Teman Lama, Sahabat Untuk Menertawakan Masa Lalu


Teman lama merupakan sahabat terbaik untuk menertawakan masa lalu. Itu menurut saya. Kekonyolan masa lalu seperti tergambar kembali di depan mata. Hanya saja, cukup sebatas itu, karena kita hidup di masa sekarang.

Ngobrol Lama Dengan Teman SMP

Dua hari yang lalu, ada nomor tak dikenal masuk. Tumben tangan saya tergerak untuk menjawabnya. Si penelpon memastikan apa yang menjawab telponnya itu saya dengan bertanya, apakah saya SMP nya di daerah yang disebutkannya.

Saya mengiyakan dan bertanya balik, “ma’af, ini dengan siapa?”

Si penelpon mengaku teman sekelas saya waktu SMP.

Saya ga bisa menebak suaranya karena sudah lebih dari puluhan tahun meninggalkan SMP. Sebelum dibilang sombong, saya mengatakan bahwa teman sekelas waktu SMP itu lebih dari 40 orang dan itu sudah lama sekali untuk main tebak-tebakan suara.

Si teman menyebutkan namanya.
Kami pun tertawa.
Kami belum pernah berkomunikasi sebelumnya lewat media sosial manapun.

Saya menebak bahwa si Teman ini pastinya mendapatkan nomer telpon saya dari dua teman SMP yang tinggal di kampung, yang juga dekat dengannya. Kebetulan, waktu pulang kampung kemarin saya dan mereka sempat ngobrol dan menertawakan masa lalu juga, termasuk membahas teman yang menelpon saat ini.

Teman yang menelpon saya ngelesh, dia beralasan “radarnya tinggi”, dia dapat informasi dari orang terpercaya.

Baiklah.

Obrolan lanjut dengan membincangkan masa lalu, masa sekarang dan entah bagaimana nanti masa depan.

Jodohnya Kok Itu, Bukan Sekampung?

Si teman menanyakan hal yang kalau menurut saya itu lebih bersifat pribadi. Tapi saya tahu bahwa dia menanyakan hal tersebut karena dia peduli. Dia ga menyangka jalan hidup saya tidak seperti perkiraannya.

Saya hanya mengatakan bahwa mungkin ini sudah takdir yang harus saya jalani. Saya pun sangat mempercayai si takdir ini setelah menjalaninya.

Jodoh, Tuhan yang tentukan, berusaha wajib, tapi jangan mendahului-Nya. Agar tak ada rasa sesal yang terus menghantui langkah masa depan, hohoho.

Dia pun mengakui bahwa jalan hidupnya juga mengikuti takdir, di luar rencana dan mantan pacar SMP-nya yang kebetulan juga sahabat saya.

Siapa yang menyangka, mereka yang sudah berpacaran dari SMP dan saling mencintai, malah menikah dengan orang lain. Sahabat perempuan saya dijodohkan, teman saya ini menikah dengan wanita yang lidahnya juga ga akrab sama rendang ternyata. Nasib πŸ˜† .

Kami berdua sepertinya harus selalu ingat pendapat orang bijak berikut:

Ada yang saling mencintai, tapi mereka tidak pernah terikat dalam pernikahan.
Ada yang tidak mencintai satu sama lain, tapi mereka terikat pernikahan dan harus menjalani komitmen itu demi keluarga.
Ada yang mencintai dan terikat pernikahan, tapi kemudian cinta lain hadir di tengah pernikahan mereka. Mereka pun memutuskan menyudahi komitmen pernikahan dan melanjutkan dengan orang berbeda.

Manusia hanya berusaha, keputusan akhir tetap Allah yang tentukan. Jalan hidup setelah diusahakan yang terbaik, gak neko-neko, tinggal dijalani.

teman-lama-sahabat-untuk-mentertawakan-masa-lalu

Apa Ga Salah Jadi IRT aja?

Setelah memastikan bahwa saat ini saya hanya jadi ibu rumah tangga saja. Si teman mengungkapkan pendapatnya, apa saya tidak merasa sayang, menyia-nyiakan anugerah cepat menangkap dan memahami pelajaran ketika sekolah dulu. Menurutnya, seharusnya minimal saya menjadi PNS atau tetap bekerja di swasta.

Karena menurut teman saya, jadi ibu rumah tangga itu merupakan kewajiban seorang wanita, bukan sebuah pekerjaan :mrgreen: .

Saya pun menjelaskan pendapat saya pada si teman, bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak semudah yang diucapkannya.

Apalagi bagi saya yang pernah bekerja di perusahaan swasta sebelumnya. Pekerjaan menjadi IRT itu perlu perjuangan dan penyesuain. Bagi saya, lebih mudah jadi wanita pekerja daripada menjalani tetek bengek sebagai IRT sebenarnya πŸ˜† .

Seorang ibu harus smart dan mengikuti perkembangan.

Ibu harus bisa menjawab semua pertanyaan anak-anaknya yang bukanlah pertanyaan remeh-remeh. Jawaban seorang ibu jadi pijakan bagi anaknya dalam menemukan jawaban yang benar.

Seorang IRT harus bisa mengontrol keuangan keluarga, membuat kebutuhan keluarga tercukupi dengan dana tebatas yang dimilikinya. Harus jago menyisiati segala kemungkinan.

Jadi, mau hanya IRT saja atau wanita bekerja di luar rumah, seorang wanita tetap harus belajar untuk menambah pengetahuan, dan itu sebuah keharusan!

Jalan karir apapun yang dipilih setelah menikah tak ada satupun yang sia-sia.

Masih Seperti Dulu, Ngapain Jauh-Jauh Ngerantau?

Si teman yang saya rasa sudah ‘menggosipkan‘ membicarakan saya dengan dua teman yang ada di kampung sebelum menelpon saya, dia juga memastikan apakah badan saya masih kurus, mirip dengan badan waktu SMP dulu.

Kembali saya mengiyakan, ga begitu banyak berubah, hanya mendewasa saja (baca: menua, wkwkwk).

Teman saya memperkirakan, mungkin kulit saya yang lebih bersih.
Saya malah bilang enggak juga, biasa aja. Malah dulu, waktu SMP ketika saya masih belia, kulitnya masih bagus, sekarang udah emak-emak, tau sendiri πŸ˜† .

Teman saya ngakak.

Dia pun menyampaikan pendapatnya, “umumnya perempuan yang sudah melahirkan, ga tahu kenapa, biasanya badannya langsung melar. Kau pulang kampung dengan badan masih kurus begitu, pastinya dibilang kau masih banyak pikiran. Hidup kau susah. Kalau badan tak berisi, ngapain pula kau repot-repot jauh ngerantau, hidup di kampung saja lah.”

Saya pun mengiyakan pendapatnya, karena memang setiap saya pulang kampung selalu mendapat pertanyaan seperti itu, “kenapa badannya ga gemuk-gemuk?”

Biasanya jawaban yang saya berikan selalu senyum dan dalam hati ditambahkan, “saya ga pernah merasa bermasalah dengan badan kurus ini. Malah begitu badan nambah dikit, terasa berat dan begah, karena tidak terbiasa. Yang penting sehat, itu udah Alhamdulillah banget.”

Jangan Nilai Dirimu Terlalu Tinggi!

Setelah ngobrol dan tertawa satu jam lebih, teman saya menyimpulkan tentang gambaran sosok saya yang sekarang, “rambutnya masih sama, kurusnya masih sama, berarti culunnya juga masih sama, hahaha.”

Saya tentu saja protes, “Apa?! Aku kau bilang culun?”

Dengan nyantainya si teman bilang, “iya, waktu SMP kau itu menurutku culun. Tapi kau pintar, jadi terlihat agak angkuh dikit juga. Aku pun segan mau ganggu dan jailin kau. Makanya kau ga akrab sama geng aku. Rambut keriting, badan kurus, kulit lebih bersih dibanding yang lain, tas selempang atau tas segiempat kain, pakai sepatu kets, jalan bersama seorang teman dengan cuek di tengah gerombolan heboh lainnya. Asli, culun kali kau itu waktu SMP”

Saya tentu saja protes, “aku itu pendiam, ga heboh kayak kalian-kalian. Bukan pula angkuh. Kau ga berani jahilin aku, karena kakak perempuan kau kenal baik sama aku. Kau takut ku laporin ke dia. Tapi, geng ‘nakal’ kalian itu semuanya aku tahu dan aku pernah ke rumahnya. Bagaimana pula aku bakal nyampai ke rumah kalian kalau angkuh dan ga akrab sama kalian. Kalau kalian bermasalah dengan guru, itu soal lain. Aku ga mau ikutan. Kalian udah sibuk pacaran waktu SMP, aku jadi anak bawang kalian. Biar aman pacaran setelah pulang sekolah, aku pun kalian ajak. Guru dan orang tua kalian hanya percaya padaku kan πŸ˜› “

Si teman pun tertawa ngakak, “iya juga. Tapi bagiku, kau itu dulu tetap culun πŸ˜† “

Aih, mak. Saya itu dulu merasa ‘cool‘ aja.
Eh, ternyata dalam pandangan teman, saya dibilang culun πŸ˜† .
YSalma, kau menilai dirimu terlalu tinggi ternyata 😳 .

Anak SMP Dulu, Sopan Pada Guru

Si teman memberitahukan bahwa waktu dia pulang kampung, dia sempat bertemu salah satu guru kami. Si guru pun curhat bahwa anak SMP jaman kami dulu lebih sopan dibandingkan murid SMP zaman sekarang, khususnya di almamater kami.

Angkatan kami dulu memang nakal. Menjahili guru baru dengan berisik atau bertanya aneh-aneh sampi si guru naik pitam, hilang kesabaran. Tapi, jika di luar lingkungan sekolah kami sangat menghargai guru.

Baca juga cerita kenakalan anak SMP dulu.

Jika naik kendaraan yang emang jarang-jarang adanya waktu itu, kami pastinya mempersilahkan bapak/ibu guru untuk duduk. Anak-anak sekarang, gurunya mau duduk apa enggak di bus, mereka cuek aja, yang penting mereka duduk.

Obrolan pun kami tutup dengan mengatakan bahwa sekarang kami hanya bisa sesekali bertukar kabar. Dan berharap generasi penerus jauh lebih baik dari orangtuanya. Kami pun saling berkirim salam pada pasangan hidup masing-masing.

Kalau sahabat, kapan terakhir mentertawakan masa lalu dengan teman lama? Hmmm,, mungkin saat reunian ya. Atau malah ada temannya yang jaim hingga sekarang?

Iklan

24 comments

  1. Saya malah lebih akrab dengan teman STM. Dan emang bener kalau temen STM itu bakal awet sampe lama, hahaha.. Kami masih terhitung kompak dengan temen-temen STM, terutama sekelas. Dan jadinya, lebih banyak menertawakan jaman-jaman STM hahaha..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Baca postingan ini bener2 feelnya berasa kayak lagi ngalamin nostalgia beneran πŸ™‚
    Semoga kelak di masa depan bisa bertemu kembali dengan teman lama πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb mbak Ysalma…

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
    Laailaahaillahu waAllahu Akbar
    Allahu Akbar walillahilhamd.

    Selamat Menyambut Aidil Adha 1437 Hijriyyah. Semoga takbir yang bergema membawa seribu keberkatan bersama-sama erti pengorbanan sebenar.

    Salam Aidil Adha, maaf zahir dan bathin dari Sarikei, Sarawak.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Benar mbak, apabila bertemu teman lama seuniversiti dan sekolah menengah dahulu, terasa masa terlalu singkat untuk berbicara dan mengingatkan kisah lama. Asyik ya.

    Disukai oleh 1 orang

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.