Gigitan Lintah, Membuat Kaki Bernanah?


Gigitan Lintah, Membuat Kaki Bernanah? Lama ga posting, setelah menuliskan tekad akan tetap semangat mengurus blog ini, eh, nongol-nongol dengan judul tulisan aneh begitu πŸ˜› . Tapi, harus dituliskan, karena ini termasuk catatan penting tentang pertumbuhan anaknya.

Hmm,,, *benerin duduk, renggangkan tangan, siap mengetik*.

Jadi begini, sekitar awal Februari 2016 ini, tepatnya hari Selasa tanggal 2, Junior ada kegiatan sekolah (service learning) di daerah Karawang, menginap 2 malam di rumah penduduk. Nama tepat dari desanya, saya lupa :mrgreen: .

Anak laki-laki dan perempuan menempati rumah yang terpisah, dan diawasi oleh guru masing-masing.

Di sana, mereka juga ada kegiatan ke sawah-sawah gitu. Namanya anak-anak, pasti bakal seru belepotan lumpur. Mereka pun digiring mandi ke sungai yang ada di desa itu.

Junior saya sangat menyukai kegiatan seperti itu. Maklum, dari kecil sudah terbiasa diajak bermain menyusuri pematang sawah.

Antusiasnya dia bisa dilihat dari laporannya ketika pulang pada hari Kamis, 4 Februari.

Dengan mata terlihat mengantuk, tapi ekspresi wajah sangat senang telah berhasil melalui semua rangkaian kegiatan yang barusan selesai dilakukan.

Ceritanya, “batu di sungainya bagus, air sungainya juga segar. Tapi,, aku digigit lintah. Ga apa-apa kok, hanya luka sedikit. Teman-teman ku juga banyak yang digigit. Kapan-kapan kita kesana yuk, Mam. Sungainya beda dengan sungai yang ada di kampung nenek, atau sungai di kampung papa. Sungai yang ini lebih seru”, sambil memperlihatkan luka kecil pada kakinya yang katanya digigit lintah itu.

Ia juga menambahkan kalau saat ini, area pada bekas gigitan itu terasa gatal.

Saya menanyakan, apa gurunya tau kalau dia digigit lintah.

Dia bilang, guru yang mendampingi kelompoknya sih tau. Tapi, ga diobati, karena dianggap biasa. Sama seperti dia, anak-anak lain yang digigit juga tidak ada yang mengeluh.

Saya berpikir, mungkin sekarang gatal karena mandi si junior masih kurang bersih.

Saya lihat memang hanya luka bintik kecil biasa.

Junior pun saya suruh mandi .

Awalnya dia menolak, karena merasa di sana sudah mandi. Saya tetap memaksanya.

Selesai mandi, lukanya saya bersihkan pakai air hangat.

Setelah diperhatikan secara teliti, ternyata disekitaran luka tersebut, ada bintik-bintik kecil. Bintik-bintik pada kulit mirip seperti kita kalau lagi merinding.

Area luka itu tak kasih obat yang biasa dipakaikan ke luka. Anaknya juga saya suruh minum Habat.

Saya perhatikan lagi, itu anak ternyata jalannya juga agak pincang.

Emaknya tentu nyinyir bertanya, “kakinya kenapa? keseleo ato gimana? Kok gak diceritain.”

Barulah dia perlihatkan telapak kakinya yang ternyata juga luka. Entah ketusuk kayu, atau batu yang runcing. Ada sisa ujung benda yang melukai telapak itu yang masih tertinggal.

Luka kecil di telapak kakinya itu yang justru terlihat sudah memerah, dan dekat lukanya juga sudah mulai bernanah.

Lukanya saya bersihkan, tapi, ‘benda’ yang masuk ke kulit telapak kakinya, saya tak berani mengeluarkannya.

Saya tawarkan anaknya untuk ke dokter.

Anaknya menanyakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh dokter.

Saya sebagai emak juga terlalu jujur memberikan gambaran tindakan pada anaknya, “paling ‘dibuka sedikit’ kulit telapaknya, untuk mengambil benda yang menusuk itu”.

Junior langsung menolak.

Saya pun tak memaksa, karena badannya tidak panas. Secara umum, lukanya tidak terlalu serius bagi saya yang sewaktu kecil terbiasa dengan luka seperti itu 😳 .

Saya coba berpikir positif, setelah diberi obat, itu nanahnya pasti kering, dan benda yang hanya pada kulit telapak kaki itu, tidak masuk ke daging, akan bisa diambil dengan mudah.

Sebelumnya, tentu saya pastikan lagi, dia lukanya kapan, badannya sempat meriang ga.

Junior menggeleng, “biasa aja. Hanya kalau dibuat menapak agak sakit.”

Ternyata, tertusuk di telapak kaki dan digigit lintah itu terjadi pada hari Rabu.

Saya sebenarnya tidak mencemaskan luka yang digigit lintah, justru agak sedikit khawatir dengan luka yang ditelapak kakinya.

Takut infeksi berlanjut.

Bisul Karena Digigit Lintah
Ini udah mulai kering. Kulit yang ‘menghitam’ juga udah hilang.

Setelah diobati, dia main game, kemudian tertidur.

Begitu bangun, dia merasa telapak kakinya sudah ga sakit buat menapak. Dugaan saya benar, itu luka hanya karena tidak dapat pertolongan pertama saja.

Aman.

Besoknya, bintik-bintik kecil yang disekitar gigitan lintah, semakin banyak dan jelas terlihat.

Area disekitarnya, kira-kira seluas telapak tangan, seperti berwarna hitam keunguan.

Sabtunya, bintik-bintik itu berubah bentuk, berisi cairan putih kayak nanah.
Minggunya, bintik-bintiknya makin melebar.

Badan anaknya ga apa-apa, ga panas, ga pusing.
Dia tetap keukeuh gak mau dibawa ke dokter. *selama ini, dia akan merasa gak enak badan, kalau suhu badannya panas. Selagi suhu badan adem. Semua baik-abaik saja*.

Melihat kondisi area gigitan saat ini, reaksinya setelah tiga hari dari gigitan binatang tersebut.

Tetangga yang kerja di apotek menyarankan memberi salap, dengan merekomendasikan mereknya .

Saya juga membersihkan lukanya yang sudah bernanah itu dengan larutan NaCl 0,9 % yang dibeli di apotik.

Luka tertusuk di telapak kaki udah sembuh.

Tapi, luka bekas gigitan lintah, yang awalnya hanya bintik kecil, kakinya jadi penuh benjolan berisi nanah.

Saya yang membersihkan, mulai mencium bau tidak sedap.

Anaknya tetap aja nyantai, yakin kalau lukanya akan kering nantinya, kan diobati mamanya dengan penuh kasih sayang πŸ˜› .

Sementara emaknya, sudah berpikiran macam-macam, “apa ini anak kena gula, secara badannya subur. Mana sudah kelas 6, sudah ga masuk sekolah selama 3 hari”.

Ini anak harus ke dokter.

Dia tetap ga mau ke dokter dengan alasanΒ  ga mau disuntik.

Saya bingung, ini anak kan jarang sakit, ga pernah disuntik *kecuali dulu imunisasi*. Sakitnya, paling badannya angat karena kecape-an aja, yang bisa ditangani oleh emaknya dengan dikompres, plus kasih makan kesukannya. Kenapa dia jadi takut di suntik?

Ternyata, setelah saya tanya dari hati ke hati, dia ingat sakitnya disuntik saat khitan.

Alamak, itu kan sudah 3 tahun yang lalu ❓ .

Setelah dibujuk, ga bakal disuntik, tepatnya satu minggu sejak dia digigit lintah, akhirnya ia mau juga.

Dokter yang melihat kakinya yang sudah bernanah, tentu saja komplain.

Kata si dokter, itu bisa semacam ‘rabies‘. Dia coba obat dengan dosis rendah dulu, kalo dalam tiga hari ga sembuh, berarti ada ‘cacing’ yang masuk ke aliran darah.

Tapi si dokter juga bingung, dan ga yakin, “kalau ada cacing seperti itu, ini anak seharusnya demam, merasa pusing, dan mual-mual”.

Akhirnya, si dokter pesan ke anaknya, jangan makan ikan, telur, kacang, dan makanan ringan yang berasa gurih-gurih gitu dulu.

Si dokter pesan ke emaknya, pakaian anaknya, saat mencuci, harus dipisah, dibilas air panas terlebih dulu.

Wew, emaknya jadi merinding, sambil berdoa anaknya ga apa-apa.

Saat ngasih resep salep, dokter mau memberikan salap yang sebelumnya sudah saya pakaikan pada anaknya *salep dari informasi tetangga yang kerja di apotek*. Salep murah meriah. Saya agak lega dikit, berarti ga salah kasih salep sebelumnya.

Akhirnya, Si dokter kemudian ganti dengan salep yang berbentuk gel.

Sebelum diolesi, saya tetap boleh membersihkan dengan larutan NaCl 0,9%.

Alhamdulillah, setelah tiga hari, semua nanahnya mengering.
Dan benar-benar hanya tinggal bekasnya saja, setelah 2 minggu dari kejadian.

Herannya, anak-anak lain yang katanya juga digigit lintah, baik-baik saja. Mungkin pengaruh reaksi tubuh berbeda-beda.

Pesan moralnya:

Jika luka karena digigit binatang, dan emak tidak menyaksikannya langsung. Cepat ambil tindakan medis. Jangan tunggu sampai bernanah! Anaknya ga mau, orangtua harus buat si anak mau.

Karena, ada juga bekas gigitan binatang, darah tempat digigit itu harus dikeluarkan. Reaksinya memang tidak langsung, akan tetapi tiga hari setelah digigit. Takutnya lagi, ada virus rabies atau tetanus yang menyertainya. Maklum, anak sekarang imunnya sepertinya jauh lebih rentan, atau memang jenis penyakit yang semakin bertambah?

***
Tulisan ini hanya sekedar catatan harian emak dan anaknya.

Happy Blogging πŸ™‚ .

Iklan

30 comments

    • Efek sudah digigitnya yg parah Un,
      Kata anaknya sih lintah, lha orang lintah dipake buat terapi, makanya agak bingung. Kayaknya digigit binatang beracun.
      Alhamdulillah, untung cowok, kalo cewek, gini hari kakinya bekas ada ‘korengan’ kan nanti jadi tengsin sendiri πŸ™‚

  1. Iya benar luka seperti apapun harus segera diberikan pengobatan. Takutnya terjadi infeksi. Alhamdulillah luka si junior sudah sembuh πŸ™‚

  2. serem juga ya kak gigitannya, padahal kirain lintah tu bagus buat kesehatan. konon katany kalau digigit lintah dibiarin sampai dia kenyang. tapi gak tw mitos atau tidak. untung udah sehat ya kka

    • Entah lintah, entah digigit apa, anaknya taunya dibilang gurunya lintah. Mungkin reaksi orang beda2 terhadap gigitannya Win. Bisa juga krn bekas gigitannya ga langsung dibersihkan. Anaknya cuek, guru jg banyak tanggung jawabnya. Nyampe rumah, sy jg antisipasinya kurang maksimal.

  3. Wah terima kasih infonya nih …
    ini bisa menjadi perhatian kita semua …
    mungkin tidak semua lintah mempunyai efek seperti itu … namun yang namanya di lapangan apapun bisa terjadi …

    Sekali lagi terima kasih Bu
    Semoga kita semua sehat-sehat saja

    Salam saya

    • Sangat serem ngelihatnya, apalagi saat semua kulit disekitar luka itu menghitam.
      Enggak panas sih, Dah. Iya, terapi lintah memang ada, mungkin jenis lintahnya yang beda. Entah apa yang gigit anak ini.

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.