Mengisi Liburan Anak Sekolah, Ikut Kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat)


Beberapa hari setelah UTS dan kegiatan classmeeting, sebelum pembagian rapor, nak bujang sudah libur. Kebetulan sekali, untuk mengisi liburan sekolah anak-anak itu, rumah tahfidz tempat dia mengaji akan mengadakan kegiatan pesantren kilat (sanlat).

Kegiatan sanlat diadakan dari tanggal 15 Desember ba’da ashar, hingga 22 Desember  2018 sore.

Santri yang boleh mengikuti kegiatan sanlat adalah yang memenuhi syarat, yaitu sudah hafal minimal jus 30 atau masih kurang satu dua surat lagi.

Mengisi Liburan Sekolah dengan Sanlat_YSalma

Saya yang membaca pemberitahuan tersebut di grup wali santri, paham bahwa anaknya baru ikutan aktif lagi di kegiatan rumah tahfidz, setelah ia sempat kewalahan menyesuaikan waktu, sekaligus karena banyaknya peminat yang ikut ngantri setoran hafalan. Ketambahan dia menghafalnya juga masih sangat kurang fokus, serta ga bisa dipaksakan. Kalau dipaksa bukannya makin banyak yang hafal, tapi malah gak ada yang nyangkut di kepalanya .

Belum lagi, saya selalu mengingatkan dia, “bukan seberapa banyak yang sudah kamu hafal, tapi seberapa surat yang bisa kamu praktikkan dalam bersikap. Seperti, shalat sudah atas kesadaran sendiri.”

Karena kegiatannya lumayan lama, serta mengetahui kondisi anaknya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu, tanpa berharap banyak saya iseng bertanya sama nak bujang, “kamu sudah termasuk murid yang akan ikut sanlat kah?”

Nak bujang dengan pedenya nyahut, “belum. Aku memang kurang satu surat lagi. Tapi, hafalan sebelum-sebelumnya banyak yang lupa lagi. Jadi gak bakalan diikutkan.”

Emak hanya bisa geleng-geleng kepala sembari sedikit merepet, “coba yang disetel itu surat hafalannya biar ga lupa.”

Sementara saya sebagai emak, kondisinya sudah mulai pelupa untuk saat ini, memory kepala daya serapnya gak begitu cepat lagi. Dulu saat seusia anaknya, emak justru masih sibuk bermain. Makanya sekarang hanya bisa berharap dan mengingatkan anaknya agar lebih memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Ketika daftar nama murid yang bisa ikut sanlat diumumkan, ternyata nama nak bujang juga tercantum.

Sebelum konfirmasi ke ustad dan ustadzah tentang keikutsertaan, saya memberitahu anaknya bahwa nama dia termasuk yang akan ikut sanlat.

Peserta sanlat lebih banyak yang putri, anak cowok yang didaftar hanya ada 10 orang. Itu pun 2 orang nyusul belakangan. Total yang ikut ada sekitar 38 anak.

Peserta cowok akan ditempatkan di masjid. Sedangkan peserta sanlat cewek ditempatkan di rumah tahfidz.

Nak bujang yang membayangkan satu mingguan ikut kegiatan terjadwal, bukan kegiatan main-main, atau liburan, ia mulai merayu emaknya agar dia tidak usah ikutan. Yang alasannya bahwa temannya pasti banyakan anak kecil, yang waktu liburnya ga bisa leyeh-leyeh santai lah.

“Anak kecil aja semangat ikutan, masa anak bujang banyak alasan? Mana sebelum waktu libur aja sudah libur seminggu. Setelahnya juga masih ada waktu libur semingguan lagi,” emak juga keukeuh.

Karena lokasinya di masjid dekat rumah, tentu saja saya berusaha agar tidak tergoda oleh wajah memelas anaknya. Apalagi pada waktu terakhir ini mata dan kepala nak bujang suka pusing karena kebanyakan menatap layar monitor.

Saya menyemangati anaknya agar mau mengikuti kegiatan pesantren kilat tersebut.

Sanlat, Persiapkan Mental Anak

Ikut pesantren kilat sangat baik untuk mengajarkan kemandirian pada anak yang tidak pernah belajardi pondok. Tapi, mempersiapkan mental anak sebelum mengikutinya merupakan sebuah keharusan. Berikut hal minimal yang harus dipersiapkan orangtua:

> Berpisah dengan rutinitas harian di rumah, itu berat

Kalau anak saya dia paham kalau meninggalkan rumah pada liburan sekolah kali ini bukan untuk berlibur, melainkan ikut kegiatan salat. Dia sudah membayangkan kalau akan merasa bosan duluan.

Saya sebagai orangtua mengingatkan dia bahwa ada teman-teman sepantaran yang juga ikutan, pasti seru. Bahkan, mungkin ustad akan sedikit kewalahan dalam mengingatkan dia dan teman-temannya untuk serius. Belum lagi lokasinya dekat dari rumah.

Nak bujang akhirnya mengangguk setuju untuk ikut.

Suasana Sanlat Libur Sekolah_YSalma
Walau wajah kuyu, dan terlihat kurang semangat, mereka ternyata pada menambah hafalan.

> Membawa perlengkapan tidur yang membuat nyaman

Awalnya, nak bujang merasa kurang dengan balmut dan guling kesayangannya untuk perlengkapan tidur. Dia maunya dibelikan sleeping bag. Saya ingatkan bahwa dia tidur bukan camping di alam terbuka, tapi di salah satu ruangan masjid. Ga bakal kepakai sleeping bag-nya.

Akhirnya dia sepakat membeli benda lain yang lebih diperlukan.

> Tidur untuk menghilangkan kantuk & mengistirahatkan tubuh

Saya juga mengingatkan anaknya bahwa pada waktu kegiatan sanlat nanti, dipikirannya harus diingatkan bahwa waktu tidur nanti itu untuk menghilangkan rasa kantuk dan mengistirahatkan tubuh. Dengan mengingatkan diri seperti itu dijamin dia pasti akan bisa tertidur, walau hanya beralaskan karpet.

> Mengingatkan untuk memakan menu yang sudah disediakan

Saya juga mengingatkan anaknya bahwa saat kegiatan sanlat, waktu makan itu bukan untuk memuaskan selera makan, tapi untuk menghilangkan rasa lapar. Makanannya ga perlu dirasa-rasa, telan aja apa yang sudah disuguhi. Kalau kebetulan menunya sangat disukai, jangan pula perutnya diisi hingga kepenuhan.

Nak bujang sempat mendebat, “kalau ditelan yang ga disukai dan akunya sampai muntah, gimana dong.”

“Jangan sampai muntah lah, kamu kan sudah besar. Sudah bisa memperkirakan kapasitas perut dan kondisi yang memancingnya muntah.”

Nak bujang nyengir karena alasannya mental, “tapi mama kirim makanan ya.”
Saya pun mengangguk.

> Harus cepat menyesuaikan diri dengan jadwal kegiatan

Walau lumayan sering ikut kegiatan camping, mabit, tapi semuanya tak lebih dari dua malam. Mana dia masih suka, “iya, bentar.” Lima belas menit kemudian masih belum melakukan apa yang sudah diiyakan tersebut. Makanya saya juga mengingatkan anaknya agar gerak cepat dalam setiap pergantian kegiatan saat sanlat.

Anak saya malah becanda ngomong ke saya kalau dia ga usah mandi aja selama kegiatan sanlat, karena males berebut kamar mandi. Cukup ganti baju aja, jadi lebih efisien waktu.

Saya sebagai emak tentu saja mendelik mendengar rencananya itu, “kebersihan itu sebagian dari iman.”

Setelah begitu banyak petuah emak, Sabtu ba’da Ashar tanggal 15 Desember 2018, setelah paginya menerima rapor sekolah, ternyata nak bujang sudah janjian sama salah satu temannya dan semangat berangkat sanlat. Alhamdulillah.

Ternyata dia tawar menawar gak ikutan sanlat itu hanya untuk menguji keteguhan hati emaknya. Doh, emak gak boleh kemakan trik anaknya.

Cerita Teman, Jauh Lebih Berpengaruh Daripada Wejangan Emak 😥

Malam harinya, ba’da Isya saat saya mengantarkan camilan, semangat anaknya masih terjaga.

Minggu siang, ba’da Dzuhur, saat ketemu nak bujang ia menunjukkan wajah lelah.

Ternyata dia sudah mendapat info dari beberapa temannya. Temannya ada yang sudah berencana hanya ikutan sanlat sampai Rabu. Ada yang hanya sampai Jum’at. Ada juga yang baru masuk Minggu Malam, selesai Selasa sore. Dan semuanya disetujui sama orangtua temannya.

Dia pun mulai menawar hari keikutan dia di sanlat sama emaknya, “Si Anu ga ikut sanlat sampai selesai lho, Ma. Aku juga ya, satu minggu itu akan terasa lama. Aku susah tidur. Aku ikut sanlat cukup sampai hari Rabu aja ya, Ma.”

Tentu saja emak menggeleng.
Saya mengingatkan bahwa hari pertama itu memang hari penyesuaian.

Ga taunya, ba’da Ashar dia ijin sama ustad untuk ke rumah sebentar, mengambil sajadah yang memang lupa dibawain.

Di rumah, dia kembali menawar jatah hari ikut sanlat. Karena ga boleh lama-lama, dia meminta emaknya setelah Magrib nanti untuk nyamperin dia, dan akan melanjutkan membahas hari dia ikut sanlat.

Kegiatan Pesantren Kilat_YSalma
Dapat hadiah Al-Qur’an dari ustad karena bisa menambah hafalan & selesai jus 30. Semangat lagi yaa.

Menjanjikan Sebuah Hadiah, Masih Sebuah Motivasi Bagi Seorang Anak

Sebagai emak, saya mulai paham, ini anak mulai memanfaatkan situasi di tempat sanlat yang dia lihat agar emaknya memberi penawaran yang menguntungkan dia.

Waktu ba’da Magrib saya samperin, wajahnya sudah terlihat biasa. Tidak memelas seperti tadi siang. Tapi saya ternyata emak yang mudah ‘goyah’oleh anaknya, hiks.

Saya mengatakan sama nak bujang bahwa sebenarnya kalau dia bisa menyelesaikan hari sanlatnya, saya mau nambahin tabungannya untuk membeli apa yang dia rencanakan sebelumnya. Tapi, kalau dia mau pulang hari Rabu, hal itu ga jadi.

Mata nak bujang langsung berbinar, “janji ya, ma. Oke kalau begitu. Aku ikut sanlat sampai selesai deh.”

Emak kemakan sama trik anaknya!

Hari Senin pagi nak bujang malah minta dibawain raket. Walau dalam kondisi berpuasa, dia dan teman-temannya tetap semangat main bulu tangkis. Lah, anaknya dari TK sudah akrab dengan kegiatan sanlat yang jauh lebih ketat, tapi memang senang memanfaatkan kelemahan saya sebagai emaknya.

Sore, waktu mau buka puasa, dia sempat laper rasa.
Dia tetap keukeuh minta dibeliin es kelapa muda.

Padahal, hari itu kelompok emaknya yang kebagian menyediakan konsumsi.

Saya yakinkan bahwa menu buka sudah lebih dari cukup. Menunya dibuatkan makanan kesukaannya.
Walau dikasih tahu tentang hal itu, tetap ga mempan.
Akhirnya, es kelapanya disuruh bawa balik lagi, karena dia kekenyangan 😳 .

Hari berikutnya, nak bujang sudah bisa menyesuaikan diri. Camilan dari rumah juga mulai saya kurangi.

Jum’at pagi, sempat kembali menawar mau pulang hari itu, karena sudah ada beberapa temannya yang balik.

Saya hanya mengingatkan, “Yakin? Ga sayang, udah tanggung lho. Masa mau menyerah pada detik-detik terakhir.”

Buru-buru dia senyum, “ga deh, demi janji, Mama.”

“O, berarti kamu sanlatnya hanya karena mau dikasih hadiah?”

“Ga juga, itu namanya bonus, Ma.”

Namanya anak, giliran mau dikasih hadiah, langsung semangat 😳

Awal Sanlat, Anak Harus Tetap Dipantau

Saya pikir, anak lain yang ikutan sanlat itu baik-baik saja. Tidak seperti nak bujang yang tawar menawar hari saat mau ikut kegiatan sanlat.

Kalau di kegiatan sanlat sekolah sebelumnya yang lebih ketat, pihak sekolah mewanti-wanti orangtua untuk tidak menunjukkan wajah di area pesantren kilat. Jika ada apa-apa, pihak sekolah akan menghubungi.

Karena kegiatan sanlat kali ini tidak ditegaskan bahwa orangtua tidak boleh menjenguk. Lebih tepatnya, orangtua malah ikut terlibat dalam penyediaan konsumsi anak-anak. Maka ada orangtua yang boleh dibilang hampir selalu ada di area kegiatan sanlat.

Sementara saya atau teman hidup tetap memantau kegiatan dari jauh.

Yang namanya anak-anak, jika ada temannya yang dijenguk, dia pasti ngerasa gimana. Apalagi anak-anak tidak diijinkan untuk membawa ponsel.

Orangtua tidak boleh lupa bahwa yang terlihat tegar itu ternyata tetap lah seorang anak-anak:

> Hari kedua, setelah buka, ada beberapa anak yang ternyata minta pulang. Ga mau balik lagi.
> Ada beberapa yang nangis karena ga dijenguk. Ortunya menjadikan sanlat yang seminggu ini untuk uji coba, karena si anak mintanya mau masuk pesantren.
> Ada yang terlihat tenang, tapi tetiba badannya hangat. Akhirnya harus dijamput dan balik ke rumah.

Alhamdulillah, setelah sempat diwarnai tawar menawar hari, dijanjiin hadiah, nak bujang bisa menyelesaikan kegiatan pesantren kilat. Tentunya dengan kondisi badan masih segar bugar. Karena alasan yang dia kemukakan itu hanya karena pengaruh anak lain yang dilihatnya dan untuk menguji emaknya :mrgreen: .

Dia juga memberitahukan bahwa temannya yang hafalannya paling banyak, ternyata menggunakan Al-Quran khusus untuk menghafal.

Saya mengingatkan hal terpenting dari kegiatan sanlatnya itu, “hari-harimu jadi jauh bermanfaatkan. Hafalannya jadi nambah. Kamu tetap baik-baik saja walau tanpa internet dan browsing kan. Kegiatan tanpa internet tetap menarik dan jauh lebih seru.”

Nak bujang hanya senyum-senyum.

Kesimpulan

Yang namanya anak-anak, walau beberapa bulan lagi sudah mau lima belas tahun, tetap aja butuh motivasi berupa hadiah untuk bisa menuntaskan kegiatan terjadwal pada suasana liburan sekolah. Apalagi yang usianya dibawah itu.

Kalau dia anak rumahan, kegiatan sanlat ini memang akan terasa lumayan berat. Perlu penyesuaian dari orangtua. Kalau dia gak dijenguk, sementara ada lain pada dikunjungi orangtua, anak pastinya berpikir orangtua dan saudaranya yang lagi libur pada jalan-jalan kemana tanpa dia. Anak akan merasa diasingkan di hari liburnya. Akhirnya gak menyelesaikan kegiatan.

17 comments

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.