinya dekat dari sekolah. Ini kan desa yang dituju agak lumayan jaraknya. Pegel berdirinya”.

“Kalau rame-rame ga bakalan berasa pegal deh. Percaya deh sama Mama, kegiatan ini akan menjadi salah satu pengalaman terbaik masa sekolahmu”.

Nak bujang mengangguk.

Saya mengingatkan anaknya agar baik-baik dengan orang rumah yang ditempati. Menjaga sikap selama berada di desa orang. Ikuti arahan guru-guru, bekerjasama dengan baik. Selagi tinggal di rumah penduduk, itu mah masih enak. Hanya perlu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Harusnya kalian tinggalnya di tenda dan masak sendiri. Tapi, kasihan guru-gurunya, pasti akan kewalahan.

Nak bujang manggut-manggut.
Dia antusias menunggu hari H.

Jauh hari sebelum kegiatan, pihak sekolah meminta partisipasi dari para orangtua murid untuk memberi sumbangan pakaian bekas layak pakai, sembako, dan uang tunai. Nanti semuanya akan diserahkan pada kegiatan sosial di lokasi desa tempat diadakan kegiatan service learning.

Februari Padat Kegiatan. Hasil Kurang Sesuai, Akhirnya Kelelahan Fisik!

Oiya, pada awal Februari, saya juga mendapat pemberitahuan dari tempat nak bujang mengaji. Dia dan 40 anak lain harus ikutan ujian tahfidz skala nasional di Cikarang.

Kegiatan akan diadakan pada tanggal 17 Februari 2019. Dan rencana acara wisadanya pada tanggal 24 Februari di Istiqlal *dia sudah pernah menyaksikan acara ini beberapa tahun lalu*.

Nak bujang termasuk yang paling terakhir menyelesaikan hafalan juz 30-nya dibandingkan dengan anak-anak lain, yaitu pada saat pesantren kilat liburan sekolah akhir Desember 2018 lalu. Sebelumnya dia sempat berhenti lumayan lama.

Awalnya, dia agak keberatan ikutan ujian. Karena tahu konsekuensinya, harus meluangkan waktu untuk mengulang hafalan. Dia merasa keteteran duluan.

Lebih tepatnya, merasa waktu bermainnya akan berkurang banyak :mrgreen:

Ikut Ujian Tahfidz Sebelum Kegiatan Service Learning
Ujian tahfidz dengan sedikit ‘drama’.

Setelah saya beri penjelasan, jika ustadz dan ustadzah menyuruhnya ikutan, itu artinya guru yang sehari-hari mendengar hafalannya sudah merekomendasikan dia layak untuk ikut ujian.

Karena aturan untuk kelulusan lumayan ketat, dia semakin merasa kewalahan duluan. Saya tegaskan bahwa dia ikutan agar tahu ujian tahfidz skala nasional itu seperti apa. Lulus urusan nomer sekian.

Nak bujang pun akhirnya setuju ikutan ujian, walau dengan agak sedikit ogah-ogahan, persiapannya gak serius.

Dia pun seperti memaksimalkan waktu selama di rumah, sebelum menjalani deretan jadwal kegiatan itu, tentunya dengan mantengin internet 😳 .

Tanggal 12 Februari, dari pagi hingga sore, nak bujang juga ada kegiatan sekolah, field trip ke Badan Pengambangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud dan Monumen Pancasila Sakti Jakarta.

Tal 17 Februari pagi, berangkat ke lokasi ujian tahfidz. Ujian kali ini ternyata diikuti sekitar 600-an lebih santri. Nak bujang jadi ikutan terpacu semangatnya. Ia mulai serius mengulang hafalannya 😳 . *udah mau ujian, le*.

Menurut ustadzah pada orangtua yang ikut mengantar, ujian kali ini untuk penyemangat anak. Agar ke depannya lebih giat lagi menghafalkan Al-Qur’an.

Semua peserta yang ikut ujian sudah hasil rekomendasi guru tahfidz masing-masing. Hanya range nilainya nanti ada yang A – C. Tidak boleh D, apalagi “tidak lulus”. Saya lega mendengarnya.

Sepertinya, memang sudah pembelajaran untuk nak bujang, dia menerima langsung lembar penilaian yang harusnya ‘rahasia’ itu dari penguji. Dia diminta menyerahkan pada guru tahfidz-nya. Tentu saja dia melihat kata “tidak lulus” dengan nilai C, tertera pada lembaran itu.

Reaksi nak bujang melaporkan ke saya, biasa aja. Karena memang dia merasa kurang memenuhi target syarat kelulusan yang sudah dia baca sebelumnya. Lupanya melewati ambang batas kekeliruan yang diijinkan.

Dia malah senang, karena bisa ngelesh ga ikutan ke acara wisuda minggu depannya.

Entah kapan mulainya, saat di rumah saya mulai mendengar suara batuk, satu dua kali dari mulut nak bujang.

Ketika ditanya, dia bilang gak apa-apa, mungkin hanya batuk karena keselek makanan.

Nak bujang baru merasa ‘dirugikan’ setelah mengetahui dari ustadznya bahwa standar penilaian sudah direvisi.Penilai nak bujang tidak ikutan briefing pagi sebelum ujian. Semua anak dinyatakan lulus murni, dan bersyarat *mengulang hafalan kembali dengan guru masing-masing*.

Ada beberapa anak lain dari rumah tahfidz yang sama, kekeliruannya malah ada yang lebih banyak dibandingkan nak bujang, dan lulus. Belum lagi dari rumah tahfidz lainnya.

Nak bujang juga sedang mengikuti try out UN di sekolah.

Dia bilang pada emaknya, “udahlah. Biar aku ga lulus ujian tahfidznya. Ga usah direvisi dulu ya, Mam”.

Emak setuju.
Sekaligus mengingatkan dia, hal itu dijadikan pelajaran di masa depan. Dia harus fokus pada apa yang dihadapi. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada.Usahakan semuanya dengan kemampuan maksimal. Perbaiki niat, jangan ogah-ogahan. Baru setelahnya pasrah. Yang mengalami rugi waktu, dia sendiri nantinya.

Nak bujang mengangguk-angguk.

Sabtu, 23 Februari 2019, sebenarnya dia mengajak main ke curug. Dia ingin bermain air di air terjun. Mungkin dia sudah merasa jenuh sendiri, butuh refreshing. Karena sudah siang, akhirnya baru bisa main ke curug pada hari Minggu, tanggal 24 Februari.

Awalnya, tujuannya curug Cigentis Purwakarta, hanya saja karena ada salah informasi dari penduduk setempat, yang membuat saya patah semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Berenang di Green Canyon Karawang Sebelum Ikut Service Learning
Masih sempat menelusuri green canyon mini di desa Loji Karawang.

Akhirnya, saya dan nak bujang memilih berenang menyusuri Green Canyon Mini Karawang yang debit airnya lagi banyak-banyaknya, dan pengunjungnya juga sangat ramai.

Tiga setengah jaman lebih kami bermain air, dan ada ingus yang keluar dari hidung nak bujang 😳 . Saya yang melihat itu, mengatakan itu tanda tubuhnya sebenarnya sedang pilek, tapi gak dirasa.

Nak bujang tetap keukeuh mengatakan tubuhnya tidak mengalami kelelahan, baik-baik saja.

Anak Sekolah Berkegiatan Naik Truk? Hayuks Aja! ❤ .

Minggu malam, tanggal 24 Februari, nak bujang nanya-nanya kisaran harga cangkir teh milik emaknya. Saya heran, “buat apa? Kamu mau ngasih kado? Atau mau diberi kado oleh seseorang?” 😆 .

Nak bujang memberi tahu saya bahwa pada hari terakhir kegiatan service learning nanti, dia dan teman satu rumahnya harus menyerahkan benda kenang-kenangan pada tuan rumah.

“Duh, nak. Waktu buat nyari kadonya tersisa besok. Pastiin dulu sama temannya, mau pada patungan berapa untuk kadonya”.

Senin pagi, 25 Februari, sebelum berangkat sekolah, nak bujang memberi kepastian nominal untuk kado dari temannya.

Agak siang sedikit, saya pun beranjak untuk mencari kado yang sekiranya pantas. Pulang sekolah nak bujang senang melihat kado hasil pilihan emaknya. Alhmandulillah.

Dia menyerahkan daftar bawaan untuk kegiatan besok pada emaknya, sembari duduk di depan meja komputer.

Emaklah yang akhirnya packing barang bawaan anaknya, sekalian memberitahu ditarohnya dalam tas bagian mana. Anaknya menoleh dan bilang, “iya, ma”.

Pada lembar pemberitahuan dari sekolah, anak-anak diijinkan membawa ponsel, tapi dengan catatan.

Nak bujang meminta ijin untuk membawa hp, dengan alasan untuk dokumentasi dan chit chat sama emak.

Kita orangtua sudah tahu bahwa desa tempat kegiatan itu susah sinyal :mrgreen:

Saya mengingatkan nak bujang untuk bijak meng-share foto ke medsos. Rekam jejak digital itu akan terus ada selamanya.

Kegiatan Service Learning Berjalan Sukses

Selasa pagi, 26 Februari, dengan menggunakan seragam pramuka, nak bujang berangkat ke sekolah. Hidungnya mulai terlihat agak meler. Saya menawarkan dia membawa obat untuk berjaga-jaga. Dia menolak, “aku gak apa, Ma. Sehat”.

Sekitar pukul 8 WIB, nak bujang dan rombongan anak-anak kelas 9 lainnya berangkat menuju desa service learning, dengan menaiki truk.

Sorenya dia menyapa emak melalui WA, “ma”.
Saya menanyakan kondisi desanya.
Beberapa jam kemudian baru dijawab, “bagus”, bersama kiriman sebuah foto pemandangan sawah hijau dengan latar pengunungan. Terlihat sejuk.

Dia juga sempat membuat story instagram saat main di kali bersama teman-temannya.

Kamis, 28 Februari, nak bujang pulang dengan wajah penuh semangat. Kegiatan service learning-nya seru. Tapi, selama kegiatan dia memang tidak BAB :mrgreen: *bisa gitu?*

Saya tanya apakah dia dan temannya ikut membantu kegiatan yang punya rumah, dia bilang yang punya rumah kegiatannya ga ke sawah, adanya warung. Kita sungkan buat bantuin :mrgreen: .

Nak bujang mulai menyusun rencana untuk hari Sabtu tanggal 2 Maret, secara itu hari ultahnya. Dia mau ngajak main ke mall, ingin melihat-lihat VGA monitor.

Kurang Istirahat, Badan Akhirnya Tepar Juga.

Tanggal 28 Februari, pulang kegiatan service earning, setelah mandi, junior menatap layar monitor yang sudah tiga hari tidak dilihat.

Saya memintanya untuk istirahat dulu. Dia beralasan sudah istirahat selama perjalanan pulang. Lagian, acara service learning-nya seru, gak bikin capek.

Persiapan Berangkat Naik Truk

Jum’at tanggal 1 Maret, setelah Jum’atan, nak bujang minta dibuatin masakan kesukaannya. Ada bahan di dapur yang kurang. Saya minta tolong dia untuk mencarikannya ke warung tempat biasa belanja dengan menyerahkan catatannya.

Hari memang masih sering hujan di tempat tinggal kami. Begitu agak reda, nak bujang jalan, mencarikan pesanan emaknya. Ga berapa lama, hujan turun kembali dengan deras, dan lama.

Karena sudah lumayan lama menunggu, sepertinya nak bujang memilih jalan menerobos hujan. Badan bagian atasnya sih ngaku ga basah karena tertutup jaket. Tapi bagian paha hingga kakinya basah.

Saya memintanya untuk mengguyur keseluruhan tubuhnya. Akan tetapi nak bujang hanya memilih mengganti pakaiannya aja. Kemudian kembali meneruskan permainan game-nya.

Selesai mamaknya memasak, nak bujang makan dengan lahap.

Saya melihat mata nak bujang terlihat mengantuk, memintanya untuk tidur sebentar.

Dia kembali menolak dengan alasan, “ntar aja. Tanggung. Ntar malam tidurnya cepat aja”.

Sabtu, tanggal 2 Maret, bangun dengan rutinitas seperti biasa. Malah sempat jalan pagi sebentar. Saya malah sempat menggodanya, wah tambah usia, harusnya lebih bertanggungjawab lagi. Dia hanya senyum.

Setelah mandi dan sarapan, ternyata nak bujang memilih tidur.

Emaknya yang melihat itu mulai curiga.
Benar saja, saat badannya diraba, terasa hangat, “wah ini anak akhirnya tepar juga. Daya tahan tubuhnya melemah juga”.

Saya bangunkan dia, memberi minum, dan obat yang biasa dia minum kalau lagi dalam kondisi seperti itu. Kemudian mempersilahkannya melanjutkan tidur.

Bangun-bangun, suara nak bujang mulai bindeng dan batuk-batuk. Suhu badannya semakin menghangat. Saya memberikan minum hangat dan madu.

Nak bujang masih belum mengeluh, karena biasanya, jika ditangani dengan baik, esok pagi suhu badannya akan kembali normal. Paling lama tiga hari sudah tinggal penyembuhan demam.

Hingga Senin pagi, 4 Maret, batuknya semakin parah. Otomatis tidur susah. Hidung semakin sulit bernafas, tapi ga ada ingusnya.

Saya memberitahukan pada anaknya bahwa dia tidak hanya batuk, tapi pileknya sedang berproses. Sepertinya kali ini waktu untuk suhu badannya turun memerlukan waktu yang lebih lama.

Nak bujang setelah sarapan, muntah. Dia agak senang, karena biasanya, panas badan juga akan turun setelah dia muntah. Tapi ga ada perubahan. Dia minta dibawa berobat.

Ternyata, antrian di tempat berobat lumayan panjang. Selesai-selesai sekitar setengah dua belas.
Nyampe rumah.

“Lho, kok ga ada obat batuknya?!”

Tentu saja hasil minum obat ga ada perubahan. Badan hangat, batuk, muntah, sering pup, dan hidung mampet.

Selasa, 5 Maret 2019, dibawa lagi berobat ke dokter di tempat lain. Diberi resep yang hampir sama, dengan tambahan obat batuk. Saya menebus obat batuknya saja.

Hari ini, 8 Maret, setelah sekitar 6 hari deman, nak bujang sudah kembali bisa sekolah. Masih batuk-batuk dan ingusan, tapi suhu badannya sudah kembali normal. Mandinya tetap dengan air hangat.

Semenjak mengalami demam terlama ini. Nak bujang merasa menyesal hanya mendengarkan tujuan dan mengikuti kegiatan positif. Tapi agak lupa mempraktekkannya. Akhirnya, semua rencana yang dia susun setelah kegiatan service learning batal semua.

‘Keriuhan’ sebelum dan sesudah kegiatan service learning dan jadwal Februari yang lumayan menguras pikiran. Nak bujang berjanji pada dirinya sendiri, harus bisa mengatur waktu berkegiatan, bermain, olahraga, dan istirahat.

Sekarang gantian, emak yang berasa badannya mulai hangat, hidungnya mulai berasa mampet 😥 .

“Istirahat, mak. Kok malah nulis?”

“Mencatatkan di blog, termasuk salah satu terapi jiwa 😳 . Setelah itu, baru badannya diajak istirahat ❤ “.

Pesan Moral :

Anak-anak digital sekarang, dalam pikirannya sudah terbiasa dengan perubahan yang begitu cepat. Agak kurang sabar dengan segala sesuatu yang dikiranya lambat.

Kegiatan service learning ini salah satu untuk membuat keseimbangan dalam pikiran anak digital. Terkadang, hidup itu harus dilakukan dengan berjalan lambat, mengikuti kebiasaan lingkungan sekitar. Ketika itu dilakukan dengan sepenuh hati, banyak hal-hal yang terlihat remeh, ternyata justru bisa memunculkan tawa bahagia.

Walau pun anak sudah mulai remaja abege. Orangtua tetap wajib mengambil tindakan tegas, jika sudah melihat kondisi fisik anaknya memerlukan istirahat. Jauhkan sebentar dari gadget dan internet. Mencegah lebih baik daripada mengobati sakit.

Jika seorang anak sakit, maka seorang ibulah yang dipastikan ikutan begadang berhari-hari mendampingi si anak 😉 .

***
Tulisan ini ditulis kemarin, ternyata tubuh saya sudah lumayan hangat, ga sanggup untuk memposting, minta tidur dan doping segelas air jeruk nipis hangat. Pagi ini Alhamdulillah sudah lumayan 🙂 .

Iklan

2 comments

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.